Sejak akhir Agustus 2018, wali kelas tempat adikku sekolah mengabarkan ada kegiatan ekstrakurikuler untuk anak kelas satu Sekolah Dasar (SD), tentang cita-citanya ke depan. Guru bertanya, apa pekerjaannya yang dipilihnya jika besar. Adik menjawab, tentara.
Maka wali kelas memberitahu bunda kemudian, untuk menyiapkan seperangkat baju sesuai cita-citanya. Bunda memberitahu ayah, dan geleng-gelang kepala. Maklum, ayah kurang suka tentara. “Kenapa tak pilih ustad saja atau wartawan,” tanya bunda kepada adik.
Adik tertawa saja, “wartawan tidak ada di pilihan,” kata adik sekenanya. Bunda masih mencoba melobi guru untuk diganti saja dengan polisi. Pasalnya, baju polisi sudah ada milik sepupu kami yang ayahnya polisi. Sementara baju untuk tentara tidak ada, mesti dibeli. Lagi pula, baju hanya dipakainya sekali.
Ternyata pilihan tak boleh lagi diubah, karena kalau diizinkan, akan kurang jumlah anak yang memilih tentara. Semuanya telah diatur dan didata sesuai minat siswa.
Menjelang acara yang digelar 6 September lalu, bunda membeli satu stel pakaian lengkap TNI dengan tiga bintang di pundak, Letnan Jenderal. Si Adik riang bukan kepalang, dan dia bangga memakainya di hari yang telah dijadwalkan. Agenda itu bertema, “My experience is my best teacher”.
Penampilannya memang keren, berbaur bersama rekannya dalam acara tersebut. Berlangsung di bawah tenda di depan sekolah, mereka dibagi dalam beberapa profesi; guru, ustad, tentara, polisi, pilot, dokter dan lainnya. Begitulah kisahnya, adikku berpangkat jenderal, semoga engkau mengapai cita-cita itu. []