Kepada Buku-Buku: Inilah surat yang kutulis secara sadar kepada kalian semua. Semoga kalian maklum dengan petingkahku yang rada-rada absurd, di luar nalar, dan sama sekali tak masuk akal ini. Kasat mata, kalian semua hanyalah benda mati. Mana bisa pula surat ini akan kalian baca, dan agak gila juga jika aku berharap lebih bahwa dengan bersurat kalian bisa maklum dan mengerti.
Atas sesuatu yang serba absurd dan tak mungkin itulah aku berani menulis surat begini rupa. Hitung-hitung apa yang tengah mengganjalku dalam setahun terakhir, terutama setelah menyaksikan kalian teronggok rapi dan berdebu di rak, paling tidak, bisa tersalurkan dan pikiranku jadi lebih plong, tak lagi tersumbat layaknya got pinggir jalan kota yang dibangun seadanya.
Setahun lewat aku tetap membeli salah satu di antara kalian, meski tidak terlalu rutin seperti dulu-dulu itu. Seperti dulu-dulu itu, aku jadi ingat masa-masa kere, sekere-kerenya, sementara keinginan untuk memiliki buku terus membuncah dalam pikiran hingga dengan mengucap istighfar berkali-kali, aku terpaksa meminjamnya secara permanen dari rak pustaka wilayah dan pustaka kampus. Tapi kalimat istighfar khusus untuk aktivitas itu otomatis tak terucap lagi, tepat ketika status kemahasiswaanku berakhir setelah wisuda.
Aku amat sangat bersyukur terlepas dari beban pada masa sekere-kerenya itu. Beban kepingin punya buku, tak punya uang, sementara isian rak pustaka wilayah dan pustaka kampus selalu saja menampilkan diri dalam pose yang menggiurkan, sampai-sampai aku bertaruh dengan diri sendiri untuk menebalkan keberanian. Dan peristiwa pinjam permanen yang kulakukan sepihak itu sukses berlangsung berulang kali. Celaka betul aku ini, meski waktu itu aku terus mengarang alasan pembenaran, seperti, "Kau tak perlu terlalu merasa berdosa mencuri buku di pustaka yang isiannya menghabiskan uang negara." Atau, "Mengambil buku di pustaka wilayah dan pustaka kampus boleh, asal tidak dari pustaka pribadi apa lagi di toko buku."
Tapi seperti kukata sebelumnya, akhir-akhir ini kehadiran kalian terus bertambah. Judul ke judul terus masuk dan menumpuk dalam rak. Perihal yang sama sekali belum bisa kuhentikan hingga hari ini. Memang, aku sama sekali tak punya keinginan dan niat untuk berhenti. Hanya saja, ini yang terpenting, aku seperti sudah tak punya waktu lagi untuk mengenali masing-masing kalian satu per satu. Ihwal inilah sebenarnya yang mengganjalku seperti kusebut tadi sehingga merasa harus berterus terang dalam surat ini.
Tentu saja merasa tak punya waktu adalah sama modelnya dengan alasan pembenaran yang dulu-dulu itu. Namun nyatanya, kalian terus mengada untuk kemudian menjadi asing dan mengharu-debu di dalam rak sana. Aku sadar dengan kondisi tak wajar seperti ini. Bagaimana pun juga, buku yang diacuhkan pemiliknya, yang dibeli tanpa dibaca adalah perbuatan sia-sia dan itu hanya akan berujung pada kerugianku semata. Apalagi kalau mengingat, banyak juga buku-buku yang terbeli dengan uang pengganjal perut--uang makan maksudnya. Efeknya ganda: ringkih tubuh, otak tumpul seperti semula. Celaka betul!
Pulang ke rumah dan mendapati rak buku rapi seperti tahun sebelumnya kerap membuatku merasa terasing sendiri. Aku sering berpikir hal serupa berlaku juga dengan kalian semua. Peristiwa-peristiwa kecil seperti lembar halaman kalian yang sengaja kutandai dengan coretan kecil, dengan lipatan-lipatan penanda, atau bahkan terciprat kopi atau terpercik kuah asam keu-eueng, kini telah jarang terjadi. Demi asing yang kualami, pun keterasingan sama yang mungkin juga kalian rasakan, aku merasa bersalah sendiri. Aku galau tak perlu, tapi bikin benak menggerutu. Barangkali apa yang kutulis panjang lebar di sini adalah efek gerutuan yang menumpuk, tindih bertindih.
Sudah demikian adanya. Sedemikian kesadaran yang kupunya, pertanyaannya, kenapa aku tidak langsung saja membunuh keterasingan itu dengan membaca kalian satu per satu? Aku telah berusaha. Tapi lagi-lagi. Celaka betul. Aku sering merasa tak punya waktu berlama-lama dengan buku-buku yang ada. Kadang ketika waktu itu ada, tengah malam begini misalnya, aku berulangkali berusaha duduk berhadap-hadapan dengan buku di teras rumah ditemani segelas kopi dan rokok, sementara gawai nangkring di meja sebagai pihak ketiga. Kau tahu? Gawailah setan pengganggu itu, yang merampas banyak waktu, sampai-sampai aku merasa kerja otakku kian hari aku kian tumpul belaka.
Maka kepada buku-buku. Yang telah berhasil kucuri dan telah habis kubaca. Yang telah terbeli, telah habis kubaca. Yang telah terbeli tapi belum habis terbaca atau yang belum sama sekali terbuka plastik pembungkusnya. Sejujurnya aku menulis surat ini bukan untuk kalian semua kecuali untuk sendiri belaka. Aku marah pada gawai yang selalu dirancang kompatibel untuk semua jenis permainan, dan itu bikin aku candu. Candu yang tak lebih sama dengan seorang junkies sakau narkoba. Aku ingin tobat dari candu konyol ini, tapi demi mengingat level game yang telah kumainkan sejak dua tahun lalu, aku bertekuk lutut dengan sendirinya. Buku-buku, ini betulan celaka. Sampai jumpa di surat pengakuan dosa selanjutnya. Sekian dan wassalamu...