[source](https://www.google.co.id/search?biw=360&bih=560&tbm=isch&sa=1&ei=JT9XW5SLN87-9QOlt6mYBw&q=giok#imgrc=-Y_yseEGCG3jVM:) Beberapa tahun lalu, di Aceh bahkan di tingkat nasional sempat demam giok, dan batu akik lainnya. Para pekerja pencari batu giok bekerja siang malam untuk mendapatkan batu yang paling diburu oleh pencinta giok se-nusantara, batu alam yang menjadi primadona pada masa itu di dapat dari pegunungan Nagan Raya.
Ada ratusan pencari batu giok yang bekerja di hutan belantara dalam pegunungan Nagan Raya, mereka memburu batu giok yang terbaik untuk mengumpulkan rupiah dari hasil penjualan giok itu, batu giok yang paling diminati pecinta giok Nusantara adalah jenis idocrase dan solar, sementara pecinta giok dari cina lebih memilih jenis nefrit, entah apa yang melatarbelakangi pecinta giok dari negeri tirai bambu itu lebih memilih nefrit dari jenis-jenis giok yang lain.
Bila melihat trend pada dua tahun yang lalu seakan demam batu itu tidak akan hilang lagi trend giok atau batu akik lainnya, baik dilihat dari semangat pencari giok, penampung, penjualan, bahkan pencari rezeki dengan menjual jasa asah pun dapat ditemukan dengan mudah di sembarang tempat. Pencari bekerja siang malam dalam hutan pegunungan Nagan Raya, baik itu dengan menggali atau membelah bebatuan serupa batu gajah yang ditemukan atau memahat, untuk mengetahui apakah batu yang ditemukan itu berupa jenis giok atau bukan.
Koleksi Pribadi Yang Tersisa
Lalu dijual ke penampung dengan harga yang fantastis pada saat itu, penghasilan mereka ada yang mencapai milyaran rupiah, bila batu yang didapat berupa jenis idocrase atau solar, penampung lalu menjualnya lagi kepada pencinta giok baik dalam bentuk bongkahan besar maupun dalam bentuk potongan-potongan yang sudah dibagi sesuai permintaan.
Ada pembeli yang membeli dengan harga mahal lalu di jual lagi, ada juga yang dijadikan koleksi, batu-batu besar itu dipoles sedemikian rupa sehingga meugiwang dan ditempatkan dalam ruang di rumah-rumah mewah, ada yang memahat batu giok menjadikan berbagai bentuk, mulai dari bentuk hewan, ataupun bentuk-bentuk lain yang disukai oleh kolektor papan atas.
Batu itu juga tidak sedikit yang beredar pada pengecer yang kemudian dijual dalam bentuk potongan-potongan kecil atau juga sudah berbentuk batu cincin, ada yang membeli dalam bentuk bakal kemudian dikasih ke penjual jasa untuk diasah menjadi batu cincin dalam berbagai ukuran sesuai selera yang punya.
Dimana-mana terdengar bunyi deru mesin sanyo yang dimodis menjadi mesin asah batu cincin, penjual jasa asah batu cincin dapat ditemukan dengan mudah, baik itu di perkampungan maupun di kota-kota, terlebih lagi daerah barat selatan Aceh, deru mesin asah seakan tidak pernah berhenti siang malam, untuk menyelesaikan pesanan peminat batu giok atau batu cincin.
Penjual gagang cincinpun tumbuh dimana-mana bak cendawan di musim hujan, semula menjual baju lalu tiba-tiba di teras tokonya sudah ada etalase atau lemari kaca yang berjejer gagang cincin, semula menjual buah lalu tiba-tiba sudah ada lemari kaca juga menawarkan berbagai model gagang cincin. Dan banyak penjual lainnya yang kemudian memilih menjual gagang cincin dan bahkan menjaul gagang cincin menjadi pekerjaan utama, sementara usaha sebelumnya menjadi usaha sampingan. Begitulah kondisi pada masa itu.
Perhelatan kontes giok digelar dimana-mana, ada yang menggelar kontes ditempat terbuka dan bahkan ada yang menggelar kontes di hotel berbintang, pameran batu giok atau batu mulia digelar dimana-mana, baik kontes yang hanya menampilkan batu-batu terbaik, maupun pameran yang memarkan berbagai jenis batu dikunjungi oleh banyak orang, berjubel pengunjung untuk dapat menyaksikan batu-batu yang sudah masuk katagori kontes dan ada ribuan pengunjung dalam setiap pameran baik itu hanya sekedar melihat-lihat atau bahkan untuk mencari batu-batu giok super selanjutnya terjadi negosiasi harga, dan bila cocok harga dalam negosiasi maka dalam sekejap batu giok itu beralih tangan.
Begitulah kondisi pada saat demam giok mendera masyarakat Aceh, masyarakat Indonesia atau bahkan wisatawan mancanegara pun ikut demam batu giok saat itu.
Tapi kini seakan tidak pernah terjadi apa-apa dengan giok itu, pencari giok menghentikan pekerjaannya, penampung banyak yang gulung tikar, penjual jasa asah yang deru mesinnya sempat membisingkan pun sudah menggudangkan mesinnya. Kehebohan batu itu hilang, kembali seperti sebelum giok itu ditemukan oleh warga Nagan Raya.
Dan akhirnya sebuah masjid bermaterialkan giok, didirikan di pusat perkantoran Nagan Raya, lantainya sebagai pengganti granit dipasang batu giok yang sudah dibelah serupa granit. Dindingnya juga dipasangkan giok, dan pembangunan masjid itu sudah masuk dalam tahap finishing. Masjid itu dibangun sebagai simbol bahwa disanalah giok itu berasal. Dan saya berencana bila masjid itu siap dibangun akan berkunjung ke sana untuk melihat betapa indah dan ademnya masjid bermaterial giok.
[source](https://www.google.co.id/search?q=masjid+giok&prmd=imnv&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjW4uqL_7fcAhWE7GEKHRPmBmkQ_AUIDygB&biw=360&bih=560#imgrc=jQUWSDI25_1PhM:)