Untuk pengobatan kali ini, ia fokus dengan pengobatan medis karena ia merasakan hasil yang positif dari pengobatan ini. Bekas luka hitamnya yang dulu besar, menjadi semakin kecil dan tidak berdenyut lagi setelah ia menjalani kemoterapi yang kedua. Salah seorang sanak keluarganya juga memberikan semacam obat semprot yang membantu mengobati bekas luka hitamnya. Untuk keringanan biaya pengobatan, dibantu oleh keponakannya, Ratna mengusrus Jamkesda sehingga kali ini ia dapat menjalani pengobatan medis hingga benar-benar selesai. Dikarenakan Ratna tidak mampu lagi berjualan, suami Ratna mencari dan mendapatkan pekerjaan yang menyediakan asuransi kesehatan bagi pekerja dan pasangan. Suami Ratna ingin memanfaatkan Askes ini jika nantinya Ratna harus menjalani operasi kembali, agar Ratna mendapatkan fasilitas yang lebih nyaman daripada hanya menggunakan Jamkesda. Di sela-sela kesibukan pekerjaannya sekarang, suami Ratna tetap menyempatkan diri untuk mengurus segala administrasi yang diperlukan untuk diserahkan ke rumah sakit agar Ratna bisa segera mendapatkan obat yang ia perlukan tanpa lama tertunda.
“...terus lukanya ibu kasih lah, ada di kasih sama famili, kayak Kispray dia, main semprot dia, baunya dia kayak bau cuka, dikasi sama orang tu, ini lah Ri, pakek Ri, itu lah ibu semprotkan, ibu taro di bawah lidah, Alhamdulillah ada kurangnya lah rasa denyut tadi, terus ayah orang ini minta tolong sama ponakan untuk ngurus Jamkesda... sampe lah ibu sekarang ini di sini..”
“uuh.. kuat.. kalau suami ibu Alhamdulillah lah, bagaimanapun cape nya dia, pokoknya ibu harus berobat, macemana pun, seapanya waktunya, kayak surat ini kan, yah itu lah, curi-curi waktu untuk ngurus surat ke Jamkesda, Jamkesda ini jam setengah 12 udah tutup, itu lah dikejarnya, bagaimanapun adek harus berobat, harus siap semuanya, karena itu tadi, dia bilang, ini kan kerja udah masuk, udah ada jaminan kesehatannya dari kantor, kalau bisa nantik operasi nggak usah pake Jamkesda, yah mudahmudahan, jadi nggak apa kali ruangannya katanya.. kalau awak nggak jadi masalah yah, yang penting awak ini sehat, yang penting adek sehat, makanya kita berusaha lah, adek kuat, ayah pun gitu lah, walaupun kita nggak ada, awak ini semangat, ayah pun gitu lah dukung, iya, iya macemanapun ayah dukung, macemanapun apanya yang penting adek berobat, adek siap, adek pun kuat, adek pun sehat... kasian anak-anak.. yah memang iya, tapi kalau udah apa awak.. jangan kayak-kayak gitu kenapa.. yah iyaa, nanti kita minta ajah sama yang diatas bagaimana yang terbaiknyaa..”
Namun, diantara hal positif yang tengah ia rasakan ketika menjalani pengobatan medis kali ini, ia juga mendapatkan efek negatif dari pengobatan kemoterapi yang sedang ia jalani. Ratna kehilangan salah satu penglihatannya, salah satu matanya sama sekali tidak dapat melihat lagi, sebagai dampak negatif dari pengobatan kemoterapi yang ia jalani. Selain itu, bagian matanya yang sudah tidak berfungsi lagi seringkali berdenyut bahkan hingga menyebabkan Ratna sulit untuk tidur. Hal ini juga diperburuk dengan kenyataan bahwa, setelah berkonsultasi dengan spesialis mata, kemungkinan besar bola matanya harus segera diangkat jika terus menerus berdenyut. Ratna sangat menolak pilihan ini. Keluarganya juga mendukung pilihan Ratna untuk menunda mengangkat bola matanya. Ratna sudah pernah merasakan kehilangan anggota tubuhnya karena kanker, ia tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Ia masih berharap bahwa pada suatu saat matanya bisa kembali normal. Saat ini, Ratna hanya fokus untuk menjalani pengobatan kankernya hingga benar-benar selesai. Ketika denyut pada bola matanya sangat sakit ia rasakan, ia hanya memijit bola mata tersebut perlahan-lahan sembari memanjatkan doa-doa. Hal ini membantu meredakan denyut yang ia rasakan sehingga ia bisa beristirahat.
