Hidup ditengah-tengah perkebunan kopi, saya masih teringat bagaimana cara seorang kakek membesarkan saya dilingkungan yang mungkin saat ini dianggap keras. Tidak ada hari tanpa menjejaki rerumputan yang tingginya selutut jika ukuran orang dewasa.
Hari ini adalah pertama kalinya saya datang untuk melihat lingkungan yang pernah membesarkan saya sejak 5 tahun bahkan hampir 6 tahun terakhir. Tidak banyak berubah, hanya saja tulisan di dinding sekarang yang tampak bertambah coretanya (angka menghitung jumlah banyak kopi yang dipanen ditulis dengan arang), ditambah gubuk yang tepatnya di tengah-tengah kebun semakin rapuh, wajar usianya sudah lebih tiga puluh tahun.
Disinilah seorang kakek yang berjuang untuk sampai hidup hingga saat ini dengan hasil anak beserta cucunya dapat merasakan kehidupan yang sejahtera dan alhamdulillah dari segi ekonomi keluarga juga bisa dibilang mampu (bisa makan dan minum kemudian mempunyai setapak rumah pribadi).
Saat itu peran seorang keluarga sangatlah tinggi, jangankan beranjak ke kebun, pergi untuk membeli bekal di desa tetangga aja mungkin tidak berani, namun tepat di kaki gunung kami bisa bertahan tanpa ada kejadian yang merenggut nyawa dan saya sangat bersyukur hingga saat ini (saat itu kondisi sedang konflik).
Teringat dimana kakek pada saat itu dibayang-bayangi oleh hasutan seorang yang kaya pada saat itu untuk menjual kebun. Hampir saja kakek menjual itu kebun karena banyak faktor yang menjadi olah pikir saat itu, yang pertama jarak kebun dari rumah lumayan jauh dan lokasinya tepat di kaki gunung, kedua alat transportasi juga saat itu susah dan yang terakhir kondisi dari konflik itu tadi.
Namun begitulah cara pemikiran orang dahulu, mereka berbikir bukan untuk setahun atau dua tahun kedepan. Namun iya mampu memikirkan bagaimana jika ia menjual saat itu bagaimanakah kondisi saat ini dari sudut pandang kelangsungan hidup keluarga. Kakek mampu mempertahankan kebun tersebut hingga saat ini.
Rasa syukur yang sangat luar biasa, namun saat ini lahan perkebunan sangatlah mahal, banyak masyarakat daerah dataran tinggi Gayo menjual lahan hanya tergiur dengan perkembangan jaman yang sifatnya sementara saja.