Sahabat stemians, apakah Anda sekarang masih menjadi perokok berat? Bila perlahan-lahan Anda ingin berhenti dari kebiasaan buruk ini, jangan pernah beralih ke rokok elektrik dengan harapan nanti akan bisa membuang kebiasaan menghisap rokok tembakau atau cengkeh seperti selama ini. Pasalnya, menurut sebuah penelitian yang didanai oleh National Health Institutes of Amerika Serikat, rokok elektronik jauh lebih berbahaya.
Dari hasil penelitian tersebut malah ditemukan fakta yang sangat mengejutkan lagi. Bahwa setiap perokok yang berhenti dengan bantuan rokok elektronik, kemudian memberi dampak pada orang lainnya yang kerap terpapar rokok elektrik justru menjadi pengguna rokok elektrik.
Jadi alih-alih ingin berhenti merokok dengan ‘transit’ pada rokok elektrik, justru membuat resiko lebih besar dan mendorong orang lain untuk jadi perokok juga lebih gencar. Karena itu hentikan rencana beralih ke rokok elektrik untuk kemudian pensiun sebagai perokok. Carilah pola dan formlua treatment yang lain untuk terlepas dari kecanduan nikotin tersebut.
Penelitian yang dipimpin oleh Associate Professor Samir Soneji dari Dartmouth Institute juga menyimpulkan bahwa penggunaan rokok elektrik saat ini lebih banyak gangguan tingkat populasi dari pada manfaat.
Saya sendiri pernah menjadi perokok berat saat masih duduk di bangku kuliah sekitar tahun 1992-1994. Namun kemudian bisa berhenti total tanpa harus mengikuti treatment apapun. Saat ingin berhenti dengan alasan kesehatan, maka saya pun konsisten berhenti. Bilapun sekarang saya merokok karena tak mau jadi perokok pasif di tengah kepungan asap para sahabat yang terus mengepulkan asap, saya tidak lagi menemukan rasa atau kenikmatan merokok. Sebaliknya, yang terasa di mulut saya adalah rasa pahit dan aneh yang kemudian membuat mulut, bibir, wajah dan pakaian berbau tidak sedap, bau asap rokok.