“Itu lah nggak tau, masuk kemo kedua kan diliat sama dokternya, hari itu kan ini keras kayak batu gitu, jadi pas kemo kedua, dipegang dr. Muharram, oh uda bisa ni, udah bisa dikemo, tapi ibu nggak tanya udah kemo keberapa baru dioperasi, karena ibu dampaknya kan kemari (menunjuk mata sebelah kiri), ini mata ibu ini ga nampak ni..”
“Nggak, memang nggak nampak sama sekali, itulah, ibu bawa lagi ke dokter mata, orang kata dokternya coba dulu ke mata, kok bisa ke mata ya.. ibu pun nggak tau juga ya, ibu bawa ke dokter mata, kata dokter mata, kata dr. Ayu, kalau terus ajah denyut bu, terpaksa juga diangkat..”
“dari kemo pertama yang di sini... terus kok merah, merah, merah, mendenyut, wuih, Naudzubillah, sakitnya ya Allah ya Rabbi... ibu nggak bisa golek, nggak bisa apa, nungging ibu, bengkak ini, bengkak sejadijadinya, takut orang itu ntah kenapa, disuru cobalah ke dokter mata dulu, itu lah, dr. Ayu menganjurkan untuk di gambar di Pirngadi, hasilnya, itulah karena denyut, itu lah dibilang, bu kalo ini denyut terus, terpaksa dibuang, tapi ibu bilang sama keluarga gitu, agak keberatan orang itu, kalau apa, gak usah dulu lah Ri, katanya, mata pula yang diapa, nanti ajah dulu..”
“Kalau ini nanti nggak juga apa, coba-cobalah nanti ke alternatif lain yang mana, nanti ibu juga mau tanya sama dokter, seumpama mata ini mau diangkat, kalau diangkat toh masih sakit juga, untuk apa kita angkat.. kan gitu.. yah cari jalan baiknya cemana, yah kalau alternatif katanya, yah alternatif, kalau diangkat masih sakit juga, untuk apa ibu dua kali kehilangan, kan gitu...”
“...itu lah ibu tadi bilang, yah kalau toh diangkat masih denyut untuk apa diangkat, biarlah disini, jangan sampe diangkat, jangan sampe kehilangan diangkat.. ini diangkat (menunjukkan payudara kanannya) ini diangkat (menunjukkan mata kirinya), kalau masih sakit kan, untuk apa, itu aja...”
“Orang itu? Nggak setuju kalau mata ini diangkat, kalau bisa, nggak usah diangkatlah matanya, nanti cara lain gimana kita, kalau misalnya ada obat, bisa untuk apa kan yaa, kita obatin ajah, tapi jangan lah diangkat kalau kata abang-abang itu, tapi pas itu kan denyuut saja, aku yang ngerasakan ibu bilang, denyutnya ini aku nggak tahan, iya ngertii kau yang ngerasakannya, tapi untuk apa sampe fatal dua kali, orang itu juga gitu bilang, udah, yang penting kayakmana nantik kata dokter, kalau operasi dulu payudaranya yah payudaranya duluu, matanya nanti aja, gitu orang itu..”
Serangkaian pengobatan yang harus dijalaninya membuatnya letih dan telah menghabiskan banyak biaya. Namun, hal ini tidak menghentikan perjuangannya. Keberadaannya anak-anaknya yang masih kecil dan suaminya membuat Ratna terus berjuang, mengerahkan segala upayanya untuk mencapai kesembuhan. Keinginan untuk mendampingi anak-anaknya yang masih kecil hingga tumbuh dewasa, bahkan hingga mereka mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi semakin menguatkan tekadnya untuk sembuh.
