Gedung diatas kini kita kenal dengan nama Istana Negara. Dulunya ia adalah kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Istana ini punya sejarah yang panjang dan termasuk bangunan bersejarah yang dilindungi.
Istana ini mulai dibangun pada tahun 1796 dan selesai pada 1804, artinya saat istana ini mulai dibangun VOC masih berdiri sebelum bubar pada 1800. Istana ini dibangun oleh seorang pengusaha Belanda, Jacob Andries van Braam sebagai mansion pribadinya. Pada tahun 1820 pemerintah kolonial Belanda menyewa mansion tersebut dan kemudian membelinya pada tahun 1921 untuk digunakan sebagai pusat pemerintahan dan kediaman Gubernur Jenderal kala bertugas di Batavia. Pada saat itu memang kebanyakan Gubernur Jenderal memilih tinggal di Istana Bogor yang lebih sejuk
Warga Batavia ketika itu menyebutnya dengan nama Rijswijk Paleis atau Istana Rijswijk karena terletak di Jl. Rijswijk. Walaupun nama resminya adalah Hotel van den Gouverneur-Generaal. Kata hotel dipakai untuk menghindari kata istana, karena biar bagaimana pun Gubernur Jenderal bukan penguasa/raja, melainkan pejabat pemerintah di bawah Kementerian Urusan Tanah Jajahan Belanda.
Sebagai gedung tua dan menjadi pusat jalannya pemerintahan istana ini menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah yang menimbulkan luka bagi bangsa Indonesia. Gedung ini menjadi tempat dilangsungkannya rapat penumpasan pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa dan Tuanku Imam Bonjol di Minangkabau. Perang Jawa yang memakan banyak biaya tersebut membuat Gubernur Jenderal van den Bosch menerapkan praktik tanam paksa (cultuur stelsel) yang memakan korban ribuan orang, lagi-lagi rapatnya pun diadakan di gedung ini.
Terlepas dari nilai historisnya, ironisnya, bangunan yang menjadi simbol pusat kolonialisme Belanda di Indonesia ini tetap dipertahankan sebagai tempat kediaman presiden Indonesia sejak Soekarno hingga saat ini.
Dibawah ini adalah foto aslinya dalam hitam-putih.
Foto: Het Leven