Halo semua, apa kabar? Masih kuat bertahankah? Haha.
(Pic source: Nano banana generated. Mana ada orang ngetik layarnya miring begitu)
Saya tadi baru baca tulisan terkait kinerja akun
, sungguh mantab. Delegasi ke
memang oke, saya pribadi berniat menaikkan delegasi supaya dapat hive harian dengan porsi yang lumayan. Highly recommended.
Setelah baca tulisan itu, somehow saya jadi baca-baca tulisan di Hive. Curation mode on. Dan saya lihat banyak sekali tulisan dibikin dengan AI. Hehe. Saya sehari-hari bekerja dengan AI (buat ngoding), sampai hapal bentuknya gak perlu pakai AI checker. Tulisannya sudah pasti buruk dan membingungkan. Tidak berkarakter.
AI memang bikin hidup jadi mudah. Kita suruh dia menulis, maka menulislah dia. Tulisan outputnya terlihat meyakinkan, padahal ampas. Secara psikologis, mungkin kita puas dengan hasilnya. Tapi sama seperti ngoding dengan AI, output dari AI ini sebetulnya masih sangat perlu di-cek dengan amat sangat seksama.
AI jarang salah kaprah secara struktur, tapi sering salah arah secara makna. Tulisan AI biasanya terlalu rapi. Paragrafnya simetris. Poinnya berurutan. Tapi anehnya, kosong. Tidak ada pengalaman personal. Padahal justru itu yang bikin tulisan manusia hidup.
AI didesain untuk membantu dan menyenangkan hati manusia. Untuk mencapai itu, dia bahkan bisa sampai harus berhalusinasi. Dengan sangat percaya diri dia akan memberi solusi, yang ketika dilihat baik-baik, ternyata banyak yang tidak akurat alias meleset.
Untuk itu, sebagai manusia pemakainya, kita mesti pintar menempatkan diri. Role AI saat ini (gak tahu, mungkin tahun depan bisa lebih pintar), adalah untuk diperlukan sebagai asisten. Anggap saja pegawai junior. Dia bisa menulis, bisa berpikir, tapi pikiran dan tulisannya masih kacau, perlu dibimbing. Fungsi pembimbing ini yang perlu kita ambil posisinya.
Menyerahkan end product pada junior tentu bukan langkah yang bijak. Rawan mengacau. Tapi dia bisa membantu. Terutama di fase drafting, membuat kerangka, menelaah kesalahan gramatikal atau typo, intinya, tugas-tugas manual yang melelahkan, itu yang seharusnya bisa didelegasikan kepadanya.
Saya masih percaya bahwa manusia-lah yang seharusnya memiliki kontrol penuh pada output. AI membantu, tapi jangan pasrah padanya, karena sebenarnya dia juga belum pintar-pintar amat.
Jadi bagaimana tips menulis dengan AI?
Hehe. Sebenarnya tidak ada tips semacam itu. Intinya, AI masih sering ngaco. Mungkin beberapa tahun lagi bisa lebih pintar lagi. Jadi sekarang, manusia sebaiknya menulis sendiri dulu, biar persona dan karakter penulisnya bisa nongol.
Selama AI belum bisa merasakan sakitnya patah hati, belum bisa ngerasa minder, belum bisa merasa gagal, saya masih percaya manusia punya keunggulan.
Saya bukan anti AI ya. Jauh sekali. Saya pro AI. Tapi masalahnya bukan di AI, melainkan di kita penggunanya yang ingin hasil instan. AI itu cuma alat. Sama seperti kamera, punya kamera canggih tidak otomatis membuat orang jadi fotografer.
Di Hive, kalau kita mulai cuek dan tetap mengapresiasi tulisan instan yang tidak ada jiwanya, lama-lama standar kita turun. Dan kalau standar turun, kualitas komunitas ikut turun. Nilai kurs boleh turun, tapi sebaiknya ada value yang tetap harus dijaga bukan?
Maaf ya judulnya misleading. Tapi menurut kalian gimana? Apakah AI di Hive ini baik atau buruk?
N.B
Tulisan ini dibuat setelah saya kelelahan melakukan code review hasil AI generated. Capek aing!