Indonesia is known as a country with many customs and trdisi that weird or can not digest with common sense. because the story melagenda always exist in every region, either a mystical story or not, which nemun every story lagenda always trusted by the people who inhabit the area.
by that I want to discuss the story that has existed from hundreds of years ago, the story (ma'nene)
Ma'nene's story begins with the story of a hewab hunter named (Pong Rumasek), hundreds of years ago. At that time, he hunted into the interior of the mountain forest Balla. In the midst of his hunt, he found the body of a dead man, lying in the middle of the road in a dense forest. The corpse, his condition is pathetic. His body was just bones to arouse Pong Rumasek heart to treat the body. The body was wrapped in the clothes he wore, as well as finding a decent place to keep the corpse. After he felt safe, then Pong Rumasek continued his hunt.
Since the incident, every time he hunted animals always easily get it, including the fruits that exist in the forest. Strange incident was repeated when (Pong Rumasek) back home. Agricultural crops in his care, apparently harvest faster than usual. In fact, more results. Now, every time he hunts into the jungle of the balla, Pong Rumasek always meets the spirit of the dead he has ever treated. spirits are also always help pong ramasek herded animals that diburunya.
Pong Rumasek also concluded that the bodies of people who have died must remain glorified / keep us on guard, even though it is just bones just bones. Therefore, once every year after the great harvest in August, every Baruppu villager always holds a tradition (Ma'nene), as his ancestor mandated, the late Pong Rumasek.
For the people of Baruppu, Ma'nene ritual is also interpreted as a glue between them. In fact Ma'nene made customary rules that are unwritten always obeyed every citizen. When one spouse dies, the remaining couple should not marry again before holding Ma'nene ritual. Bruppu people consider before performing the customary ritual Ma`nene their status is still considered a legal couple. But, if you've done Ma'nene ritual, then the couple who are alive are considered to be banned and have the right to remarry.
Although the residents Baruppu including Toraja tribe. But Ma'nene's ritual, which is done once a year, is the only ancestral heritage that is still preserved regularly today. Their loyalty to the mandate in command of his ancestors attached to every villager. The inhabitants of Baruppu believe that if the inherited customary provisions are violated then there will come a calamity that struck the whole village. For example, crop failure or one family will suffer prolonged illness. by that the people there always obey the mandate inherited by his ancestors.
In Bugis language, Toraja is defined as a person who inhabits the country up or in the mountains. However, the Toraja people themselves prefer to be called as people (Maraya) or the descendants of nobility named Sawerigading. Unlike the Toraja people in general, the people of Baruppu more familiar with the origin of (Ta`dung Heaven) or who came from the clouds.
Over time Ta`dung Langit disguised as a hunter is settled in the mountainous region Baruppu and mate with Goddess of Earth Fertility. Therefore, it is often seen when the Toraja people die, the corpse is always buried in a stone burrow not on the ground. The tradition is closely related to the life concept of Torajan society that its sacred ancestors came from heaven and earth. So, unduly the person who died, his body was buried in the ground. For them it will destroy the sanctity of the earth that result in the fertility of the earth.
This time, Tumonglo's extended family performed Ma'nene rituals, as in previous years. Since the morning, this family has been preoccupied with a series of ritual activities that begin by cutting buffalo and pigs. For the Tumonglo family as well as most other Toraja people the party is an inseparable part each time honoring the person who is going to nirvana. Although they have many who follow the religions of heaven, customs and traditions inherited by his ancestors is not easily abandoned.
( translit indonesia )
indonesia memang dikenal dengan negara yang banyak adat dan trdisi yang aneh atau tidak bisa di cerna dengan akal sehat. karna cerita melagenda selalu ada di setiap daerah, baik cerita mistis atau bukan, yang nemun setiap cerita lagenda selalu dipercayai oleh masyarakat yang mendiami daerah tersebut.
oleh karna itu saya ingin membahas cerita yang sudah ada dari ratusan tahun silam, yaitu cerita ( ma'nene )
Kisah Ma`nene berawal dari kisah seorang pemburu hewab yang bernama ( Pong Rumasek ), ratusan tahun silam. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk ke pedalaman hutan gunung Balla. Di tengah perburuannya, dia menemukan jasad seseorang yang sudah meninggal dunia, yang tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Mayat itu, kondisinya mengenaskan. Tubuhnya hanya tinggal tulang belulang hingga menggugah hati Pong Rumasek untuk merawat jasad tersebut. Jasad itu pun dibungkus dengan baju yang dipakainya, sekaligus mencarikan tempat yang layak untuk menyimpan mayat tersebut. Setelah dia merasa aman, lalu Pong Rumasek pun melanjutkan perburuannya.
