Javiar dengan lukisan kopinya di hutan mangrove Syiahkuala.
16 Juni 2018
Saya kaget juga ketika ada pesan whatsapps masuk dari nomor yang asing. Pastinya bukan nomor Indonesia dan Malaysia. Setelah saya baca pesannya, barulah saya tahu ini nomor Spanyol. Ia memperkenalkan diri bernama Javiar dari Spain. Ia seorang turis yang akan pergi ke Medan - Danau Toba. Intinya minta arahan perjalanan.
Javiar menghubungi saya atas rekomendasi Heriyanto. Mereka satu komunitas bagi pejalan yang bernama Couchsurfing. Sebenarnya saya tidak tergabung dengan komunitas tersebut, tetapi banyak sahabat traveling saya yang tergabung di sana, sehingga jika ada traveler yang ingin ke Sumatra Utara, Medan, Danau Toba, mereka merekomendasikan saya layaknya yang di lakukan Heriyanto. Heriyanto ini sahabat baik saya di Lampung, dia salah satu yang mengenalkan saya pada komunitas backpacker Indonesia.
Couchsurfing ini adalah komunitas bagi traveler di seluruh dunia. Mereka menyediakan tempat di rumahnya bagi anggota couchsurfing yang datang ke kotanya. Tempat tersebut tidak harus bagus. Apa adanya saja, bahkan space di ruang tamu atau di sudut rumah tak masalah. Selain itu mereka meluangkan waktu untuk memperkenalkan daerahnya.
Kembali ke Javiar. Saya cukup lama tidak menerima tamu alias ngehost. Sejak pindah ke Aceh, saya disibukkan dengan menjadi seorang Tour Planner. Kala itu saya masih dalam suasana lebaran di kota Pematangsiantar, tempat mertua saya sehingga tidak memungkinkan untuk berjumpa apalagi ngehost. Akhirnya saya hanya bisa memandunya dengan memberikan rute transportasi hingga gambaran itinerary. Suatu ketika dia whatsapps saya bahwa ia sudah di Berastagi dan tinggal bersama seorang petani.
Javiar bercerita ia sangat terkesan tinggal di Berastagi di rumah petani ini. Meski kehidupan mereka sangat sederhana, tatapi mereka berusaha memenuhi dan mencukupi keperluan Javiar selama di Berastagi.
Karena musibah kapal KM. Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba saat mengangkut penumpang dari pelabuhan Simanindo menuju Tigaras, maka Javiar memutuskan untuk tidak pergi ke danau Toba. Selain cuaca yang masih buruk, dia enggan berwisata sedangkan di sana sedang berduka. Saya memahaminya dan bercerita bahwa saya akan kembali ke Banda Aceh dan memberi sedikit gambaran tentang Aceh. Javiar memutuskan akan ke Aceh juga tetapi tidak tahu kapan. Pastinya dalam waktu dekat.
26 Juni 2018
Selang beberapa hari setelah saya tiba di Banda Aceh, Javiar kembali menghubungi, bahwa ia nanti malam akan ke Banda Aceh. Saya pun memberikan informasi tentang bus Medan ke Aceh. Akhirnya ia dapat tiket bus Sempati Star. Malam itu banyak bus yang full sehingga tak banyak pilihan. Saya berjanji akan menjemputnya setibanya di terminal Batoh, Banda Aceh.
Hari selasa menjelang siang, tanggal 26 Juni 2018 Javiar tiba di Banda Aceh. Dengan sepeda motor Vario kesayangan, saya menjemputnya di terminal. Tak susah menjumpainya, dengan tampang Bule nya akan mudah terlihat.
Ngopi di kedai kopi Kuta Alam. Mencoba kopi Sanger khas Aceh, sambil berbincang dan mengenal sosok Javiar.