“Cemana ya.. kalau dibilang capek sih capek, tapi gimana ya.. kalau lah aku tadi.. kalau capek yah memang capek, biaya pun udah nggak ada, tapi mikir anak-anak ini tadi, karena kalau kanker payudara ini kan istilahnya mematikan kan gitu, itu tadi, ya Allah, cemana aku ini ya.. tapi itu lah tadi ibu berusaha, itu lah tadi ibu jualan kan, untuk cemana berobat setiap harinya ya kan, sekali berobat limpul limpul limpul, itulah terus, ibu jalanin juga, ibu jalanin juga ...”
“Yah kepengen ajah, sebetulnya kepengen juganya yang lain, ya kan, tapi kalau bisa, anak-anak lah yang utama, kasian kak kalau masih kecil-kecil gitu, nggak ada mamaknya kan cemana, tapi kalau sampai besar awak tengok, sampe apa kan bisa nyekolahkan dia tinggi itu rasanya kan kita bangga, itulah yang ibu minta...”
Seringkali Ratna menghabiskan waktu sendirian di rumah sakit karena tidak seorang pun yang dapat menungguinya. Suami yang sibuk bekerja, serta anak-anak yang harus bersekolah membuat Ratna harus berjuang sendiri ketika berada di rumah sakit. Hal yang paling membesarkan hati Ratna adalah tindakan anak sulungnya, yang terkadang bahkan harus bolos sekolah hingga seminggu lamanya agar dapat mendampingi ibunya selama menjalani pengobatan. Setiap kali ia melihat usaha dari anak-anaknya dan suami untuk kesembuhannya, ia semakin bertekad untuk sembuh. Ia merasa bahwa jika orang lain dengan kondisi yang lebih buruk darinya bisa sembuh, maka ia juga mampu mencapai kesembuhan itu.
“emm.. kalau yang ini payah (menunjuk kepada anaknya yang paling besar), dia taunya gini ajah, yang penting dia bisa dekat dengan mamaknya, ini semalam kan ibu gak da kawan di sini, di sekolah, di rumah, dia nangis ajah, kebetulan gurunya, mamaknya kena kanker juga, bercerita gurunya, bahwasanya dia juga jarang masuk karena orang tuanya gini-gini, nangis dia di sekolah, jadi semua tahu lah ya kan, ini tadi karena dengar mau kemo, nantik gak ada yang ngapain mamak, obatnya sakit, nantik gak ada yang ngusukin tangan mamak, ya udah lah kak, permisilah, mau nungguin mamaknya... Kalau anak ibu ya.. aduuh.. apalagi yang kecil, mamak semangatlah, mamak minum obatlah, ah gitu lah, mamak semangat, mamak kuat, iyaaah, jangan sakit-sakit lah mak, ngerti lah, anak dua ni ngertilah kalo mamaknya ini sakit, ngerti kali lah kalau anak ibu...”
“...ah kalau bisa aku sembuh, kenapa orang lain yang lebih parah dari aku bisa sembuh, aku kalau bisa seperti itu, kalau bisa lah, aku nengokkan anak-anak ini sampe besar, gitu lah, balek lagi, kalau memang sudah ajal ku lah ya, aku pasrah, ikhlas, gitulah..”
Ibu dan saudara perempuan Ratna telah wafat, meninggalkan Ratna dengan saudara laki-lakinya. Dengan kondisi Ratna saat ini, ia sebenarnya ingin lebih sering dikunjungi dan mendapatkan perhatian lebih dari saudara-saudaranya. Namun, dikarenakan masing-masing telah memiliki keluarga, Ratna memaklumi jika saudara-saudaranya tidak sempat untuk mengunjungi ataupun menanyakan keadaannya. Bahkan ketika ia di rumah, ia merasa bahwa ketika ia sakit, tetangga menjadi lebih dekat dan perhatian terhadap dirinya dibandingkan dengan saudaranya sendiri.
“Nggak tentu juga, namanya mereka punya kesibukan masing-masing ya kan, ibu pun nggak mengharap kali, taulah ipar-ipar ya kan, yah maklum aja lah,”
“Iyah, pokoknya yang pengen ibu sembuh aja lah, sembuh, siap jalanin kemo ni apa selanjutnya, itu aja lah, kalau mengharapkan saudara untuk nengok, yah kalau mau nengok yah nengok, kalau nggak yah nggak...”
