Rekam steemian semuanya. Tatkala melihat gambar yang saya tampilkan di atas, saya yakin teman-teman, menafsirkan dengan bermacam macam eksperimen mengenai topik atau objek foto yang saya tampilkan. Cuma di sini saya ingin menegaskan bahwa, saya bukan sedang membuka lapak untuk menjual barang bekas. Tidak pula sedang mencari perhatian dengan sepatu jelek saya, yang setiap harinya, dengan setia menemani saya ke kantor, atau kemanapun saya pergi.
Unit Terbawah Dalam Satu Organisasi
Bila kita melihat posisi sepatu, benda tersebut berada pada posisi terbawah untuk sebuah organisasi. Katakanlah begitu, karena ianya lapisan tera sebelum kita memijak bumi.
Selalu Setia dan Tak Pernah Protes
Sampai kapanpun, posisi sepatu akan selalu berada pada posisinya, selalu setia dengan tugas dan tanggung jawabnya, dan tak pernah berharap suatu ketika posisi nya berubah. Posisinya baru berubah tatkala pemakainya sedang sakit, pemiliknya sakit jiwa saat itulah kita melihat ada orang yang memakai sepatu di kepala. Tak berubahnya fungsi sepatu sebagai alas kaki itu bukan kutukan, karena memang sudah begitu kodrat alamnya.
Tak Seiring Tapi Satu Tujuan
Sepasang sepatu itu jumlahnya dua, keduanya hanya kompak pada saat tak di gunakan, arty diletakkan oleh sipemilik berjajar, tak ada yang di lebihkan maupun di kurangi, Namun pada saat berjalan keduanya tak pernah kompak, tak pernah beriringan, tak pernah selangkah. Coba bayangkan bagaimana cara kerja sepasang sepatu, satu melangkahkan kedepan, satunya tertinggal di belakang, begitu seterusnya, di saat mareka melaksanakan misi, tetapi kedua mempunyai tujuan dan misi yang sama. Yaitu mengantarkan pemiliknya ketempat tujuan.
Analogi Sepatu dalam Kehidupan Kita
Idealnya sebuah sepatu itu sepasang, yang satunya tak ada maka satunya lagi tak bisa di gunakan. Jarang jarang kita melihat ada orang menggunakan sepatu sebelah kakinya, tetap keduanya digunakan secara bersamaan. Begitu halnya dengan kita, kita pada prinsipnya memang harus berdampingan dengan manusia lainnya, karena kita sebagai makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri, tetapi harus berinteraksi dengan manusia lainnya. Namun kadangkala kebersamaan tersebut tak diperlukan tatkala melakukan sesuatu yang sifatnya pribadi, barangkali kita harus jalan sendiri sendiri, tak mungkin selamanya bersamaan. Ada kalanya kita berjalan sendiri mendahului yang lainnya, biarpun nantinya kita yang didahului.
Kesimpulan
Analogi ataupun filosofi sepatu, dalam kehidupan kita beberapa hal yang disimpulkan di tinjau dari baik buruknya.
- Sisi Negatif, bahwa prinsip sepatu itu stagnan, selalu dalam keadaan yang sama untuk selamanya, tak ada perubahan serta kemajuan, sehingga membuat kita akan kehilangan semangat hidup untuk berjuang dan terus berjuang.
- Sisi Positif, bahwa dalam proses pelaksanaan kedua sepatu itu, selalu mendahului antara satu dengan lainnya, ini sebagai pembelajaran bagi kita untuk terus semangat. Kondisi tersebut mengajarkan kita adakalanya kita berada di depan, suatu ketika berada di belakang. Dan itu merupakan hal yang lumrah, tak membuat kita lemah apalagi putus asa.
Pada prinsipnya apapun yang kita temukan di dunia ini adalah ilmu pengetahuan atau inspirasi, barangkali kita saja yang tak memahaminya.
Thanks yang sebesar besarnya untuk rekan rekan #EFA atas support dan dukungan kalian semuanya, yang terus memberikan inspirasi bagi saya untuk terus menulis. Khususnya ,
,
,
,
,
, dan lain lain yang tak mungkin disebutkan satu persatu. Pokoknya seluruh tim #EFA sukses selalu buat kalian.