Berkah atau keberkahan, kata yang sangat sering terdengar, baik dari lisan cendikiawan Islam yang berceramah, orang-orang biasa disekitar kita, maupun selebritis dalam selipan wawancara mereka di televisi. Selain menikmati hidup bahagia, kita pun diberi kesempatan lebih untuk meraih keberkahan atau hidup berkah. Bahkan tidak heran ucapan berkah menjadi tambahan doa dalam setiap perjumpaan.
Berkah kata asalnya dari bahasa Arab barakah yang memiliki kandungan arti "bertambah", "berkembang", "kebaikan yang banyak dan langgeng" dan juga "berkumpul dan berhimpunnya kebaikan" baik yang kasat mata atau yang abstrak. Berarti pula bertambahnya kebaikan.
Umumnya, kita bisa perhatikan berkah ini menjadi sifat atas suatu kenikmatan. Apakah kenikmatan tersebut membawa berkah kebaikan / kebahagiaan yang lebih atau tidak?. Sebagai contoh, ketika kita melihat orang-orang yang sedang diuji meraih keberuntungan, kita disunatkan mendoakan keberkahan kepada mereka. Semoga keberuntungan tersebut baik bagi orang di sekitar.
Pada dasarnya, berkah erat sekali kaitannya dengan kenikmatan. Kenapa bisa demikian?, Kenikmatan ada keterkaitan khusus dengan berkah memiliki arti penting, kenikmatan dalam diri manusia itu sejatinya akan lebih meningkatkan kebaikan kepada penikmatnya dan menghindari terbaliknya kenikmatan—malah memerosotkan si manusia tersebut.
Berkah sendiri bermakna bertambahnya kebaikan, dan perlu dicermati atas sedikit kesalahpahaman selama ini, bahwasanya berkah identik dengan banyak atau melimpahnya sesuatu. Sesuatu yang kita sebut berkah itu bisa banyak dan melimpah, bisa juga tidak. Intinya, apa pun kenikmatan itu, berapa pun besar dan apa pun nilainya, selama kenikmatan itu membuat kita semakin dekat dengan Allah Swt, maka kenikmatan itulah yang disebut berkah.