Pernah terbayang jika malam ini selepas tarawih, kita tidur di bilik-bilik triplek, di antara sampah-sampah, beralaskan kardus, dan ditemani oleh dinginnya angin malam? Tentu juga tanpa kasur empuk, selimut tebal, bantal, atau guling.
Kemudian esok pagi, hingga Adzan Subuh mulai berkumandang, kita tidak tahu harus sahur dengan apa. Pun kala Maghrib tiba, kantong kita hanya berisikan recehan. Mungkin hanya mie instan atau sepiring nasi untuk dimakan sekeluarga.
Hal tersebut bukan sebatas khayalan, dongeng atau sekedar cerita fiksi belaka. Kejadian itu memang benar-benar terjadi. Ada di tanah yang sama dengan ibukota. Mereka tetangga kita, yang kadang kita anggap hina karena ketidakmampuannya hidup di kolong langit ibukota.
Meski penuh kekurangan, Ramadhan tetap akan bergulir di rumah-rumah mereka, akankah kita biarkan tetangga-tetangga kita meratapi nasib hidup di tengah ibukota. Ini saatnya isi penuh periuk dapur mereka dengan sajian terbaik kita. Jangan biarkan mereka terlunta tanpa sahur dan berbuka.
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi)