Pagi datang dengan sinar mentari menyapa lembut. Aku terbangun. Tanpa mencuci muka terlebih dulu, raga ini langsung berdiri di tepi jalan, kembali mencari tumpangan lagi. Seperti kemarin, susah didapat. Perutku terasa keroncongan. Tak ada jatah uang untuk makan. Tadinya, selembar rupiah yang dibawa, ingin kusimpan baik-baik hingga sampai ke Banjar. Akan tetapi, perutku sungguh tak bersahabat, terus berbunyi, melilit. Terpaksa, setengahnya kugunakan untuk membeli minuman dan beberapa buah gorengan. Saat tengah menyantap makanan, sepasang bola mataku melihat mobil Pick Up kusam melaju perlahan. Aku segera berlari.
“Ikut, Mas, Ikuttt…” Mobil itu berhenti. Sang sopir mengangguk mempersilahkan untuk naik. Tak berlama-lama aku segera loncat ke bak mobil. Tak dinyana, Kawan. Mobil itu membawaku hingga ke gerbang kota Banjar.
Bukan tanpa tujuan memilih kota Banjar. Rencananya aku akan mengunjungi Kakek dari ayah. Sekedar untuk menenangkan diri dari hiruk pikuknya ocehan masyarakat, yang memperbincangkan masalah nge-hits-nya jadi pegawai PT. KAI. Membuatku mual.
Aku berjalan cukup lama, karena jarak dari jalan raya ke tempat kakekku cukup jauh. Tak mungkin mendapatkan tumpangan seperti di jalur jalan antar provinsi. Dalam setiap langkah yang kuayunkan, setiap helaan nafas yang kuhembuskan, sepasang bola mata ini banyak dipertontonkan para pejuang hebat. Mulai dari tukang becak yang sembab dengan keringat, pedagang bakso tahu berkulit hitam legam dengan penuh harap dagangannya bisa habis, sampai tukang es cincau keliling. Entah mendapatkan omset berapa per-bulannya, hingga mereka rela terus bertahan dalam hujaman sinar ultraviolet menembus hingga tulang keringnya.
“Es cincau satu, Kang.” Aku memesan untuk menyantuni lidah dan tenggorokan yang hampir meradang, karena panas sang surya sudah terlalu kejam. Seperti komitmen tadi. Aku akan mempergunakan uang sisa di Banjar.
Lamunannya terpecah oleh panggilanku, ia segera menyambutku, “Siap, Jang,” timpal lelaki bertopi hitam lusuh, lalu memasang wajah riang. Ia seakan senang dengan kehadiranku, lebih tepatnya kehadiran seorang pembeli. Ia memberikan es cincau porsi tukang kuli. Sangat pengertian. Tak berlama-lama segera aku lahap.
“Mau kemana, Jang?” tanya penjual bersuara serak-serak kering itu. Ia seakan mempraktekan strategi pemasaran dengan lihai dari pertama awal aku datang. Sungguh ramah.
“Ini mau maen ke rumah kakek, Kang,” jawabku ringan sambil menyerut es cincau yang kesegarannya mampu melembabkan kembali kerongkonganku.
“Memang asalnya darimana?”
“Aku dari Garut.”
“Walah, jauh juga ya.”
Dia terkaget mendengar jawabanku. Mungkin karena aku memakai pakaian compang camping, jadi ia mengira aku orang asli Banjar atau pengemis di terminal atau mungkin pengamen yang tak mengurus diri. Namun, sudahlah terserah.
“Udah lama dagang, Kang?” Aku mencoba membuka perbincangan agar tak terlalu fokus pada sengatan sinar matahari yang terkadang menyebalkan itu.
“Alhamdulillah udah lama, Jang. Hampir dua puluh tahun,” tuturnya lirih. Kini malah aku yang terkaget. Ia yang hanya menjadi seorang pedagang kaki lima selama puluhan tahun, masih saja melantunkan kalimat syukur.
“Wah, lama juga, Kang. Emang nggak tertarik kerja di pabrik atau sejenisnya, biar gajinya tetap dan lumayan?” ujarku sedikit penasaran. Aku menerka usia pedagang ini, paling tiga puluh lima atau lebih sedikit. Apa ia pernah mencicipi pekerjaan selain berdagang? Aku semakin penasaran.
“Nggak, Jang. Mamang mah dari umur tujuh belas tahun juga sudah dagang. Tak punya ijazah mah sulit dapet kerja. Jangankan Mamang, tuh lihat para pedagang yang lain juga ada yang lulusan SMA. Ini mungkin sudah jalan hidup kami. kumaha, Jang, nya da hidup mah kudu disyukuri wae. Rezeki mah sudah ada yang ngatur, yang penting kita bisa menerimanya. Tuhan Maha Adil,” ketusnya sedikit menohok hati kerasku. Apa? Tuhan Maha Adil? Ia yang hidup sungguh tak begitu beruntung—menurut versiku—dengan menjadi seorang pedagang kaki lima, masih saja bisa bilang Tuhan Maha Adil. Sedangkan aku, yang berhasil merampas ijazah SMA dan masih banyak kesempatan terbentang, pantaskah mencaci maki keadaan ini?
Sel-sel otak mulai berpikir liar, mataku menatap lekat pedagang yang masih sanggup tersenyum lepas walaupun hidupnya keras. Kenapa aku yang baru saja melangkah membuka tirai perjuangan dunia, sudah menyerah di garis awal pertempuran hanya karena ditolak perusahaan? Tak kuhabiskan es cincau yang kelewat menyegarkan itu. Aku hanya seketika merenung dan berpikir.
Lidahku banyak berbincang, akalku bertafakur akan semua cerita tersirat dari sekeliling terminal kota Banjar ini. Hati mulai sedikit terbuka perlahan. Aku sedikit mendapat pencerahan. Perjalanan ini sungguh suatu kekonyolan. Aku harus tegak kembali berjuang. Di samping itu, orang tua pasti mengkhawatirkanku. Maafkan aku, Ayah, Ibu.
Setelah kejadian itu, aku mendapatkan satu pelajaran, Kawan; bila kalian bermimpi tinggi, jangan kau biarkan lamunanmu hanya dijejali dengan khayalan ilusi saja. Namun, terus berjuang dan perbanyaklah mengingat Tuhan dalam setiap mimpimu. Tuhan akan memberikan satu hal yang lebih teramat manis dari setiap kegagalan. Ingatlah! Masih banyak orang yang lebih menyedikan. Jangan sepertiku, belum apa-apa sudah menyerah dan menyalahkan Tuhan.
Raga lembabku langsung segera berdiri. Lidahku terpaksa menyapa pamit pada seorang manusia yang memberikan sedikit pelajaran untukku.
“Ini uangnya, Kang. Hatur nuhun,”
“Sami-sami, Jang.” Pedagang itu kembali memberi senyuman berseri. Ia benar-benar menyiramkan air kesejukan ke dalam hatiku.
Bersambung ....