Sebenarnya saya tak ingin ikut mengurusi Sukmawati dan puisinya itu—walau sebenarnya tulisan ini juga ikut meramaikan—karena semua orang pasti mengalami senjakala usia dan karir politik. Ada yang semakin bijak, ada juga yang semakin kekanak-kanakan. Lagian siapa sih Sukmawati itu, hanya nama belakangnya (baca: Sukarnoputri) saja yang besar, selebihnya ia bukan siapa-siapa.
Foto: DBR (Koleksi pribadi)
Puisinya yang berjudul “Ibu Indonesia”, baru-baru ini telah menuai banyak kecaman dari khalayak umat Islam Indonesia. Puisinya itu dianggap nyeleneh dan telah menghina Agama Islam. Dalam larik puisinya, ia seakan-akan “menuduh” Syaria’t Islam tidak sesuai dengan budaya ke-Indonesiaan. Ia membandingkan sari konde yang dianggapnya lebih indah dari cadar, atau nyanyian Ibu Indonesia yang lebih indah dari alunan azan. Alih-alih ingin mengkampanyekan keberagaman Indonesia lewat puisinya itu, ia malah hendak “mencabut” Islam dari “taman” keberagaman itu sendiri. Apakah Sukmawati tidak sadar (mabuk) bahwa masyarakat Islam di Indonesia adalah mayoritas penghuni “taman” keberagaman itu?!
Gara-gara Sukmawati yang keblinger dengan puisinya itu juga, tidak sedikit hujatan dan makian yang dialamatkan kepada bapaknya, Sukarno, yang tak lain adalah Proklamator Republik Indonesia. Memang benar Sukmawati mewarisi darah biologis Sukarno, tapi soal mewarisi ideologi bapaknya, saya kira tidak. Karena Sukarno tidak pernah menghina Islam, ia sangat menjunjung tinggi Islam dan tidak pernah membuang Islam sampai akhir hayatnya.
Sukarno seorang penganut Islam yang kritis, ketika mudanya ia kerap ber-ijtihad menafsirkan Syari’at Islam dengan pemikirannya sendiri yang malah dianggap oleh sebagian orang keliru, sampai kemudian menimbulkan polemik tajam antara dirinya dengan tokoh Islam Persis, seperti A. Hassan dan M. Natsir. Namun tidak berarti hubungannya dengan A. Hassan dan M. Natsir retak hanya karena polemik itu. Ia kerap mengirimkan surat kepada A. Hassan dan meminta dikirimkan buku-buku Agama karangan A. Hassan, dan ulama Persis itu pun berbaik hati memenuhi permintaan Sukarno.
Foto: DBR (Koleksi pribadi)
Pernah ketika dalam pembuangannya di Ende pada 14 Februari 1934, Sukarno begitu gusar dan gelisah terhadap misi kristenisasi Katolik Roma di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kala itu ia mengkritik mubaligh-mubaligh Islam yang dianggapnya kurang peduli untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil di ujung timur Indonesia (saat itu masih Hindia-Belanda). Hal itu ia ungkapkan dalam suratnya kepada kepada Serikat Wartawan Muslimin Indonesia (WARMUSI). Dalam suratnya itu juga ia ungkapkan manakala dengan selemah-lemahnya iman, menyebarkan Dakwah Islam dengan bersusah payah dan berhasil meng-Islamkan beberapa pemuda di Ende. Silahkan simak isi suratnya berikut ini:
Ma'afkanlah, bahwa saya baru sekarang (berhubung dengan kapal) bisa menyatakan saya punya terimakasih atas tuan-tuan punya telegram tempo hari. Kepindahan saya ke Bangkahoeloe (Bengkulu) memang satu kemajuan. Tetapi saya punya kediaman di Flores yang empat tahun itu, toh ada faedah yang besar juga kepada saya. Saya di Flores ada kesempatan melihat dari dekat kegiatannya kaum Roomsch Katholiek (Katolik Roma) mempropagandakan agamanya kepada ra'yat yang kafir, dan menjadi saksi pula dari kehidupanya ra'yat di situ yang masih terikat keras oleh keadaan-keadaan feodal—feodal aturan-aturan dunianya, feodal pula di dalam pelbagai 'itiqadnya. Alangkah baiknya jika di Flores itu, Muballighin Islam-modern berterbangan kian kemari. Terhadap kepada kegiatan Roomsch Katholiek-missie itu tidak adalah kegiatan Islam-propaganda sedikitpun juga. Di dalam tempo yang sebentar saja, Roomsch Katholiek-missie bisa mengkristenkan orang 250.000 lebih! Tapi dari pihak Islam boleh dikatakan tak ada kegiatan sama sekali.
Dengan berkat Allah Ta'ala, maka saya di Ende bisa menambah benih Islam-modern di dalam kalbu beberapa pemuda, tapi apa yang saja kerjakan itu hanyalah setetes air saja di dalam lautan, kalau kita ingat keperluan yang sebenarnya.
Moga-moga saya di Bangkahoeloe dikasih kesempatan pula oleh Allah Ta'ala akan menyumbang sekedar kekuasaan saya kepada peri-ke Islaman!
Wassalam,
Soekarno
(Surat Bung Karno kepada WARMUSI dimuat dalam Majalah Pedoman Masjarakat, No. 14 Tahun ke IV, 6 April 1938, dengan judul Commentaar Warmusi ,,Propagandisten Islam, renoengkanlah dan perhatikanlah!"