Badanku balik kanan, rencana dibatalkan. Aku harus kembali pulang. Jalanan yang mulai meletup-letup seakan membuat kaki yang hanya beralaskan sandal jepit terasa semakin mendidih. Namun, aku harus tetap berdiri di pinggir jalan, menunggu kembali mobil truk yang sudi membawa jasad lusuhku. Kali ini lebih sulit . Laju mobil terlalu cepat karena jalanan cukup lurus. Terpaksa harus sesedikit berjalan kaki.
Aku berdoa tak henti-henti. Tuhan yang kemarin kuanggap sebagai Dzat yang memiliki sifat tidak adil, sekarang anggapan itu kubuang jauh-jauh.
Kini aku sedikit mengerti, Sobat, bahwa Tuhan selalu mengasihi makhluknya. Akan tetapi, tak selamanya kasih sayang itu ia tunjukan langsung melalui jalan yang manis. Karena kesukaran adalah jalur alternatif yang ia sisipkan agar makhluknya bisa belajar kuat, ikhlas, dan sabar. Masih banyak orang-orang yang lebih berat jalan hidupnya. Sepanjang jalan aku berpikir, menelaah sebuah kehidupan.
Lihatlah di sudut gerbang jalan sana. Pengemis yang kakinya sudah lenyap entah ditelan apa, bukankah ia begitu berat hanya untuk melangkah saja. Ingatanku kembali terseret pada seorang gadis di kampungku. Ia penyandang tuna netra, jangankan untuk menggapai sebuah cita-cita, untuk tahu sebuah cita-cita pun ia harus meraba-raba dengan telinganya. Aku, manusia dengan semua fungsi indra yang masih aktif, pantaskah untuk putus asa?
Setelah sekian puluh mobil menolakku, akhirnya Tuhan mengirimkan orang baik yang ada dalam truk berwarna kuning bergambar. Tak harus menjegal. Cukup melambai, mobil itu berhenti.
“Yuk naik, Mas!” Ia tersenyum.
“Mau kemana, Bang?” tanyaku memastikan.
“Ke Bandung,” pekiknya. Aku sangat bahagia mendengarnya.
Hatiku seketika lega. Karena aku tak harus naik turun dan mengeluarkan uang sepeser pun. Walaupun debu yang ada di bak mobil itu hampir membuat tubuh ini gatal, tapi aku sangat bersyukur bisa sampai ke Garut dengan mudah. Mulai saat itu aku percaya, ‘setiap ada perjuangan pasti ada peluang’. Ini bukan cerita fiktif, Kawan. Perjalanan dari Banjar-Garut, aku tidak mengeluarkan uang sepeser pun.
Saat paling mengharukan dalam hidupku adalah ketika pulang dari perjalanan itu, Ibuku menangis tersedu-sedan sambil memelukku. Ia sangat mengkhawatirkan keberadaan dan keadaan psikologisku karena gagal masuk PT. KAI.
Kemarin, aku tak pernah menghiraukan perasaan ibu. Namun, kini aku sangat mengerti betapa halusnya perasaan orang tua. Tak ada kebohongan dengan kasih sayangnya. Terasa sekali hangatnya tetesan air mata bersimbah menggenangi baju tipisku dan menusuk hingga pori-pori kulitku. Momen itu benar-benar memeras hati.
Menjadi seorang karyawan dengan baju dinas yang gagah dan menjadi pegawai dengan gaji yang berlimpah, aku tak pernah lagi menyimpan ambisi itu. Akan tetapi, yang terpenting saat ini, harus menjadi manusia berguna dan jangan sampai ada lagi yang menangis karena kebodohanku.
Aku akan berusaha mencari lowongan, apa pun itu pekerjaannya. Berkas lamaran yang tersisa, kulampirkan ke beberapa perusahaan, pabrik, mal dan lain sebagainya. Tahun sudah menginjak hitungan 2010, tak pernah dapat panggilan. Sekali ada panggilan, aku gagal dalam testing dan wawancara. Namun, hati ini tetap bersabar, mungkin bukan saatnya. Karena bekerja itu tidak hanya mutlak mengandalkan ijazah.
Lagi pula ini salahku, aku tidak punya kecerdasan dan keahlian apa-apa. Sekolahku kacau; sering bolos, berkelahi, jarang ikut ulangan, ujian hasil nyontek. Bahkan kalau harus aku ceritakan, Sobat. Nilai Bahasa inggrisku hampir mendekati sempurna, tapi sebenarnya rumus simple present pun aku tak tahu. Maka dari itu aku harus benar-benar berjuang mulai dari awal.
Terbersit dalam pikiranku, ingin sekali kuliah. Akan tetapi, orang tuaku tak punya biaya untuk itu. Biarlah, ini sudah menjadi nasibku. Semua harus disyukuri.
Selang beberapa bulan, temanku yang bekerja di pencucian mobil, datang ke rumah mengajakku untuk bekerja di sana.
“Jangan kau tolak, lah. Kerja apa saja dulu sekarang mah, Sal. Nanti kalau ada peluang kan bisa pindah,” sarannya santai. Aku setuju dengan pendapatnya. Cukup berpikir satu malam, aku bersedia ikut ajakannya. Orang tuaku pun tak melarang.
“Selagi ada kesempatan untuk kita, apa pun pekerjaannya asalkan halal, pergilah.” Pesan mereka saat mengetahui niatku bekerja bersama temanku. Semenjak itu, aku tak ragu lagi. Walaupun menjadi tukang cuci mobil tak pernah menjadi impian, biarlah pekerjaan itu menjadi pengalaman.
Akhirnya aku bekerja di tempat pencucian mobil. Pekerjaanku terbilang kasar. Saban pagi hingga sore, aku harus mencuci sampai puluhan mobil, tak usah ditanya lagi soal lelah, letih, dan pegal yang selalu menggerayangi tangan, kaki, dan tubuh setiap hari. Terkadang kondisi badanku tidak stabil, tapi aku harus tetap bekerja.
Bersambung ....