Kuliah kujalani dengan sedikit mengganjal. Jujur, aku sangat tegang bila menginjak bangku kuliah. Otakku yang tumpul jarang diasah dan miskin wawasan, menjadikanku mati kutu dan mati gaya pula. Saat mengikuti perkuliahan sungguh terasa berat.
Adaptasi dengan organisme intelek itu begitu kompleks. Aku harus bermetamorfosa dengan gigih. Waktu presentasi di depan kelas saja, keringat dingin seketika muncul tiba-tiba tanpa aku undang. Lidah terasa kelu, kaki gemetar bak mobil yang mogok tapi tetap meraung-raung tak jelas. Teman sekelas hampir tertawa terbahak melihat kekonyolanku.
Sebagian besar temanku adalah seorang guru dengan potensi bicara lihai di hadapan umum. Ya, mereka banyak yang sudah menjadi guru dengan mudah. Mereka bisa mengajar di SMP bahkan SMA. karena mempunyai saudara kepala sekolah atau guru yang berpengaruh di sekolah.
Aku banyak berbincang dengan mereka. Obrolan mereka sungguh aneh.
“Saya males kuliah teh, euy. Kalo gak butuh ijazah S1 buat sertifikasi mah ogah kuliah,” cakap beberapa temanku. Aku menggeleng heran. Mereka mengajar pun bukan spesialis di bidangnya, tapi mengapa mereka kuliah hanya untuk mengejar sertifikasi? Bukankah kuliah sudah mutlak menjadi kewajibannya, agar mereka memiliki pengetahuan dan aturan khusus supaya memahami disiplin ilmu dalam setiap materi yang mereka ajarkan kepada para siswa. Namun, ini bukan salah mereka, bukan salah siapa-siapa. Ini justru salah satu keunikan hidup yang dilestarikan. Tak hanya tentang passion, motif dan lain sebagainya. Akan tetapi, banyak alasan sehingga semua harus terpaksa seperti ini, tak dapat dijelaskan satu per satu, kecuali, kalau kalian sudi mendengarkannya alasan itu dari mereka.
Aku masih mampu bertahan dalam aktivitas padat merayap , walaupun kepala dan tubuh sudah terasa mual dengan segala aktivitas itu. Di samping jam kerja memanjang, ditambah lagi setelah shalat isya, aku harus mempergunakan energi yang tersisa untuk segera berangkat ke warnet—mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Aku sering terpaksa tidak tidur karena berkutat dengan tugas yang menumpuk. Saking lelahnya, selalu saja banyak kesalahan dari setiap hasil tugasku. Untung saja kebanyakan dosen tak memarahi. Memang lelah, malu, mider, tapi Alhamdulillah hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun aku mampu mengatasinya dengan lihai.
Ketika PPL, KKN, dan penelitian skripsi, aku banyak bolos bekerja. Gajiku semakin berkurang. Untung saja manajerku pengertian dan percaya dengan meminjamkan uang untuk biaya kuliah terakhirku. Awalnya sangat tak enak hati dengan pegawai yang lain karena itu semua. Namun, aku terharu saat mereka berbisik mendukungku untuk menyelesaikan kuliah.
Bersambung ....