Akhirnya kami bisa bertemu langsung. Saya ajak Javiar ke kedai kopi Kuta Alam untuk berbincang sekaligus membahas rencana dia di Aceh. Obrolan kami pun berakhir, beliau saya antar ke hotel Myhomestay tempat ia menginap.
Malam hari saya ajak beliau ke kedai Kopi lagi, saya ajak istri, dan beberapa kawan. Kami pun asik mengobrol. Sharing tentang kehidupan dia di Madrid, Spanyol dan tentunya kami berbagi tentang Aceh. Ia memutuskan esok hari ke Sabang, pulau Weh untuk berapa hari.
30 Juni 2018
Sabtu pagi kembali Javiar menghubungi saya bahwa ia sore ini akan ke kembali ke Banda Aceh. Kebetulan sore saya free maka saya menjemputnya bersama istri, Yasir dan Agus sahabat saya. Setelah berjumpa, saya ajak ia ke kawasan hutan Mangrove Syiah Kuala. Sore itu komunitas melukis yang saya ikuti mengadakan lukis on the spot di kawasan tersebut.
Saya memperkenalkan Javiar dengan Rubama Nusa. Malam itu kami singgah di toko Kaos Kanvas milik bang Akmal Senja, sekaligus ngopi bareng di Duek Pakat Kopi.
Javiar type mudah bergaul. Meski tidak pandai bahasa Indonesia dan kami pun berbicara bahasa Ingris kurang fasih, tetapi komunikasi kami bisa berjalan (sesekali melihat Google translate).
Satelah diskusi dengan kak Rubama Nusa, Javiar memutuskan tinggal homestay di kampung Nusa. Esok akan ikut agenda menanam pohon di hutan Jantho bersama komunitas Hutan Wakaf. Saya ada agenda lain, jadi tidak bisa bergabung.
Aktivitas Javiar di rumah singgah, Rumah Kita, mengajarkan menggambar dengan anak-anak rumah singgah.
Meski tidak berjumpa, kami tetap berkomunikasi. Setelah dari Kampung Nusa, Javiar bermalam di Rumah Kita. Rumah Kita adalah rumah singgah yang di kelola oleh kak Nuu Husein. Javiar kenal kak Nuu saat bergabung di acara Hutan Wakaf. Hari berikutnya saya di kabari bahwa Javiar melanjutkan perjalanan ke pulo Breuh dan pulau Nasi.
12 Juli 2018
Hari ini Javiar melanjutkan travelingnya ke Kuala Lumpur. Kemarin ia chat dengan saya bahwa ia stay di Lhoknga dan pagi ini berangkat flight pagi. Sayang sekali saya tidak sempat berjumpa.
Banyak hal yang saya pelajari dari sosok Javiar. Ia seorang pemuda berusia 48 tahun. Traveling ia lakukan sejak remaja berkeliling dunia. Ia seorang Arsitek dan pernah mengajar di Negeri Famosa Taiwan.
Pesan dari beliau :
"Cintai kehidupan kita saat ini dan berbahagialah dengan keadaan saat ini. Banyak orang berkata saya ingin punya perusahaan, saya ingin kaya, saya ingin keliling dunia dan lain sebagainya seolah-olah jika keinginan tersebut tercapai, barulah ia akan merasa bahagia".
Sampai jumpa lagi Javiar " keep in touch "
"Lasaklah ... Sebanyak, Sebisa dan Sejauh Mungkin, Karena Hidup Bukan Diam di Satu Tempat"
Kaki Lasak : All About Travel, Photo & Food
Follow Me :
Steemit
Facebook Husaini Sani
Instagram kaki lasak ucok silampung
Whatsapp +6282166076131
"Lasaklah ... Sebanyak, Sebisa dan Sejauh Mungkin, Karena Hidup Bukan Diam di Satu Tempat"
Kaki Lasak : All About Travel, Photo & Food
Follow Me :
Steemit
Facebook Husaini Sani
Instagram kaki lasak ucok silampung
Whatsapp +6282166076131