(image source: www.fabriquelove.com)
Metha takkan pernah dilupakan.
Tidak saat pagi hari, ketika saya menggosok gigi dan melihat sikat giginya yang lupa saya buang. Tidak di malam hari, saat tanpa sadar saya menyeduh dua gelas susu hangat.
Metha meninggal karena lupus setahun lalu. Karena itu dia menghindari matahari, menyebut dirinya sendiri vampir.
Orang-orang menyukai permainan gitarnya. Jazz dan dia bagus. Cukup bagus sehingga sering diundang untuk tampil di event-event promo. Album CD indie-nya masih dicari-cari orang. Dia juga sudah menandatangani kontrak untuk rekaman. Kanal youtube-nya mendapatkan belasan ribu pelanggan.
Ketika dia meninggal pada malam pertengahan Februari dalam hujan gerimis, saya tidak mengucapkan selamat jalan.
Maka, betapa terkejutnya saya saat melihat Metha berdiri di depan lobi Trans Studio Mall, menanti taksi. Saat itu saya hendak menyeberang menuju masjid TSM. Saya selalu percaya Metha akan muncul lagi.
Metha yang sama, yang saya sebut Valentina, karena kami bertemu 14 Februari tujuh tahun lalu. Kami tak pernah merayakan Valentine, selain sebagai lelucon tentang tatapannya yang sangat menyebalkan saat saya menyanyikan balada dari sebuah lagu instrumental yang populer. Lagu pertama Metha yang saya beri lirik dengan baris pertama:
Hari Valentine bagiku sungguh menyebalkan.
Hanya cara berpakaiannya berubah, dan warna lipstiknya belum pernah saya lihat sebelumnya. Namun, itu Metha, termasuk tahi lalat di sudut bibirnya.
Saya mendekat sambil bersenandung ‘Valentine yang Menyebalkan’ dan mengulurkan tangan.
Metha melotot, dan masuk ke dalam taksi.
Saya beritahu Anto bahwa saya pernah melihat Metha saat dia bertugas di kafe tempat kami bekerja. Dia mengerutkan kening.
"Benarkah?" tanyanya. "Sampaikan salamku jika kau bertemu dengannya lagi."
Keesokan harinya, saya ke Trans Studio Mall.Hari berikutnya juga, dan berikutnya lagi. Namun, Metha tak muncul.
Mungkin telah menjadi kehendak semesta, karena saya berpikir sudah saatnya untuk merelakan, iseng-iseng saya menjawab spam iklan internet layanan kencan online.
Gadis mencari Pria Perjaka/Duda Profesional 30 tahun.
Ya, usia saya 30 lebih sedikit, seorang duda yang berprofesi sebagai barista.
Segera saja Finna dan saya berbalas email. Dia segera setuju untuk minum secangkir kopi bersama saya.
Hati saya nyaris berhenti berdetak saat melihat ke jendela kafe tempat janji temu. Metha duduk di jendela, membeku.
Dengan jiwa terguncang, saya berbalik dan berjalan menuju tempat parkir diiringi rinai gerimis yang mulai jatuh. Anto berpendapat bahwa arwah yang telah mati tak mungkin kembali. Saya balas, bahwa cinta menaklukkan waktu dan ruang dan juga kematian. Setahun berlalu sejak dia pergi, pada malam gerimis seperti ini, malam yang sama saat kami berkenalan tujuh tahun silam, hantunya kembali.
Dia mendongak dengan waspada ketika akhirnya saya masuk.
"Metha?" tanyaku, mungkin terdengar seperti orang gila.
"Bukan. Aku menunggu seseorang. Namaku bukan Metha."
"Finna?" tanyaku ragu-ragu. "Saya Irfan. Jodohku—maksud saya, kita saling berkirim email."
Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Saya menahan tangannya sdikit lebih lama untuk menemukan bahwa tangan itu mulus. Tidak kapalan seperti jari-jari Metha yang terbiasa menekan senar gitar. Tangan yang bagus, tapi bukan tangan yang sama.
"Aku pernah melihatmu di Trans Studio Mall," katanya. "Ini aneh sekali."
"Maaf. Kamu seperti seseorang yang saya kenal, seseorang yang telah pergi."
Bibir Finna bergerak persis seperti bibir Metha, tapi suaranya berbeda. Dia memiliki cara yang sama seperti Metha saat mengatup bibir bawahnya. Rambutnya tampak sedikit lebih tebal, bergelombang ke belakang. Tapi yang menatapku adalah mata Metha. Aku terdiam dan kata-kata yang ingin kuucapkan tak mampu menemukan jalan keluar.
"Ada yang salah?" tanya Finna. "Kamu membuat aku merasa lucu ditatap seperti itu."
Akhirnya saya memberitahunya tentang Metha. Bagaimana kami merencanakan masa depan. Tentang lupus dan musik jazz.
"Kamu bagaikan kembaran Metha."
"Aku tidak memainkan alat musik," katanya. "Tak pernah belajar, bekerja di sebuah rumah produksi sebagai penulis. Komika amatir.”
Keheningan menunggu dengan sabar di meja kami.
"Aku tidak terlahir dengan wajah seperti ini," dia melanjutkan beberapa jenak kemudian. "kecelakaan, kebakaran di lokasi shooting. Berbulan-bulan di rumah sakit karena wajahku harus benar-benar direkonstruksi. Ingat tentang pasien eksperimental yang diliput TV, orang Indonesia yang pertama kali menjalani transplantasi wajah? Itu aku. Ada donor organ. Beberapa kali operasi sebelum akhirnya aku bisa kembali bekerja, hanya untuk menemukan kehidupan sosialku telah berubah total. Tidak ada yang mengenaliku lagi. "
Air mata mengalir di pipi saya.
"Saya mengenalmu. Di lobi TSM. Saya pikir Metha sudah kembali."
Dia membenamkan tubuhnya ke kursi.
"Aku tak ingin menjadi orang lain. Aku hanya ingin menjadi diriku."
"Saya rasa," kata saya dengan suara serak, "saya harus menemukan siapa diri saya saat ini. Selama setahun, jiwa saya tinggal separuh. Saya berkeliling mencari setengah lainnya."
"Ayo kita pesan sesuatu," kata Finna. "Kita ikuti saja kemana nasib akan membawa kita. Dan, "dia tertawa kecil, "sebut saja ini kencan hantu. Hanya di malam Valentine, kan?"
Bandung, 15 Februari 2018