Selamat malam dunia..
Selamat menikmati lelap rekan-rekan steemian sekalian..
Malam ini saya disuguhi sebuah ulasan yang luar biasa dari bro , beliau adalah rekan yang sama-sama sempat ambil bagian pada perhelatan Aceh Documentary Competition 2013 dengan tema "The Power of Aceh"
Saat itu saya bersama partner (kak) Novianti MR mengangkat sebuah ide cerita tentang perjuangan seorang perempuan petani di kaki Gunong Goh yang berjuang dalam segala keterbatasan untuk mencerdaskan anak-anak dikampungnya yang masih tergolong pelosok tersebut dengan judul film "Meretas Asa dikaki Gunong Goh"
Thanks to my team brother
and
selaku Manager Produksi kala itu kalau tidak salah, soalnya sudah 5thn silam. Serta beberapa team ADC saat itu diantaranya bro
![]()
![]()
![]()
![]()
, dkk lainnya yang belum saya deteksi nick name account-nya.
Kembali ke konteks terkait postingan bro yang berjudul Ribut-ribut Tentang Bioskop Aceh, jemari saya tergerak untuk menari diatas papan keyboard menulis sedikit isi pikiran agar tidak tersimpan dan membusuk yang kemudian menambah beban otak. Soalnya mikir jodoh saja sudah lumayan mumet saudara-saudara. Haha
Berbicara tentang polemik Bioskop di Aceh adalah satu hal menarik disebabkan kondisi kedua pihak pro dan kontra kian memanas dalam beradu argument. Ibarat meneguk Sanger (kopi-susu) panas, perpaduan pahitnya kopi dan manisnya susu selalu melahirkan kenikmatan yang tetap menarik untuk diminum. Anywhere, anytime, and by anyone.
Terkait pro-kontra berdirinya Bioskop di Aceh, saya berpendapat bahwa kita hanya perlu duduk tenang, diskusi cerdas dan beradab sambil meneguk kopi.
Cukup membahas tentang syafaat dan mudharatnya. Jika iya mudharat lebih besar apa sebabnya? Adakah cara agar itu bisa diminimalisir atau bahkan dihilangkan kalau mungkin.
Namun menumbuhkan pola pikir yang sehat dan cerdas lahir-batin juga bukan perkara gampang. Semua berpulang pada soal perut. Jika perut terisi maka InsyaAllah pikiran juga akan sehat, dan ini yang mungkin belum mampu dijawab oleh pemerintah kita, setidaknya hingga saat ini.
Maka tepat seperti kata Apa Karya; "Menyoe prut gohlom troe, adak tajak mita vitamin bak klinik pih hana puleh"
Namun disatu sisi, saya sangat sependapat dengan pemikiran bro pada postingan BERUNTUNGNYA! ACEH TIDAK PUNYA BIOSKOP yang menggambarkan kondisi perfilman di Aceh serta pengalaman pemutaran film di Malang oleh MELATI NOER FAJRI (Founder Anak Singa Film).
Entah apa yang akan terjadi pada dunia perfilman di Aceh kedepan dengan ada atau tidaknya Bioskop ditanah Serambi Mekkah ini. Juga terlepas kepada rekan-rekan steemian sekalian mau memilih berada dipihak pro atau kontra terkait isu tersebut.
Silahkan bagikan pandangan dan solusi positif pada kolom reply agar memberikan gambaran positif bagi kita semua.
Semoga nulis _reply_nya tidak dalam kondisi lapar ya sob!! Haha :D