Dua tahun lalu, tepatnya Oktober 2016, berkunjung ke Banten mendampingi anak-anak pada acara POSPENAS (Pekan Olah Raga dan Seni antar Pondok Pesantren Tingkat Nasional). Tempat Lomba Baca Cipta Puisi di Aula Kantor Wilayah Kementrian Agama Banten. Dari tiga orang juri, hanya dua orang yang saya kenal diantaranya Asep Zamzamnoor dan Ahmadun Yosi Herfanda, seoarang lagi berasal dari Yogyakarta, lupa namanya.
Sementara para peserta dari seluruh provinsi sedang mengikuti lomba, dan para pedamping tidak diperbolehkan mamasuki arena lomba. Ini kesempatan mencari kantin masih di sekitar perkarangan Kanwil Kemenag Banten. Baru satu hari jauh dari Aceh, sudah begitu terasa berat rindu kepada kopi. Semoga saja kopi bubuk Banten bisa mengurangi beban itu.
Menikmati kopi dalam kesendirian ternyata paling tidak mengenakan, berusaha menikmati suasana kantin yang terletak bawah masjid, berdekatan dengan media center POSPENAS. Terdengar ada orang memesan kopi, ya seorang lelaki yang belum saya kenal, melemparkan senyum lalu mendekati ke tempat saya duduk. Kami berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing.
sumber facebook
Bangga sekali berjumpa dan berkenalan dengan seorang penyair dari Borneo, Kalimantan Selatan. Fahmi Wahid juga seorang aktor teater. Semasa menjadi mahasiswa sering menjadi juara I lomba baca puisi antar mahasiswa provinsi Kalimantan Selatan. Sempat juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Murakarta, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pemenang Aruh Sastra Kalimantan Selatan VI. Serta beberapa tumpukan puisi dalam antologi bersama dan beberapa torehan prestasi kesusastraan lainnya.
Berbicara lembut sekali, begitu ramah, baru beberapa menit tertemu seperti sudah begitu lama kenal. Selain menggandrungi dunia sastra dan teater, bang Fahmi (panggilan saya) pecinta anggrek, menjelajah hutan Kalimantan dengan mengendarai sepeda motor antiknya, juga salah satu hobi yang juga memperkaya daya imajinasinya, menghasilkan ruh dalam setiap karya yang dia telurkannya.
Berpanjang lebar berbicara, membahas apa saja, ya terutama tentang seni, bagaimana perkembangannya, maju dan mundurnya dari barat hingga timur, dari selatan dan utara Indonesia. Bang Fahmi menghadiahkan saya sebuah antologi puisi tunggalnya sampul hitam dan abu-abu, bersketsa ranting berdaun, di tengahnya ada sketsa wajah, saya menduga ini wajahnya bertampak samping. Puisi “Suara Orang Pedalaman” menjadi judul, sangat menonjol, putih di wajah hitam buku.
Menduga proses kreatif Fahmi Wahid yang selalu berjalan menelusuri hutan-hutan Kalimantan, bersama kawan-kawan, tidak jarang berjumpa dengan suku pedalaman yang semakin jauh masuk dalam rimba, karena tertindas. Perampahan hutan merajalela, pohon-pohon bertumbangan, tentu akan meruntuhkan bukit-bukit dan gunung-gunung. Orang-orang pedalaman berteriak, warisan alam diperebutkan, merampas harapan masa depan anak cucu.
Mereka tidak pernah berhenti berjuang untuk menyelamatkan tanah harapan yang diwariskan, terbaca jelas pada bait terakhir puisi “Suara Orang Pedalaman”, berikut nukilannya :
………
Simbah keringat membasuh malam
Mengusir bala dan marabahaya
Segenap hajat ditunaikan seiring harapan
Orang-orang pedalaman terus bersuara
Menyuarakan perampasan Rahim tanah ulayat
Teringat cerita bang Fahmi ketika duduk minum kopi di kantin itu, sering melakukan perjalanan dari pulau ke pulau nusantara, tidak terkeceuali pulau jawa, sempat mendamparkan diri di Ibu Kota. Tidak tahan menyaksikan gemerlap kota yang tidak pernah tidur, hutan-hutan gedung bertingkat, jalan-jalan bertingkat. Begitu beda dengan hutan di kampungnya, hijaunya hampir hilang. Dari ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta, ia tumpahkan kerinduannya dalam “Selamat Malam Jakarta” sebuah sapa pertanda tak betah di bait terakhir :
……….
Aku masih ingin bertahan
Bila mana malam menyingsing kabut
Menawarkan purnama yang sempat mati
Dan sinar lepas di batas igau samudera
Lain kali kubawa kau ke sini
Sekedar menikmati sajak hidup
Dengan nama kebengisan manusia terhadap pongah kota
Namun aku terlanjur lelah meninggalkan panggung malam
Aku ingin pulang
Inilah sekilas kerinduan pada pertemuan singkat kami yang masih membekas diingatan. Bukanlah keriaan, namun ini sebuah kebahagiaan, sekedar pelampiasan keinginan menulis cerita-cerita indah yang menguatkan tambang persaudaraan. Berharap menjadi ikatan pulau-pulau. Ya keindahan silaturrahim.
Banda Aceh, 6 Maret 2018