SENJA semakin memekatkan kadar warnanya di langit sana. Jam telah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Waktu berolahraga telah habis. Sekarang semua santri kembali ke asrama untuk membersihkan diri.
“Ana astahim ba’daka, ya Akhi,” ujar Habibul kepada Abrar. Ia ingin mengantre mandi setelah Abrar. Kehidupan sehari-hari mereka memang dipenuhi dengan antrean. Mandi mengantre. Makan mengantre. Segalanya serba dalam aturan. Tapi dengan fasilitas yang terbatas itulah semakin membuat keakraban antar santri semakin terasa.
Sambil menunggu gilirannya mandi. Habibul memilih untuk membaca buku terlebih dahulu. “Muqaddimah Ibnu Khaldun”. Buku yang ia baca saat ini memiliki ketebalan hingga 1.000 halaman lebih. Buku ini sebenarnya adalah buku terjemahan yang termasuk bacaan berat bagi seorang santri biasa.
Tapi apapun itu hobi membacanyalah yang membuatnya bertahan hingga hari ke delapan dengan buku yang sama setiap harinya. Padahal biasanya, sebuah buku bisa ia habiskan dalam sehari saja. Tentunya dengan ketebalan yang standar.
Buku Muqaddimah ini memang tergolong buku yang unik. Muqaddimah adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti pendahuluan. Sesuai dengan judulnya, buku ini memang membahas segala aspek dengan sekilas. Ya, hanya pendahuluan. Seakan pengarang ingin memberi pilihan bagi pembaca. Topik mana yang paling menarik ketika dibaca, maka silakan didalami dengan membaca buku lainnya.
Di salah satu sudut kamar, terlihat pemuda yang sedang membersihkan tempat tidurnya. Ia bernama Budi. Kagiatan yang sedang dilakukannya saat ini memang merupakan salah satu kegiatan rutin yang dianjurkan oleh pihak asrama. Kewajiban untuk menjaga kebersihan kamar, tempat tidur, dan barang pribadi masing-masing adalah sebuah rutinitas di sini.
Namun jika santri merasa kamarnya telah bersih, maka itu adalah hak untuk tidak membersihkan kamarnya sendiri. Tapi nanti, ketika pengecekan oleh pihak asrama dilakukan dan terlihat kamar dalam keadaan berantakan maka hukuman berat berlaku. Begitulah kedisiplinan yang ditanamkan dalam diri setiap santri.
“Abrar! Istahamamtu ana fastahim anta,” Habibul telah selesai mandi dan sekarang giliran Abrar untuk mandi. Mereka juga diwajibkan untuk berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris yang diganti di setiap minggunya.
“Thayyib. Syukran,” Abrar pun segera turun dari ranjangnya yang berada di tingkat kedua. Di pesantren ini, tempat tidur memang menggunakan tingkatan. Mungkin untuk menghemat tempat.
bersambung ...