Semenjak kejadian itu, setiap kali dirinya memburu hewan selalu dengan mudah mendapatkannya, termasuk buah-buahan yang ada di hutan. Kejadian aneh pun kembali terulang ketika ( Pong Rumasek ) pulang ke rumah. Tanaman pertanian yang di rawat nya, rupanya panen lebih cepat dari biasa nya. Bahkan, hasilnya lebih banyak. Kini, setiap kali dirinya berburu ke hutan balla , Pong Rumasek selalu bertemu dengan arwah orang mati yang pernah dia rawat. arwah itu pun selalu ikut membantu pong ramasek menggiring binatang yang diburunya.
Pong Rumasek pun berkesimpulan bahwa jasad orang yang sudah meninggal dunia harus tetap dimuliakan / tetap kita jaga, meski itu hanya tinggal tulang belulangnya saja. Maka dari itu, setiap tahun sekali sesudah panen besar di bulan Agustus, setiap penduduk desa Baruppu selalu mengadakan tradisi ( Ma`nene ), seperti yang di amanatkan leluhurnya, mendiang Pong Rumasek.
Bagi masyarakat Baruppu, ritual Manene juga di artikan sebagai perekat silaturahmi di antara mereka. Bahkan Manene di jadikan aturan adat yang tak tertulis yang selalu dipatuhi setiap warga. Ketika salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka pasangan yang masih ada tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan ritual Manene. Masyarakat bruppu menganggap sebelum melaksanakan ritual adat Manene status mereka masih dianggap pasangan suami istri yang sah. Tapi, jika sudah melakukan ritual Ma`nene, maka pasangan yang masih hidup dianggap sudah burjangan dan berhak untuk kawin lagi.
Meski warga Baruppu termasuk suku Toraja. Tapi, ritual Ma`nene yang dilakukan setiap tahun sekali ini adalah satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah yang di perintah kan leluhur nya melekat pada setiap warga desa. Penduduk Baruppu percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar maka akan datang suatu musibah yang melanda seisi desa. Misalnya, gagal panen atau salah satu keluarga akan menderita sakit berkepanjangan. oleh karna itu masyarakat disana selalu mematuhi amanah yang di warisi oleh leluhur nya.
Dalam bahasa Bugis, Toraja diartikan sebagai orang yang mendiami negeri atas atau pegunungan. Namun, masyarakat Toraja sendiri lebih menyukai dirinya disebut sebagai orang ( Maraya ) atau orang keturunan bangsawan yang bernama Sawerigading. Berbeda dengan orang Toraja pada umumnya, masyarakat Baruppu lebih mengenal asal usulnya dari ( Ta`dung Langit ) atau yang datang dari awan.
Lama kelamaan Ta`dung Langit yang menyamar sebagai pemburu ini menetap di kawasan pegunungan Baruppu dan kawin dengan Dewi Kesuburan Bumi. oleh Karena itu, sering terlihat ketika orang Toraja meninggal dunia, mayatnya selalu dikuburkan di liang batu bukan di tanah. Tradisi tersebut erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat Toraja bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Maka, tak semestinya orang yang meninggal dunia, jasadnya dikuburkan dalam tanah. Bagi mereka hal itu akan merusak kesucian bumi yang berakibat pada kesuburan bumi.
Kali ini, keluarga besar Tumonglo melakukan ritual Ma`nene, seperti tahun-tahun sebelumnya. Sejak pagi, keluarga ini sudah disibukkan serangkaian kegiatan ritual yang diawali dengan memotong kerbau dan babi. Bagi keluarga Tumonglo maupun sebagian besar masyarakat Toraja lainnya pesta adalah bagian yang tak terpisahkan setiap kali menghormati orang yang akan menuju nirwana. Meski mereka sudah banyak yang menganut agama-agama samawi, adat dan tradisi yang diwariskan para leluhurnya ini tak mudah ditinggalkan.