Pada zaman dahulu, ada seorang gadis cantik keturunan bangsawan yang tinggal didekat sungai. Hidupnya sangat berkecukupan sehingga dia tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhannya. Nama gadis tersebut adalah Cut Intan. Wajahnya cantik dan menawan. Tidak heran jika dia menjadi idola di kampungnya. Cut Intan tinggal dirumah Aceh yang megah, rumah ciri khas para bangsawan. Aktivitas sehari-hari Cut Intan sama dengan aktivitas para wanita Aceh pada umumnya. Setiap hari dia memasak, membersihkan rumah dan mencuci pakaian.
Suatu hari, seperti biasa, Cut Intan turun kesungai yang berada tepat di belakang rumahnya untuk mencuci pakaian. Cut Intan mencuci pakaiannya hingga selesai. Setelah itu, dia membawa cucian dan pulang kerumahnya. Ketika dia melewati kandang ayam yang ada dibelakang rumah, dia menemukan sebutir telur. Cut intan mengira itu adalah telur ayam yang dipeliharanya, karena telur itu sangat mirip dengan telur ayam. Tanpa berfikir panjang, Cut Intan mengambil telur tersebut dan membawanya pulang untuk dimasak sebagai lauk makan siangnya.
Sesampainya dirumah, Cut Intan menjemur pakaian yang tadi di cucinya. Setelah mencuci, Cut Intan masuk kedalam rumahnya untuk memasak. Dilihatlah telur yang tadi dia ambil dari kandang ayamnya. Aroma masakan Cut Intan sangat enak membuatnya tidak sabar menyantap makan siangnya. Cut Intan makan dengan sangat lahap. Karena terlalu kenyang, Cut Intan akhirnya tertidur. Namun, baru sebentar dia tertidur, Cut Intan merasa sangat haus dan gerah. “Mungkin karena cuaca yang begitu panas” fikirnya. Dia semakin merasa gerah dan kehausan. Cut Intan kemudian keluar untuk mencari air. Dia mengambil gelas didapur dan meminum air yang ada di teko diatas meja. “mengapa aku masih merasa haus?’ tanyanya dalam hati. Padahal Cut Intan menghabiskan semua air yang ada dalam teko tersebut. Merasa belum cukup, Cut Intan pergi kedapur dan menghabiskan air dalam guci, masih belum hilang juga hausnya. Cut Intan pergi ke sumur yang ada didepan rumahnya. Air dalam sumur tersebut menjadi kering karena dihabiskan oleh Cut Intan. Tetapi Cut Intan masih merasa sangat haus. Tanpa berfikir panjang, Cut Intan mengambil sebuah papan yang disebut papan “peulangan”. Papan ini digunakan untuk menyatukan bagian-bagian dari rumah Aceh. Dengan menggunakan papan tersebut, Cut Intan turun kesungai.
Tiba-tiba turun hujan lebat disertai petir yang menggelegar dan membuat air sungai naik. Cut Intan tidak peduli karena dia merasa sangat haus. Dia terus mengayuh papan tersebut hingga ketengah sungai. Saat Cut Intan sampai ketengah sungai, datanglah air bah yang menghanyutkan Cut Intan. Saat papan tersebut muncul kembali, Cut Intan tidak terlihat, akan tetapi ada seekor ular raksasa diatas papan yang Cut Intan naiki tadi. Masyarakat percaya bahwa ular tersebut adalah jelmaan dari Cut Intan karena memakan telur ular. Telur yang dia fikir adalah telur ayam, ternyata merupakan telur ular.
Hingga sekarang, orang percaya jika Cut Intan akan datang ke sungai “Krueng Baro” ketika air sungai meluap. Oleh karena itu, orang tua melarang anaknya bermain dipinggir sungai jika air sungai penuh dan meluap agar tidak diambil oleh Cut Intan.
Cerita ini hanya sebuah dongeng sebelum tidur orang-orang tua di Sigli yang belum bisa dipastikan kebenarannya.
THE STORY OF CUT INTAN (KAB. PIDIE)
Once upon a time, there was a beautiful girl of noble descent who lived near the river. Her life was very affluent so she didn't have to work hard to fulfill all her needs. The girl's name was Cut Intan. She was beautiful and charming. No wonder, she became an idol in her village. Cut Intan lived in a magnificent Acehnese house, the hallmark of the nobles. Cut Intan's daily activities were the same as those of Acehnese women in general. Every day she cooked, cleaned the house and washed clothes.
One day, as usual, Cut Intan went down to the river which was behind her house. He wanted to wash her clothes. Cut Intan washed her clothes until finished. After that, she took the laundry and went home. When she passed the chicken coop behind the house, she found an egg. Cut Intan thought it was a chicken egg that she kept, because the egg was very similar to a chicken egg. Without any thinking, Cut Intan took the egg and brought it home and cooked it for a lunch.
Arriving at home, Cut Intan dried the laundry that she had washed. Then, Cut Intan went into her house to prepare her lunch. The aroma of Cut Intan's cooking was so delicious and made her couldn’t wait to eat her lunch. Cut Intan ate very voraciously. Because she was too full, Cut Intan fell asleep. However, just for a moment she fell asleep, Cut Intan felt very thirsty and hot. "Maybe because the weather is so hot" she thought. He was getting hotter and thirstier.So, Cut Intan went out to find water. He took a glass in the kitchen and drank the water in the teapot on the table. "Why do I still feel thirsty?' she asked herself. Even though Cut Intan drank all the water in the teapot.She didn’t felt enough, Cut Intan went to the kitchen and drank all water in the jar, but it still not enough. She still felt thirsty. Cut Intan went to the well in front of her house. The water in the well became dry because it was spent by Cut Intan. But Cut Intan still felt very thirsty. Furthermore, Cut Intan took a board called the "return" board. These boards are used to unite parts of Acehnese houses. Using the board, Cut Intan went down the river.
Suddenly it rained heavily followed by thundered and made the river rise up. Cut Intan didn't care because she was very thirsty. He continued to paddle the board until it reached the middle of the river. When Cut Intan reached the middle of the river, a flood came and washed away Cut Intan. When the board reappeared, Cut Intan wasn’t there, but there was a giant snake on the board that Cut Intan was riding on. People believe that the snake is the incarnation of Cut Intan because it eats snake eggs. The egg that she thought was a chicken’s egg. Exactly, it was a snake’s egg
Until now, people believe that Cut Intan will come to the "Krueng Baro" river when the river overflows. Therefore, parents forbid their children to play by the river if the river water is full and overflows so that Cut Intan will take them.
This story is just a lullaby of old people in Sigli whose the truth cannot be ascertained.