ikan segar memberi kemampuan lebih bagi otak untuk kuat bekerja.
Judul di atas adalah pernyataan fenomenal menteri kelautan dan perikanan Indonesia, Puji Astuti. Menteri nyentrik yang dikagumi anak muda karena sikap hidupnya demikian enjoy.
Ia dekat sekali dengan laut. Fotonya yang beredar di internet rata-rata sedang berada di tengah samudera. Perokok berat yang energik ini, bagi saya cuma akan ada dalam jajaran pemerintah hanya dua dekade sekali. Akan jarang sekali orang macam ini menduduki jabatan elit begini.
Saya tidak akan menceritakan profilnya yang pasti banyak tersebar di internet. Saya hanya akan membicarakan tentang ikan.
Saya punya kampung di Meureudu, itu letaknya di mulut muara krueng meureudu. Orang dewasa kampung kami 97% adalah nelayan. Mereka melaut pagi buta, pulang kadang tengah malam. Biasanya jam 22.00 WIB. Abang saya, nelayan yang akhirnya menemui ajal di selat malaka, kalau pulang jam segitu pasti bawa ikan segar. Ikan sikureng-sebutan untuk tongkol sebesar pangkal paha anak remaja- pasti ditentengnya. Ikan itu sudah pasti saya pesiangi. Karena, nenek saya jam segitu sudah tidur.
Saya tidak tahu memasaknya atau menggoreng. Akhirnya saya potong besar-besar, saya rebus semua. Dengan api yang lumayan kecil. Besok pagi, ketika berangkat sekolah, nenek saya menggorengnya. Saya suka makan pagi dengan ikan rebus digoreng.
Abang sepupu saya yang tinggal bersama kami biasanya marah-marah kalau makan. Kalau dilihatnya ikan rebus digoreng atau ditumis Aceh. Ia akan merepet panjang lebar. Katanya, ikan yang sudah direbus kehilangan banyak rasa dan vitamin. Baginya, ikan yang sudah direbus itu hambar. Walau bumbu banyak dimasak.
Ia yang sejak tamat SMA sudah melaut, makan ikan segar adalah kewajiban. Kesukaannya makan dengan sedikit nasi, ikannya diperbanyak.
"Makan ikan segar yang biar kau pintar" ucapnya selalu. Walau saya tak bodoh-bodoh amat di sekolah, ia yakin ikan segar memberi kemampuan lebih bagi otak untuk kuat bekerja.
Hingga sekarang, tanpa ikan saat makan, itu belum sah disebut makan. Apalagi makan dengan rebusan mie instan dan telur dadar. Itu kami anggap makan kecil sebelum makan besar.
Sampai kini, ikan tongkol dimasak dengan mie Aceh bumbu pedas, masih menggoda selera kami orang pesisir Meureudu.
Tanpa ikan, kita karam.
Salam nelayan.