Assalammualaikum ya ahlil steemit....
Dikala hujan dinanti terik mentari di nafikan, kala hujan mengguyur deras sejadi-jadinya terik mentari dirindukan. Ini perkara manusia yang penuh dengan salah, hampir-hampir selalu berkeinginan, manusia yang juga sering khilaf, sifat tergesa-gesa menjadi manusiawi. Slogan yang didengung-dengungkan "memanusiakan manusia" menjadi klise bahan kampanye sesat lagi menyesatkan, tiadalah manusia di muka bumi tau apa yang menjadi kebutuhan dan yang terbaik untuknya, kecuali Dia Tuhan Sang Pencipta Manusia, Allah Subhanahu Wata'ala.
Hidup memang perjuangan namun mati pun sangat menyakitkan, tiadalah kita mengandai-andai kematian selain berpulang kepada yang telah mati. Bagaikan di tusuk seribu pedang saat nyawa meregang, demikian kabar perumpamaan dari junjungan Muhammad bin Abdillah Shalallah Alaihi Wassalam.
Pelik kehidupan tanpa diundang akan merundung, kelemahan dan keterbatasan akan selalu hadir, inilah manusia yang hidup. Bergelimang harta bukan selalu membuat bahagia, namun tak sedikit yang kebahagiannya karena bergelimang harta. Kemiskinan bukanlah petaka akhir dari hidup, namun ujian hidup menuju mati sampai dihidupkan kembali dalam kekekalan sesungguhnya.
Saat otot kekar bahu lebar, tentu urat-urat keras menonjol berakar, apakah kau sudah sangat kuat. Tak lebih dua puluh tahun kau memilikinya, hingga otot dan bahu lebarmu mengkerut, dan menyusut renta. Kami dilahirkan dengan halus, lemah, tanpa daya, bahkan kamipun tak berdaya membersihkan kotoran di pantat kami, kami juga tak mampu memasukkan makanan ke mulut kami, hanya kasih sayang ibu yang mampu membuat tubuh kami kuat. Seharusnya kekuatan kami tidak terkalahkan, sampai virus LGBT mempermalukan kami.
Bisa saja otot kami menghantam sesiapapun menghadang, bukan tak bisa kepalan tangan ini menggeser rahang mu para pengganggu, tak mustahil kaki kekar kami meluruskan tulang rusukmu yang kami anggap perlu.
Setiap hari semua bagian tubuh ini bisa digunakan dengan baik untuk mengarungi kehidupan, dan jangan ragukan saat kalian terkasih membutuhkan perlindungan.
Lika liku hidup tak membuat kami jenuh, kami lebih memilih marah daripada berputus asa, egois diri bukan menunjukkan untuk menjajah, kami hanya realistis bukan hayalan, juga tak perlu perasaan untuk katakan tidak, jawab iya hanya keluar seperlunya, rancangan otak kami memang demikian.
Setiap 3 hari otak kami seperti di reset untuk memikirkan selangkangan bukan berarti kami cabul seperti dobartim yang bahkan 3 jam sekali menelurkan konten mengekspose lekuk tubuh kalian. Keperkasaan kami harus sesuai walau tak jarang diluar sana banyak bangsa kami kurang ajar.
Perut kami ketat, sesekali terlihat seperti tempurung kura-kura berpetak-petak, sering kami gunakan itu untuk keperluan hidup. Suatu perkara gampang jika hanya mengangkat galon air mineral ataupun mengangkat senjata. Bekendara otak kami stabil, fokus dan konsentrasi, jarang kami menyalakan lampu sen kiri kemudian berbelok ke kanan, walau banyak juga kemampuan ini digunakan untuk melarikan diri dari tilang. Bukan muluk hanya realistis.
Ke-egoisan, kemarahan, dan keperkasaan kami tidak berlangsung lama, cukup dua puluh tahun. Akhirnya jarum kehidupan kembali perlahan, kami tak sanggup menahannya walau sedetik. Tak kuasa menguasai apa yang telah pernah kami punya. Bukan kami mau membuangnya, bukan juga keinginan terjadi demikian. Laju waktu dan hidup mengantarkan kami kembali manjadi lemah. Semakin waktu menuju mati, hati kami tak lagi egois, tak lagi sombong, tak lagi kuat.
Hanya 30 menit tubuh ini seperti lemah lunglai saat mengajak putra kecil kami bermain bola bak Cristian Ronaldo, tempurung lutut seakan lepas menggocek bola lincah selayak Leonel Messi. Hati kami terjun bebas tatkala putri kecil kami merengek minta dibelikan sesuatu. Tergopoh-gopoh kami memenuhi keinginan putra putri kecil kami. Tutur kata kami lemah lembut seperti awan meladeni putra putri kecil kami belajar berbicara, lain ceritanya saat meladeni rengekan ibunya meminta dibelikan baju gamis baru, walau miliknya telah penuh satu lemari.
Dijalanan kami tak lagi setegar Valentino Rossi, tampak mobil dikejauhan hati ini sudah was-was, cepat-cepat menepi alih-alih dapat mencelakai kalian. Agresifitas telah berbanding terbalik dengan Marq Marquez, suara knalpot merongrong-rong seketika menyalip tak membuat andrnalin kami terpacu lagi seperti dulu, jika ini terjadi dahulu, bukan tidak mungkin tangan memutar selongsong gas mengejar suara knalpot memekak telinga. Saat waktu beranjak syukurnya kami tetap menyalakan lampu sen kiri belok-pun ke kiri.
Otot ini perlahan tak kekar lagi, urat tak nampak berakar, satu persatu rambut berkurang kemudian memutih. Bahu kami yang dulu lebar tampak menciut layu, lengan kami tak lagi sekokoh dahulu. Kaki yang dulu dapat dengan mudah meluruskan tulang rusuk para penganggu kini bergetar hebat saat melangkah menuruni anak tangga. Hati kami sering rapuh melihat kalian tidak mentaati kata-kata kami.
Langkah kehidupan kian mendekat untuk menjauhi apa yang telah kami punya. Jangan hianati kami duhai kalian, terkasih. Kami juga punya air mata.
Buruj ck
Bangku pikir Ahad 18/11/2018