Proses pemisahan gabah dari batang padi secara tradisional atau "Ceumeulho" dalam budaya Aceh mulai terkikis seiring perkembangan waktu dan teknologi.
Ceumeulho padee merupakan teknik merontokkan padi dengan cara menginjak nginjak batang padi yang telah dipotong sehingga menghasilkan butiran padi ini, mulai ditinggalkan oleh para petani. Mereka lebih memilih untuk merontokkan padi dengan menggunakan mesin perontok yang lebih praktis dan mampu menghemat waktu.
Dahulu tradisi Ceumeulho ini kerap dilakukan oleh petani secara kelompok dan bergiliran. Dengan bertumpu pada sepasang tiang dari pelepah Rumbia, mereka menginjak injak batangan padi tersebut. Bagi pemilik padi yang mendapat giliran Ceumeulho, mereka akan menyediakan minuman dan penganan kue sepertinya pulout, kuah tuhe, dan kue apam. Kegiatan ini sering dilakukan di malam hari dengan diterangi lampu patromax atau lampu " panyout srounkeng". Meskipunn biasa dan tradisional, inti dari kegiatan ini adalah terbentuknya solidaritas sosial atau terjalinnya interaksi antar petani yang dilakukan secara tradisional. Mampu memupuk persaudaraan, bergotongroyong dan bekerjasama dalam penanaman padi pada tahun selanjutnya.
Namun disayangkan kegiatan Ceumeulho ini mulai ditinggalkan para petani, sehingga nilai nilai yang muncul dalam Ceumeulho secara manual ini tidak akan mampu digantikan oleh mesin perontok padi secara modern.