Oleh: Jufrizal.
Aku tidak menulis pembahasan ini, saat selera makanku hilang malam itu. Harus diakui, selera makanan seseorang berbeda-beda. Ketika aku menyajikan kari kambing yang gurih di lidahku, kali saja karinya terasa hambar di lidah kau.
Tapi kau tidak dapat menjelaskan bumbu apa yang kurang atau berlebih. Ada dua syarat sederhana bila kau ingin kari kambing yang gurih: mulanya kau harus bisa memasak dan tahu selera kau sendiri.
Aku tahu banyak, dari kalian punya selera rasa: pedas, manis, asin, pahit, dan asam. Intinya sebagian dari rasa tersebut, membuat tabiat selera rasa aku dan kau punya kesamaan. Lantas, satu diantara kita lainnya akan tidak menyukai tabiat selera rasa itu.
Dalam kaitan selera masakan dengan selera gaya penulisan, dua persoalan ini sama saja. “Aku pingin bilang: Mulanya kau harus bisa menulis, dan tahu selera gaya bahasa kau sendiri. Orang akan makin pandai menulis, jika ia telah mendapatkan gaya bahasanya.
Sederhana sekali.
Dalam setiap diskusi jurnalisme. Seorang peserta bertanya: Bagaimana gaya bahasa penulisan feature?
Dari sekian banyak jawaban, aku lebih gampangnya bertanya kembali: Kau mengerti karya jurnalistik feature? Ia menjawab: Mengerti. Barusan aku bilang kalau kau mengerti dan paham menulis feature — jadi pembahasan gaya bahasa telah tuntas, ikuti saja seleramu sendiri.
Aku cuma berupaya mengajak berpikir ulang soal bagaimana bisa menulis yang menarik sekaligus mendalam, jika pekara selera rasa selalu menjadi perdebatan-perdebatan dalam menentukan gaya penulisannya.
Lebih baik kau tulis menurut selera. Kalau kau mau karya feature itu “hidup”, kau harus benar-benar punya kreativitas. Tidak seperti menulis karya jurnalistik lain, feature memungkinkan penulis “menciptakan” sebuah cerita. Memang ia masih diikat etika tulisan harus akurat.
Pantau dan situs berita Acehfeature mungkin termasuk portal berita pertama di Indonesia yang memakai gaya cerita bertutur penulisan paling memikat dengan bumbu sastrawi.
Linda Christanty, mantan pimpinan redaksiku di kantor berita Acehfeature, mengatakan pada aku, menulis feature butuh kreativitas dari penulis itu sendiri, bukan dari editor. Seingatku saat rapat redaksi di kantor, ia hampir tak pernah menyinggung soal gaya penulisan. Ia cuma berpesan, gunakan semua panca indra kalian saat menulis. Aku mengangguk-angguk.
Sekarang mari kita lanjutkan, yang membuat feature itu punya “kehidupan”. Kau harus memberikan sentuhan human interes. Maksudku, memberikan ruang kepada penulis untuk melibatkan sisi manusia atau keterlibatan emosional dari para narasumber.
Lebih baik lagi kau juga mesti informatif dalam menyajikan feature. Informatif bisa diterjemahkan akibat suatu kejadian atau peristiwa, dengan memusatkan perhatian pada proses sebab akibat dari narasumber untuk menciptakan sebuah perubahan.
Bagaimana menulis di Steemit?
Itu pertanyaan yang sering saya dapatkan dari beberapa akun Steemit dan ia pun menjabarkannya jawaban sendiri lewat blognya.
Di Steemit, aku dan kau sekalipun adalah penulis sekaligus editor.
Menurutku dinamika gaya penulisan di Steemit tak menarik dan sepelik dinamika produk jurnalistik. Sangat keliru, jika ada beranggapan Steemit adalah bagian dari produk jurnalisme. Satu kunci, aku berani katakan seperti itu: Di Steemit, kau bisa menulis asal-asalan.
Acara-acara Meet Up komunitas Steemit menarik diikuti, Materi tetap berhubungan dengan struktur menulis cerita yang menarik dan sebagainya. Intinya agar sukses di Steemit.
Dan aku tak sepenuhnya sepakat ketika bicara soal dinamika penulisan di Steemit.
Bagi yang kusyuk mengikuti acara itu, lantas jangan kecewa ketika konten-konten yang menurut kau sudah berkualitas tak menghasilkan reward atau penghargaan dari pengguna lain. Hanya sebagian kecil alasan, yang bikin satu, dua orang memberikan vote untuk tulisan mu itu: Kenalan, atau merasa kasihan.
Tak salah ada sebagai orang terbisik dalam hati dengan kalimat: Omong Kosong Meet Up Steemit.
Sebetulnya solusi untuk mendapatkan reward di Steemit adalah berinvestasi steem di steem power.
Itulah inti dari sesi pembahasan artikel ini. Aku harap ini membantu kau memahaminya. Terima kasih kau sudah rela sedia mata melototin layar leptop atau telepon seluler anda untuk membaca ocehan ini.
Jikapun, kalau kau mau menulis serius dan tak asal-asalan hanya ada dua syarat sederhana saja: Kau harus menulis sependek apapun kalimat, dan Kau harus punya selera sendiri saat menulis.