Razan, surat ini pasti sudah tidak berguna lagi untukmu. Kau sudah tidak mungkin membacanya lagi. Fisikmu sudah bermukim di tempat yang baru, alam kubur, di kampung tempat engkau bermukim, Khan Yunis, terhitung Sabtu (2/6) sedangkan ruhmu sudah kembali kepadaNya.
Jujur, aku berduka atas kematianmu. Tembakan peluru dari sniper Israel yang menerjang dadamu bukan hanya membuat dirimu rubuh tapi seluruh penduduk bumi yang memiliki hati juga rubuh, jatuh air matanya, termasuk air mataku.
Surat ini sudah ku tulis sejak hari pertama darah merah membasahi baju paramedismu. Aku tidak kuat. Dadaku terasa robek dan darah amarahku menggeledak, tumpah ke bumi hatiku. Tiba-tiba jarak tinggal kita, Aceh - Palestina menjadi begitu dekat. Aku seakan berada di sampingmu, menuntun kepergiaanmu dengan kalimah tauhid.
Sungguh aku belum ingin engkau berpulang. Keberanianmu masih diperlukan di tengah kekurangan pemberani membela negerimu, Palestina. Negeri yang dibela oleh banyak orang tapi tidak cukup kompak untuk menghentikan agresi kejam Israel.
Kematianmu adalah bukti betapa kejamnya Israel. Bukan hanya itu, kematianmu juga bukti ketidakberdayaan dunia berada di sisi Palestina. Semuanya hanya retorika ketika satu demi satu nyawa melayang oleh perang yang tidak berkesudahan.
Sebagai diri yang pernah hidup di pusaran konflik, aku paham keberanianmu terjun ke pusat paling maut, perang. Dan aku bangga ketika kau berkata dengan berani:
"Saya akan merasa sangat malu kalau saya tidak ada untuk (membantu) warga Palestina. Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya untuk ada di sini, membantu mereka yang terluka." Razan al Najjar
Sekarang ini, dirikulah yang malu ketika kematianmu juga tak mampu membuatku menggerakkan dunia untuk menghentikan perang Israel - Palestina.
Aku, ternyata lebih memilih menikmati damai di negeriku, sementara engkau mati diterjang kejamnya peluru dari mesin perang. Razan, kesunyianmu di alam kubur mewakili kesunyian di alam hatiku saat ini.
Tapi, aku tidak ingin diam. Maka kutulis surat ini untuk menjadi "peluru" balasan, bukan untuk membalas nyawa dengan nyawa, melainkan menembak hati penguasa Israel, hati penguasa pembela mereka agar runtuh pula kesombongan dan angkara murka mereka yang ingin menaklukkan Palestina.
Surat ini juga kujadikan peluru, peluru yang kusasar hati para pemimpin negeri yang membela negerimu. Aku ingin ketakutan yang masih bersemanyam di dada mereka jatuh ke bumi berganti dengan keberanian, melebihi keberanian yang engkau miliki.
Razan al Najjar, beristirahatlah. Tugasmu sudah diakhiri atas izin Tuhan kita, Tuhan yang Maha Kuasa menggerakkan hati manusia, Tuhan yang mampu menghidupkan keberaniaan, Tuhan yang kuasa mengubah keadaan.
Semoga suratku ini menjadi bagian dari kuasa Tuhan untuk mengakhiri agresi Israel atas negerimu Palestina. Jangan kuatir surat ini tidak terbaca sebab tidak kutulis dengan bahasa Inggris atau bahasa Arab. Jika surat ini menjadi bagian dari kuasa Tuhan, pasti ada hati yang akan mengubahnya ke dalam bahasa apapun yang dapat dibaca oleh semua orang.
Razan, semoga kita semua bertemu di surga. Amin!
Sumber foto Razan al Najjar berasal dari foto yang beredar di lini Twitter.