Tahun 2011 menggenapkan satu tahun masa kerjaku. Gaji bertambah, aku bisa menyisihkan untuk modal menggapai keinginan. Temanku yang dulu membawaku bekerja, berencana akan menyicil motor impiannya. Ya, aku mengerti, kini penghasilan kita cukup untuk itu.
Aku, yang ingatan dalam isi kepala bulat semi lonjong ini kembali terseret ke beberapa tahun silam; saat aku belajar di sekolah dengan sembarangan, menyia-nyiakan uang jutaan rupiah yang telah dikeluarkan orang tua untuk biaya sekolah, saat aku tega mengalirkan air kesedihan di mata indah sang ibu, kini semoga bisa kutebus kesalahan itu.
Aku berniat akan kuliah. Masa SMA harus kubayar dengan cara mereguk madu ilmu sebanyak-banyaknya di bangku kuliah. Ibu harus bangga melihatku kelak. Walaupun bukan di universitas negeri atau perguruan tinggi swasta populer, tapi asalkan sesuai dengan kantong saku, aku akan sungguh-sungguh.
Aku perjuangkan dengan melobi bagian supervisor dan manajer car wash, supaya bisa memberi cuti sehari. Karena rencananya aku akan mengambil kelas non reguler dengan jadwal kuliah hari jumat dan sabtu. Jadi, hari jumat aku meminta cuti dan hari sabtu adalah jadwal liburku. Tak ada libur di hari minggu.
Awalnya aku tak mendapatkan izin. Apapun kulakukan agar bisa meluluhkan hati mereka. Setelah berbagai jenis cara memohon kuluncurkan, akhirnya aku mendapatkan izin. Dengan syarat; gajiku sedikit dikurangi lima persen dan jam kerjaku bertambah empat puluh lima menit setiap hari— waktu yang cukup untuk menunjukan kepiawaianku mencuci satu mobil tanpa bantuan pekerja lain.
Aku mendaftar di Sekolah Tinggi Keguruan. Kenapa kuambil jurusan keguruan, Kawan? Karena aku ingin sekali berkecimpung dalam ranah pendidikan hingga tua nanti. Walaupun dulu, sekolah sempat kubenci dan buku-buku serta ilmu pengetahuan sempat kucaci maki. Namun kini menurutku, menjadi guru akan memberikan kebanggaan bagi orang tua dan berguna bagi generasi penerus bangsa. Aku akan mengajak generasi muda untuk menyongsong masa depan dengan penuh tanggung jawab. Biarlah kisahku dulu menjadi pelajaran bagi mereka.
Beberapa teman merasa sedikit heran dengan keputusanku. Apalagi si Bambang—teman yang membawaku bekerja. Ia terkadang bergurau ketika malam menyambut dengan langit bersaput awan, kita nongkrong di atas genteng mes sambil menikmati angin yang hilir perlahan-lahan.
“Kenapa kau habiskan uang hanya untuk kuliah, Sal. Kau bisa jadikan uang itu modal usaha atau sejenisnya. Kuliah belum tentu menjadikanmu kaya. Banyak sarjana jadi pengangguran juga,” ketusnya mengkhawatirkanku. Aku mengerti. Pekerjaanku sangat keras dan terkadang berpuasa untuk menghemat biaya agar bisa membayar kuliah.
“Aku rindu melihat asisten rumah tanga yang bekerja di rumah sebelah, Bang,” ucapku mengalihkan pembicaraan. Namun, aku memang rindu. Asisten rumah tangga yang manis rupanya dan anggun sikapnya. Hari tadi tak terlihat ia menyapu di halaman rumah tuannya yang berdekatan dengan mes tempat kerjaku. Setiap hari aku hanya mampu memandang, tak berani mendekatinya karena rasa minder mengabar pergerakanku.
“Yah, kok jadi ngomongin cewek kamu mah,” sergahnya mendengus geram. Mungkin ia masih penasaran dengan keputusanku mengambil kuliah. Namun, percuma juga aku jelaskan. Ia pasti tak akan mengerti walaupun kulontarkan dalil-dalil mutakhir sampai berbusa.
Bersambung ....