Usianya masih terbilang muda. Namun kisah hidupnya jauh melampaui orang-orang yang lebih tua darinya. Selama ini Ia jarang mengeluh, sekalipun pada orang yang paling dekat dengannya.
Ia justru sering curhat dalam salat malam. Tatkala orang lain terlelap, Ia rajin bangun untuk berwuduk, melawan dinginnya malam dan mendirikan salat.
Dalam kesendiriannya, dalam keheningan malam, dalam senyapnya gelak tawa para sahabat, Ia bermunajat. Memohon pada Rabb agar hidupnya lebih dekat dengan sang pencipta.
Ia tidak memohon agar diringankan segala derita dan beban hidupnya. Sebaliknya yang Ia pinta adalah kesabaran yang berlipat ganda, keikhlasan dan jiwa yang semakin dekat dengan penciptanya.
Begitulah sosok dan kepribadiannya. Ia sangat kuat, saat semua cobaan menghampirinya. Ia tidak terpengaruh ketika orang-orang di sekitarnya sibuk dengan urusan duniawi. Ia tetap teguh pada prinsip dan pendirian ketika yang lain mengolok-olok penampilannya.
Hingga waktunya tiba, angin datang merontokkan hidupnya. Ia pun terlepas dan jatuh ke tanah. Terserak.
Seorang manusia datang menghampiri. Memungutnya dan menggenggam kuat. Sayup-sayup masih terdengar istighfar yang terucap pelan dari tubuhnya yang perlahan mengering dan mulai menghitam.
Perempuan yang memungutnya berbisik pada saya dan berkata lirih, Ia tak membenci angin yang membuatnya luruh.