Setiap Mei tiba, aku hanya ingat satu nama: Kamu! Ya, kamu yang lahir di Bulan ini. Bulan yang menurutku tercipta untuk wanita sepertimu; cantik, lembut, dan sangat wangi dengan sepasang mata terindah.
Setiap Mei tiba, aku selalu ingat bagai mana air mata mengalir deras dari dua mata indahmu.
Di Bandara itu, kau melepaskan kepergianku dengan genangan air mata, dan aku ingat bagai mana aku berlari ke arahmu dari tangga Pesawat dan ingin membatalkan keberangkatanku ke Negeri itu.
Kini Bulan Mei kesekian dari perpisahan kita, aku tak pernah lagi menatap dua matamu; mata terindah yang sering kutatap tanpa jarak.
Perpisahan kita menjadi pertemuan terakhir pada Bulai Mei pertama, Aku hanya ingin ucapkan,
Selamat Ulang Tahun yang ke-38 buatmu.
Tetaplah bahagia meski kita gagal habiskan sisa hidup bersama. Walau kita telah berjuang sangat keras untuk bisa meraihnya, namun Tuhan telah tentukan takdirNya bahwa kita tidak dijodohkan di dunia manapun.
Namun, tetaplah yakin dan percaya bahwa apa yang telah kamu miliki saat ini adalah pemberian terbaik dari Tuhan.
Terima kasih untuk sepotong Kemeja putih dan satu kaos oblong warna biru bertuliskan Dagadu. Keduanya masih kusimpan di sebuah ruang yang dulu sering kita jadikan tempat pelepas rindu.