Kawan, dulu aku pernah membenci Tuhan.
Kenapa? Kautahu kenapa?
Akan kuceritakan alasannya mengapa dulu aku bisa membenci Tuhan.
Pada pertengahan tahun 2009, setelah kuselesaikan pendidikan SMA, aku sempat bermimpi ingin menjadi karyawan PT. KAI. Kau tahu kan, PT. KAI? Ya, Perusahaan kereta api.
Bermodalkan lulusan salah satu sekolah terbaik di Garut, dengan deretan nilai cemerlang tertulis di ijazah—hasil curang—kubulatkan tekad untuk medaftar. Jika kau tanyakan darimana aku mendapatkan nilai-nilai itu, ya, aku mencontek lelaki lugu berotak brilian yang duduk di belakangku. Demi mendapatkan angka yang mengagumkan itu, aku memaksanya untuk berbuat dosa. Apakah ujian nasional masih pantas menjadi tolak ukur bagi kelulusan siswa sepertiku? Aku tak secemerlang itu, Kawan.
Alasan kuat sehingga menjadi sangat tertarik bekerja di PT. KAI itu karena mendengar referensi dari teman satu kampungku. Ia sudah menjadi karyawan lepas hingga pensiun nanti. Semua ceritanya sangat menggiurkan.
“Kerjanya santai, gajinya gede, Sal!” ucapnya meyakinkan. Ia memanggilku Isal, itu panggilan akrab. Nama lengkapku adalah Ahmad Risalah.
Lelaki berkulit putih itu lumayan banyak mengoceh, seolah mendeklamasikan puisi terbaiknya di depan pejabat Negara. Sebenarnya sudut bibirku hampir saja menjulurkan air liur karena terlalu takzim.
Otakku sangat menikmati cerita sedapnya yang menggoda. Bagaimana mungkin aku bisa tidak tertarik, pekerjaan santai dan penghasilan besar. Kebanyakan masyarakat di kampungku memiliki pekerjaan kasar. Mulai dari pencari kayu bakar untuk dijual, buruh tani yang bertahan di bawah tendangan terik matahari demi dua kilo gram beras, kuli proyek yang mengahabiskan separuh harinya hanya untuk membungkam mulut istrinya yang cerewet, dan masih banyak lagi jenis pekerjaan yang lebih mengenaskan. Mereka terkadang mengeluh.
Cuma dia, pria muda yang hanya bermodalkan ijazah SMK, bisa bergaji hampir setara dengan PNS golongan II-C pada tahun 2009itu. Mungkin ia paling beruntung dari pada temanku yang lain. Kebanyakan teman yang lulus lebih dulu setahun dariku, mereka harus terima nasib mendapat pekerjaan sebagai kuli proyek, tukang parkir, tukang kerupuk keliling. Paling banter juga kuli pabrik. Mereka juga sama mengeluhkan pekerjaanya. Namun, bukan bermaksud mendiskreditkan semua profesi tersebut. Hanya saja menurutku, menjadi karyawan di PT. KAI itu tidak terlalu kasar. Menurut temanku juga.
“Kerja cuman duduk. Kalo ada kereta aja gue baru kerja dan itu pun kereta gak banyak yang lewat. Pokoknya mah kerja gue nyantai,” lafalnya meliuk-liuk bak nyanyian merdu yang mengembus-embuskan angin kesejukan. Aku terhipnotis.
“Gue pengen kerja kaya gitu. Minta alamatnya.”
“Cek aja di website-nya langsung. Sok lah gampang.” Aku mengerti. Dia mendukung dan memberi harapan besar. Maka kuanggap semua prosesnya pasti akan mudah. Lamunan yang menjejali kepala langsung menguap, melambung tinggi bak gelembung jernih berhamburan. Khayalanku mereka-reka; kalau jadi bekerja di sana, aku bisa membeli apa saja yang kuinginkan. Motor, telepon genggam mewah, baju bagus, semuanya. Ah, aku bisa mendekati wanita dambaan. Dia tak akan mampu menolak. Nanti akan kucoba mendekatinya apabila sudah menjadi karyawan PT. KAI dengan seragam yang gagah.
Gagah?
Ya, pegawai dengan seragam dinas adalah sesuatu hal yang sangat langka di kampungku. Bahkan tak ada. Hanya teman yang satu itu menjadi pelopornya.
Aku mengajak teman yang lain untuk melamar. Beberapa persyaratan kami turuti; mulai dari registrasi, melampirkan lamaran pekerjaan, FC KTP, ijazah, SKHU, kartu pencari kerja, SKCK, CV, dan yang lainnya. Setelah selesai, tinggal menunggu pengumuman selama sebulan. Aku menanti-nati dengan penuh pengharpan, lebih dari berharap mendapatkan cinta seorang wanita yang memesona. Pokoknya aku harus lolos.
Bersambung ....