Assalamualaikum wr.wb.
Sahabat steemiat semuanya.
Aceh merupakan salah daerah yang sangat terkenal dengan keindahan alamnya, dan menjadi sentral produksi biji kopi kelas dunia yang sangat di incar sebagai komiditas ekspor. Aceh terkenal bukan hanya dari sektor pertanian kopi arabika saja, tetap juga di kenal sebagai kota seribu kedai warkop. Coba anda perhatikan, 50 meter melangkah di pusat kota sudah ada satu warkop begitu seterusnya, jadi tak mengherankan bila warkop aceh menjadi satu tempat usaha yang sangat menjanjikan untuk pengembangan ekonomi produktif. Karena kami melihat sektor warkoplah saat ini yang menjadi salah satu sebagai tempat yang tak pernah sepi pengunjung.
Menyikapi hal tersebut, saya ingin merangkum sebuah tulisan. dimana tulisan tersebut lahir lahir begitu saja, menyikapi situasi yang ada di sekitar kita. hal tersebut wajar saja, karena sayapun sebenarnya hampir setiap hari menghabiskan waktu saya di warkop. jadi fenomena fenomena yang ada di warkop terus menjadi perhatian dan pertanyaan saya. Yaitu adanya anak-anak sekolah yang ikut nimbrung sampai larut di warkop. Sebuah bukti perilaku tak wajar anak usia belajar nongkrong di warkop, warnet sampai larut malam, fenomena sosial tersebut juga tejadi dengan sendirinya, tak ada lagi yang perduli masing-masing punya kesibukan sendiri. Keadaan tersebut kerap kita dapati keseharian kita, terlebih di hari libur.
Apa Yang Mareka Cari
Warung kopi di Aceh luar biasa jumlahnya, sehingga wajar saja bila daerah ini dijuluki kota seribu warkop. Keberadaan anak anak di warung kopi, sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar bagiku..! Sebenarnya apa yang mareka cari di warkop-warkop tesebut saban hari, tugas sekolah kah, atau ada kegiatan extra kurikuler lainnya yang di bebankan oleh guru mareka. sehingga mareka harus mencari bahan untuk menyelesaikan tugas tugas tersebut di internet. jikapun ada saya meyakini, bahwa tak mungkin setiap harinya ada tugas yang sama yang diberikan oleh guru mareka.
Kurangnya Pengawasan Orang Tua
Remaja dengan bebasnya berkeliaran, kadang-kadang di tengah jam belajar sedang berlangsung menjadi bukti, kurangnya pengawasan kita kepada mareka. mareka dengan bebasnya bolos dan berkeliaran di jam belajar. Disini sepertinya saya sepekat menyalahkan guru mareka, dan terkhusus orang tua mareka, yang tak merespon setiap laporan yang di sampaikan oleh guru mareka, atau tak pernah mananyaka, kepada guru mareka, terhadap prose belajar sang anak. Jadi hal-hal seperti ini mestinya tak terjadi, bila ada komonikasi yang baik antara orang tua dengan gurunya, oleh karenanya sudah semestinya ini menjadi perhatian keduanya, untuk menanggulangi hal tersebut.
Kesimpulan
Keadaan tersebut merupakan salah bukti buruknya kita menjaga anak-anak kita, sehingga di dengan leluasa melakukan pelanggaran demi pelanggran tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Fenomena anak usia belajar duduk di warkop setiap hari berjam-jam, baik pada saat jam belajar atau sesudahnya,merupakan salah sisi buruk pengembangan sang anak kedepan. semua kita sudah mengetahuinya, bagaimana situasi di pusat keramaian, dipusat pasar, bermacam karakter ada di tempat tersebut. maka oleh karenanya hendaknya orang tua, harus segera bersikap untuk menanggulanginya, sebelum semuanya terlambat.