Koloni walang sangit ini muncul entah darimana, tiba-tiba saja mereka mengerubungi dahan pohon jambu biji yang aku beli bibitnya seharga lima puluh ribu di Paya Meuneng. Jambu biji itu pernah berbuah sekali dan hanya sebiji saja. Buahnya tumbuh hanya sebesar kepalan tangan anak TK. Aku terlalu dini memetiknya, bersebab khawatir ada tangan lain yang nakal mencurinya.
Walang sangit merupakan hewan pengganggu ketentraman batin para petani. Biasanya mereka hinggap di lahan-lahan tanaman budidaya dan merusaknya. Petani kerap memakai obat kimia untuk mengusirnya. Serangga jelek itu juga memiliki senjata khusus, rongga badannya dapat mengeluarkan bau yang menyengat.
Kendati ia bermusuhan dengan manusia, ia tetap hewan yang berguna, setidaknya ia berguna untuk objek fotografi. Hehehe.