“Yah kayak keluarga, kalau kita pikirkan, saudara gitu, yah kita udah nggak punya orang tua, udah nggak ada saudara perempuan, namanya sakit, kepengen kita ya kan, dikunjungin setiap hari, ditanya apa kabarnya, apa apa nya, tapi, nah itu lah ibu buang, ya Allah.. nggak ibu pikir-pikirkan lah itu, jalan masing-masing lah kita, yah mungkin orang itu sibuk, macemana, nggak mau nanya kabar ibu, yah itu lah, nggak ibu apain, yang penting anak-anak sama suami aja lah yang ibu apain.. ...”
“Kalau tetangga itu lah, asal lihat, semangat yah Ri.. yaa Istighfar, yah Istighfar itu nggak disuruh pun pasti awak lakukan, iyaa, semangat kau, anak-anak kau masih kecil, karena anak-anak masih kecil itu lah yang awak apakan, minta kesembuhan, kalau tetangga iya rajinlah nengok-nengok, malah kalau kita apakan, lebih tetangga lagi daripada saudara kita, tapi untuk apa kita bilang, ya udah lah...”
Kondisi Ratna yang sedang menjalani pengobatan kanker keduanya ini, telah membatasi kegiatan fisiknya. Bahkan, untuk makan dan mandi saja ia harus dibantu oleh orang lain. Jika ia tidak di rumah sakit, ia menumpang tinggal di rumah saudara laki-lakinya. Selama suami bekerja dan anak-anaknya sekolah, ia dijaga oleh saudara iparnya. Walaupun untuk mandi dan makan, seringkali ia harus menunggu anaknya pulang sekolah agar bisa membantu Ratna melakukan aktivitas tersebut. Ratna bersyukur dengan kesigapan anak-anaknya yang masih kecil untuk membantunya menjalani aktivitas sehari-hari.
“Waktu pas imlek itu kan ibu sempat kata orang ini udah kritis, kata ipar, pas itu ibu kan di rumah, jadi kata ipar pulang dari kemo ke -5, pulang ke apa ajah, pulang ke garu 1 ajah, kalau di simpang limun nggak ada yang ngurus, namanya sakit, ibu dimana ajah diletak, yang penting ada yang liatin awak, itu lah di garu 1, ibu diurus ada kakak ipar, ada adik ipar, itu lah silih berganti, nanti anak-anak ini sekolah ya kan, orang itu.. yah namanya kita tinggal sama ipar ya kan, kita pun ngertilah, nggak merepotkan gitu, bisa ibu jalan sendiri, ibu jalan, cuman makan lah memang nggak bisa ngambil sendiri, mesti diambilkan, diletakkan lah gitu didepan ibu, itulah”
“Orang ini? Perhatiannya sama ibu.. kalau misalnya ibu bilang, aduh ya Allah sakit, nah cepat dia, yang mana mak yang sakit, nantik kalau misalnya ibu masih mau gerak sendiri, bisa mak? Kalau nggak bisa dibantu, anak-anak ini, walaupun masih segini-segini tapi perhatiannya penuh sama ibu.. nggak apa, perhatiannya nggak pernah putus lah dari ibu..”
“Itu lah, demi mamaknya orang ini mau, mak biar aja ayah ke sekolah minta ijin, kasian mamak nggak ada yang jaga, ini pun menjadi beban juga sama ibu ya kan, gara-gara mamaknya orang ini nggak sekolah, tapi kalau nggak ada anaknya nantik, mamaknya kayakmana, paling bolosnya seminggu lah...”
Rasa ingin sembuh benar-benar muncul dari dalam diri Ratna sendiri, demi anak-anak dan suaminya. Walaupun untuk mencapai kesembuhan itu ia masih harus melalui perjalanan yang panjang, Ratna tidak putus asa dan terus semangat berjuang untuk mencapai hal tersebut. Untuk saat ini, ia berharap bahwa rasa sakit yang ia rasakan dapat berkurang, setidaknya ia dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Ratna pun semakin sering mendengarkan ceramah dari ustad untuk mempertahankan semangatnya. Ratna sering memanjatkan doa-doa yang membantu menenangkan hatinya dan mengurangi rasa sakit yang tengah ia rasakan.
THE END