Seorang teman bertanya, kalau jadi Kurator di Steemit, kamu akan bagaimana? Saya balas tanya, bagaimana apanya? Dia jelaskan, bagaimana kamu menjalankan tugasmu, Za? Saya bilang, saya tidak punya bayangan untuk suatu hal yang tidak saya rencanakan. Teman itu diam. Saya diam.
Teman yang bertanya itu mungkin ingin memberikan lagi pertanyaan. Tapi mungkin tidak berani. Saya jelaskan saja di sini sehingga dia bisa membaca dan yang lain juga bisa tahu alasannya. Saya akan mulai dari ucapan, "tidak saya rencanakan". Saya punya alasan.
Jujur saja, terkadang saya merasa diri saya belum cukup baik dan belum cukup sabar untuk menghadapi banyak dakwaan. Saya melihat bagaimana sejumlah Steemian seolah telah menjadi hakim atas gerak kerja kurator. Benar-benar kelewatan, kukira. Steemian yang macam ini agaknya bukanlah seorang kreator konten, mereka tak lebih dari pengejar dolar yang lekas putus asa.
Mungkin dikira dengan menjadi Steemian mereka bisa cepat kaya. Bikin konten, post, simsalabim, satu juta. Diulang, simsalabim, dua juta. Oh, Rabbana! Siapa yang telah mengajak anak-anak alay itu kemari? Hihihi
Perilaku menghakimi makin ke sini makin parah. Misal tidak dapat vote besar, mereka hujat kurator. Jika melihat temannya yang dirasa tidak layak justru mendapat vote besar, dia salahkan kurator. Dia tak dapat informasi, salahkan kurator. Dia tidak tergabung ke grup, salah kurator. What the... sungguh kalau saya jadi kurator, Steemian-steemian macam ini sudah saya flag.
Beruntung saya bukan kurator, jadi saya tidak punya cukup daya untuk menghantam akun-akun putus asa seperti itu. Dan saya juga bebas vote atau tidak punya siapa saja. Kalian mungkin berpikir saya menulis ini sebagai pembelaan terhadap kurator agar dapat vote besar. Uhuhuhu, salah besar. Tak ada untungnya membela seorang yang sudah besar. Dan untuk jumlah vote, meski kenal baik dan berteman, tetap saja jumlah vote pada postingan saya standar, tidak berlebihan. Itu bukti kepada kalian bahwa kurator tidak hanya mem-vote teman.
Begitulah, temanku, itulah mengapa saya tak membuat rencana akan jadi kurator pada suatu ketika nanti. Saya tidak sabaran. Takutnya kalau saya jadi kurator, malah banyak akun yang harus dibuat ulang.