Sahabat stemian semuanya...!
Semenjak bergabung dengan #Steemit beberapa bulan yang lalu, sepertinya ada kegiatan ekstra yang harus di kerjakan yang menyita waktu, pikiranku sehari - hari. malahan boleh dikatakan, hampir setiap waktu, pikiran justru memikirkan postingan untuk #steemit. Melihat dari kenyataan yang ada, sepertinya #steemit telah memberi kontribusi yang sangat besar dalam keseharian kita yang dimulai dari terbitnya matahari samapi terbenamnya mata kita, selalu dalam hayalan akan #steemit, apakah itu postingannya, upvotenya, judulnya, bahannya dan sebagainya yang berkaitan dengan #steemit. Pengalaman ini sungguh membuat kita gelisah setiap harinya, terus terang membuat kita tak nyaman karenanya. begitulah suasana hati kami yang baru memulai sebagai steemian dengan reputasi yang masih rendah.
Stemian Dadakan
Kisah awal bergabung dengan platform #steemit dengan pemahaman dan pengetahuan yang sangat lemah alias nol. karena memulai hanya menerima bersih sebuah akun #steemit yang siap pakai, karena telah didaftarkan oleh seorang teman. Kemudian tanpa pertanyaan muluk-muluk saya coba berlayar di lautan #steemit hanya bermodal nekat saja, karena tanpa dibekali sediktpun oleh pemahaman dan pengetahuan bagaimana yang seharusnya menjadi seorang stemian sejati. Mulai saya berlayar dengan memanfaatkan intruksi yang ada pada pada layar aplikasi #steemit. Alhasil, ternyata postingan awal saya adalah sampah, lalu apa yang terjadi.?
Jelaslah, karena sampah. maka sama sekali tak ada yang mengungjungi dan memberkan suara setiap kali saya melakukan postingan. Beberapa postigan terlewat, memberikan saya inspirasi untuk menyelikan kenapa bisa seperti ini, begitulah suasana, dikarenakan tidak mau bertanya pada teman-teman yang lebih mengerti dan paham mengenai platform #steemit. Suasana tersebut tak berlangsung lama, setelah hal tersebut berlalu, saya mencoba membetulkan postingan saya, teruma dalam hal penggunaan tag link sama sekali tak sesuai dengan ketentuan yang ada.
Tetap Semangat Untuk Terus Bersama #steemit
Hal-hal tersebut di atas merupakan sebuah pengalaman berharga bagi saya untuk terus belajar dan bertanya, atas sesuatu hal yangtidak saya pahami. dan sekarang baru terpahami oleh saya, bahwa #steemit itu tak seperti yang yang kira, tidak seperti dugaan saya, yang menganggap bahwa #steemit itu biasa ja, dan tak sesulit yang di bayangkan. Lalu di saat melaksanakan rupanya saya tenggelam, saya tersesat, barulah lahir kesadaran bahwa #steemit itu hebat, #steemit luasnya tak terhingga, dalamnya tak terkira, maka wajar saja saya tersesat di dalamnya yang berlayar tanpa bekal, tanpa ilmu dan sebagainya.
Pengalaman ini, terserah asumsi pembaca yang menyatakan saya sombong, atau apasaja, memang kenyatan demikian, Tetapi sebagai kata pembelaan bagi saya, dulunya kita pernah menulis, pernah menyusun dan lainnya. tetapi rupanya benar kata orang beda lubuk beda ikannya, beda laut beda umbaknya, beda jurusan beda pula ilmunya. seperti intulah kira-kira pepatah tersebut. Kesadaran tersebut lahir tiba-tiba, dan dalam pelayaran, saya coba cari referensi untuk terus maju dan melanjutkan pelayaran. Nah dari referensi yang buka, saya sangat terkesan dengan sebuah karya manis ibu , sang Novelis Aceh yang mendunia lewat karya tulisnya Lampuki Bang
.
,
,
, dan beberapa tulisan blog yang tak teringat lagi namanya oleh saya. dari beberapa tulisan saya sangat menikmati karya-karya besar mareka, sungguh sesuatu yang memikat untuk terus membaca. Mareka-mareka itulah yang menjadi penyokong saya meskipun, sang penulis sendiri tak tau, bahwa cara mareka telah menginparasi saya untuk memperbaikinya. *Salam sejahtera untuk kalian semuanya, semoga kalian selalu diberi petunjuk untuk terus menuis, hasil karya kalian sangat bermanfaat pembaca.
Menulis Menjadi Kegemaran (Hobbi)
tak terasa sekitar lima bulan lamanya saya bersama #steemit, entah kenapa saya selalu berambisi untuk melakukan postingan, selalu seperti setiap harinya, seakan-akan sudah menjiwai pikiran saya untuk terus menulis, meskipun samapai saat ini belum sempat menikmati hasil dari sebuah tulusan tersebut. awalnya saya berpikiran demikian, apalgi teman-teman di sekililing saya, menceritakan penghasilannya yang diterimanya dari hasil postingannya. tapi sekarang tidak lagi seperti itu, seakan-akan menulis layaknya tuntutan jiwa,tak, perduli sebesar apa hasil yang saya dapatkan dari tulisan tersebut. Apalagi sekarang keiatan menulis saya lakukan di sela-sela kesibukan saya, tak ada lagi target atau capaian dalam sehari, harus satu, sepekan harus tujuh, tidak seperti itu. Sekarang selama ada bahan yang layak, cocok, dan tentunya dukungan waktu bagi. saya bakalan menulis dan terus menulis.
Nah terakhir, bisa jadi sebagai pentup, tulisan tersebut diatas merupakan pengalaman saya, dengan #steemit, dengan pengalaman sebagaimana saya gambarkan di atas, bukan berarti menandakan saya sekarang sukses di #steemit, sama sekali tidak seperti itu, lagian baru baru ini saya sempat melihat beberapa tulisan khususnya , wah lebih bagus lagi, ternyata masih luas sekali yang belum di kunjungi. saya hanya berbagi pengalaman saja pada teman-tean semuanya untuk tetap konsisten serta melakukan #promo-steem dan #esteem kepada masyarakat, sosialisasikan kepada masyarakat, biar mareka tau apa itu #esteem, apa itu #Efa.