Kepolisian Kota Banda Aceh, menangkap tujuh terduga pekerja seks komersial (PKS). Mereka merupakan mahasiswi disejumlah universitas dan perguruan tinggi di Kota Banda Aceh yang memasang tarif Rp 2 Juta untuk sekali kencan.
Ketujuh terduga masing masing, AYU tahun, RM, 23 tahun, CA, 24 tahun, DS, 24 tahun, RR, 21 tahun, MU, 23 tahun dan IZ, 23 tahun dan MU, 23 tahun. Kapolresta Banda Aceh Ajun Komisari Besar Polisi Trisno Riyanto mengatakan ketujuh mahasiswi ditangkap sekira pukul 23.00 WIB, Rabu 22 Maret 2018 di salah satu hotel berbintang di Banda Aceh.
"Ada petugas yang kita tugaskan menyamar sebagai pemesan PSK. Itu dilakukan setelah menerima informasi masyarakat. Dia (petugas) ini yang kemudian berkomunikasi dengan MRS yang merupakan muncikari dari ke 7 mahasiswi ini. Komunikasi dengan MRS dilakukan lewat WhatsApp." kata Trisno saat konfrensi pers di Mapolresta Banda Aceh, Jumat 23 Maret 2018.
Menurut Trisno, setelah proses komunikasi panjang, petugas akhirnya berhasil meyakinkan muncikari tersebut. MRS yang juga mahasiswa akhirnya mengirim foto AYU dan CA, dua PSK yang dipesan.
"Karena sudah cocok, termasuk tarifnya, transaksi akhirnya disepakati di salah satu hotel di Aceh Besar," ujar Trisno.
Trisno mengatakan MRS ditangkap dilokasi parkir salah satu hotel di Aceh Besar, usai menerima uang sebesar Rp 4 juta sebagai tarif untuk 2 orang PSK yang dipesan petugas, yakni AYU dan CA. Sedang AYU dan CA diamankan di kamar hotel usai diantar oleh MRS.
"Mereka memasang tarif Rp 2 juta untuk sekali kencan. Dari 8 orang yang ditangkap MRS dan AYU akan kita tahan sedang yang lainnya akan diserahkan kepada keluarga untuk dibina. Semua terduga masih kita periksa," kata Trisno.
Menurut Kapolresta, MRS memasang tarif Rp 2 juta untuk semua terduga mahasiswa yang dijajakannya. MRS menggunakan aplikasi whatsapp untuk menawarkan PSK kepada pria hidung belang yang membutuhkan jasannya.
"Bisnis ini sudah 2 tahun dijalani MRS. Perempuan yang kita amankan ini semuannya mahasiswa dan merupakan jaringan MRS. Foto-foto mereka dikirim ke pengguna jasa lewat aplikasi Whatsapp. Tidak ada yang dipaksa MRS, tapi memang kemauan mereka dan alasannya beragam, salah satunya tuntutan gaya hidup dan mencukupi biaya hidup di rantau," kata Trisno.
Pantauan KBA, seluruh terduga yang dihadirkan dalam konfrensi pers, mengenakan topeng dan penutup mulut. Sejak pertama dihadirkan hingga konfrensi pers selesai, seluruhnya tampak berupaya menghindari kamera wartawan yang mengarah ke wajah mereka.
Reference : http://www.kba.one/news/alasan-gaya-mahasiswi-di-banda-aceh-rela-jadi-psk/index.html