Kini aku harus berusaha untuk lebih bersahabat dengan sebuah alat yang bernama Hidrolik, kompresor manual yang menyebalkan, bergelut dengan air, shampoo, sabun, lap, penghisap debu, dan semir. Apalagi debu dan kotor yang setiap detik menjadi makanan sehari-hari kulit legamku, sudah tidak aku hiraukan.
Kujalani semua dengan senag hati dan bersyukur, karena ini pekerjaanku. Setiap ada kesalahan kecil terkadang aku dimarahi mati-matian oleh pemilik mobil. Namun, ini pekerjaanku. Tak ada cara lain selain harus kuat dan bersabar.
Bekerja di pencucian mobil ada dua jenis garapan, Kawan. Pertama, sebagai pekerja basah. Dalam artian kita bekerja menyemprot bagian bawah mobil, memandikan badan mobil dan kaca serta atap. Kedua, sebagai pekerja kering. Dalam artian kita bertugas mengeringkan badan mobil. Adapun pekerjaan tambahan, seperti , membersihkan bagian dalam dengan vacuum cleaner dan kemoceng. Terkadang ada yang meminta semir dasbor dan interior lainnya. Ya, kami harus bekerja sebanyak itu walaupun hanya mengurus satu mobil. Apalagi hingga puluhan mobil yang datang setiap hari.
Ketika mendapat bagian menjadi pekerja basah, aku harus siap menerima nasib berpakaian basah dan kotor dari pagi hingga sore. Karena, pantulan air serta percikan tanah dari bagian bawah mobil mengotori seluruh pakaian.
Membosankan sekali. Apalagi setiap istirahat, aku harus mampir ke warung nasi pinggir jalan yang berdekatan dengan tempat kerja. Walaupun dengan pakaian basah kuyup, kotor dan kusam, aku terpaksa harus melangkah ke sana. Karena perutku juga memiliki hak asasi untuk diperhatikan. Terkadang merasa tak enak hati dengan pedagang. Jadi, sambil makan atau ngopi, aku hanya duduk di bawah beralaskan trotoar. Celanaku yang basah dan kotor, tak tega menindas kursi bersih milik pedagang Jawa itu.
“Bu, saya tunggu di luar.”
“Eh, kenapa, Mas,nggak di dalam saja sambil duduk,” timpal pedagang itu yang masih saja gesit menyiapkan beberapa pesanan.
“Nggak apa-apa, Bu. Celanaku kotor, di luar saja.” Aku tau diri. Ibu itu tersenyum.
Sesekali ada beberapa pelanggan hilir mudik yang berpakaian rapih, bersih, dengan profesi berbeda-beda. Mereka merupakan pekerja mal, pegawai honorer di kantor ujung jalan ini, mahasiswa dan yang lainnya. Akan tetapi begini, Kawan. Dari sebagian pelanggan itu ada saja yang sangat menyebalkan. Aku—lelaki dengan pakaian compang-camping—terkadang mendapatkan perlakuan diskriminatif.
Berbeda perangai apabila yang dihadapi itu lelaki rapih, memakai kendaraan bagus, dan berpakaian bersih. Apabila melewatinya, mereka akan berkata ‘permisi’ sambil tersenyum manja. Ketika melewatiku, mereka acuh-acuh saja. Namun, aku tak habis pikir, mengapa hanya karena melihat pakaianku kotor dan compang-camping, mereka harus berpuasa mengaplikasikan kode etik terhadap kami. Ah, atau mungkin mereka kira aku adalah seorang gembel akut dengan gangguan kejiwaan. Padahal aku tengah menunggu makanan.
Sebenarnya memiliki pekerjaan kasar yang menguras seluruh tenaga, cukup membuat raga ini terasa sesak. Tapi, masih banyak kebutuhan hidup yang memaksaku untuk tetap mengendap dalam pekerjaan ini. Aku percaya, Tuhan akan selalu memberikan jalan yang terbaik. Walaupun bekerja seperti ini, aku masih merasakan kasih sayang Tuhan yang terus memberikan kebahagiaan, memberikanku alasan untuk tersenyum.
Kini aku mengerti satu hal, Sobat; kebahagiaan itu tidak harus dengan uang banyak, mobil mewah, jabatan dan ketenaran. Karena kebahagiaan itu tercipta ketika kita mampu menerima apa yang kita dapatkan dengan senyuman dari hati yang begitu lapang. Karena setiap peran hidup, memiliki sistem dalam hati yang sudah teratur porsi kebahagiaannya masing-masing. Maka dari itu, pedagang cincau yang pernah kutemui dulu tak harus menangis sepanjang hidupnya. Adakalanya ia bahagia.
Sumber dan jenis kebahagian itu tidak selalu dengan kaya raya. Mungkin ada juga orang yang baru bisa merasa bahagia, apabila sudah menjadi kaya raya. Namun, da juga yang hanya mendapatkan sepotong roti pun, ia sudah merasa terpenuhi porsi kebahagiannya.
Bersambung ....