Alhamdulillah, malam ini kita kembali bertemu dengan tahun baru hijriyah ke-1439--tahun baru umat Islam. Tahun qamariah (dihitung berdasarkan peredaran bulan) ini berjumlah 354 atau 355 hari dalam setahun yang dimulai dari bulan Muharram (30 hari).
Selanjutnya, Shafar (29), Rabi’ul Awal (30), Rabi’u Akhir (29), Jumadil Awal (30), Jumadil Akhir (29), Rajab (30), Sya’ban (29), Ramadhan (30), Syawal (29), Dzuqai’dah (30), dan Dzulhijjah (29/30).
Sayangnya, penanggalan dalam Islam seakan tenggelam di negeri ini. Kita baru sadar penyebutan penanggalan menurut Islam ketika tiba momen penting seperti tahun baru Islam (1 Muharram), Maulid (12 Rabi’ul Awal), Isra Mi’raj (27 Rajab), puasa (Ramadhan), hari raya Idul Fitri (1 Syawal), dan hari raya Haji atau Idul Adha (10 Dzuhijjah).
Padahal tahun Islam ini memiliki makna sangat luas untuk kehidupan kita. Di mana, penamaan “hijriyah” ini tidak lekang dari perjalanan nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi Wasallam dalam memperjuangkan agama Islam yang kita anut hari ini.
Hijrah Nabi
Sebagaimana saya kutip dalam buku Kisah 25 Nabi dan Rasul, karangan Zaid Husein Alhamid dari situs nabimuhammad.info, hijrah pertama dilakukan Nabi kita adalah ke kerajaan Askum yang pimpin Raja An-Najasyi di Habsyi (Habasyah) disebut juga Abbesinia atau Ethiopia, Somalia, dan Eritrea saat ini, tiga negara di Afrika bagian timur--sisi Laut Merah.
Nabi berangkat ke sana bersama 11 orang laki-laki dan 4 perempuan, tepatnya 9 tahun sebelum tahun hijriyah atau tahun 614 masehi. Lalu, tiga bulan kemudian menyusul 72 laki-laki termasuk Utsman bin Affan dan 14 perempuan. Lama di di sana sampai tahun 7 hijriyah atau 15 tahun. Nabi hijrah karena semakin serius prilaku kafir Quaraisy kepada umat Islam dari kaum Muhajirin.
Lalu hijrah kedua setelah Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi) dan ‘Umar bin Khattab masuk Islam dan Quraisy semakin takut. Jumlah umat Islam hijrah kali ini berjumlah 100 orang, terdiri 83 laki-laki dan 17 perempuan. Semenara Nabi tetap berada di Makkah menyebar agama Islam.
Sementara hijrah ketiga pada akhir bulan Shafar atau awal bulan Rab’ul Awal satu tahun sebelum tahun hijriyah atau tahun 622 masehi dilakukan Nabi adalah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Kaum Muhajirin ini diterima dengan baik oleh kaum ‘Anshar. Nabi berangkat belakangan bersama Abu Bakar sampai bersembunyi di gua Tsur karena telah diancam mau dibunuh oleh kafir. Dalam perjalan sempat singgah di Quba dan mendirikan masjid di sana, sebagai masjid pertama.
“Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Surat At-Taubah Ayat 108).
Kalender Hijriyah
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Surat At-Taubah Ayat 36).
Permulaan penggunaan momentum hijriyah, sebagai identitas penanggalan dalam Islam, adalah khalifah kedua, ‘Umar bin Khattab terjadi pada tahun 17 hijriyah atau tahun 638 Masehi. Sebenarnya, penanggalan ini sudah dilakukan sejak masa Rasulullah, kemudian disusun kembali pada masa ‘Umar.
Kalender hijriyah bukan sekadar sebuah sistem penanggalan biasa. Lebih dari itu, bahwa kalender yang dimulai dari Muharram itu adalah sebuah identitas. Jati diri umat Islam. Dipilih Muharram sebagai bulan pertama, padahal hijrah terjadi pada akhir Shafar dan awal Rabi'ul Awal.
Muharram adalah bulan saat para jamaah haji sedang kembali ke kampung halaman. Dari segi kronologi hijrah ke Madinah, maka Muharram dinilai sebagai permulan Nabi hijrah. Di mana, Nabi telah bertekad hijrah sejak Muharram.
Begitu mahalnya hijrah atau hijriyah dalam perkembangan agama Islam ketika zaman Rasulullah bersama shabatnya dan begitu damai kita rasakan saat ini khususnya di negeri ini. Namun sisi lain saudara kita di Myanmar, Palestina, Suriah Irak, dan belahan negara Islam lainnya sedang terluka. Untuk itu agar kita selalu berdoa dan menyumbang bantuan kepada saudara kita tersebut.
Hal lain dalam memaknai hijrah Nabi adalah segi keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah agar kita tingkatkan dari tahun sebelumnya. Terutama shalat lima waktu, berpuasa, menunaikan zakat, berhaji dan mengerjakan segala sunnah Nabi. Kemudian berbuat baik kepada sesama pengguna Steemit, tidak meng-hack akun kawan, tidak mencuri SBD kawan, saling memotivasi, tidak saling menjatuhkan, dan berilah kritikan dengan santun.