kekeberen merupakan salah satu cara orang Gayo dalam melestarikan kebudayaannya. Hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh perjuangannya yang diabadikan dalam kekeberen tersebut. Kekeberen biasanya dilakukan oleh petue yang mengiformasikan tentang cerita pada zaman dahulu atau cerita yang pernah ia alami kepada generasi penerusnya.
Saya memanfaatkan kekeberen ini sebagai sarana untuk mempromosikan steemit pada kawan kos.
Informasi yang bermula saya dapat dari kampus oleh seorang dosen Antropologi Unimal yaitu bapak Teuku Kemal Fasya menarik perhatian mahasiswanya untuk berkarya dengan mempublikasikannya.
Dari sinilah saya kemudian menyebar luas kan apa yang saya dapat hari itu kepada kawan satu kos.
Steemit ini saya anggap sebagai platform yang bagus dalam mengembangkan kreativitas menulis mahasiswa. Juga dapat dilakukan ketika kita bersantai di kos, atau mengepost koleksi hunting yang pernah di lakukan.
Hal di atas bukan merupakan topik utama yang saya bahas. Namun sedikit lebih kepada apa yang akan kita lakukan di steemit. Nah ini lah yang semakin meyakinkan saya ketika bertemu kawan-kawan untuk mengajaknya bermain di steemit. Ketika saya sedang ada rapat himpunan, berada di kos kawan, sedang di kantin terus bercerita tentang steemit.
Dengan kekeberen ini setidaknya mampu menambah peminat steemit di kalangan mahasiswa. Satu hal lagi karya mereka juga tidak hanya sebatas di publikasikan tetapi juga di beri reward bagi karyanya yang memang terbaik. kekeberen ini bukan semata-mata bersifat statis tetapi bersifat dinamis.