BAGI kami masyarakat Aceh yang bertempat tinggal di kawasan pesisir pantai, Dataran Tinggi Gayo merupakan destinasi yang paling sering kami kunjungi. Saya sendiri sudah mulai punya mimpi berkemah atau berwisata ke Takengon, sejak maish duduk di bangku sekolah dasar.
Awalnya saya hanya mendengar cerita ketika bapak saya yang seorang guru sekolah dasar, mengikuti pelatihan di Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Kota ini dikisahkan sangat dingin.
Warga di sana, mulai dari yang paling kecil hingga yang paling tua, semuanya menggunakan jaket tebal pada siang hari. Pada malam hari, karena tak punya mesin pemanas ruangan seperti masyarakat di Eropa, banyak yang membuat api unggun di luar rumah. Mereka menghangatkan badan di luar. Setelah dirasa cukup, masuk ke rumah untuk beristirahat.
Cerita ini saya dengar di era tahun 80an. Namun ketika saya pertama kali ke sana, cuaca ekstrem itu sudah mulai berkurang. Memang iya, masih banyak terlihat warga menggunakan jaket. Tapi sudah tidak semua. Anak-anak muda cukup menggunakan baju kemeja yang cukup tebal. Sementara yang tua tetap berjaket ria.
Begitupun, hingga kini saya tetap merindukan suasana dataran tinggi ini. Bagi saya, Dataran Tinggi Gayo adalah surga dunia yang paling mudah saya capai. Menikmati musik tradisional dan suara penyanyi lokal sembari menikmati kopi Arabika, salah satu kopi yang pernah duduk di peringkat nomor satu sebagai kopi termahal di dunia. Baca beritanya:
Sekarang, meski sedang tidak berada di Takengon, saya bisa menikmati Kopi Gayo di mana pun saya berada. Di Manado, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan bahkan di Lombok, sudah ada yang menjual Kopi Gayo.
Bahkan mungkin hampir di semua kota besar yang saya belum mencobanya.
Hujan, angin, iringan musik dan kopi adalah empat kata yang sudah cukup untuk membuat landskap imajiner dataran tinggi Gayo di kepala saya.
Bagaimana dengan Anda?