ACEH has hundreds of traditional games, both relying on physical strength and mental strength or a combination of both. There are traditional games that involve parents, there are those played by children, or there are also a combination of both.
Advances in digital technology and the invasion of social media have made the younger generation forget traditional games. They spend more time with gadgets and are addicted to online games. In fact, traditional Acehnese games have the value of wisdom, building social intelligence, apart from educating children to think quickly, intelligently and strategically in a team.
Traditional games have many benefits compared to gadgets that make children antisocial. One of the traditional games that Acehnese children have now forgotten is tarek situek. This game is played by at least two people, but usually the more children the more exciting it is.
The game tarek situek is a game that is commonly played by other children in several regions in Indonesia, perhaps with a different name. For example, in the film Laskar Pelangi there is also a scene of children playing a similar game.
The dance tarek situek performed by three dancers, was inspired by a traditional game using areca nut tree fronds. This dance shows the joy of children when they meet and they agree to play tarek situek.
At first, the dance movements displayed movements that expressed joy like children playing. This movement is extracted from the basic movements of Acehnese dance which are expressive, attractive and polite in every movement.
Then the dancers draw lots by tapping each other's fingers to determine the winner. Whoever wins is the one who gets to sit on the site and is pulled by his friend. In the next movement, alternately pull the areca nut stems. The game was repeated alternately and the children really enjoyed it.
However, the tarek situek dance movement is not a monotonous movement. This dance also carries an educational message where the children involved in it have social intelligence and the ability to interact with their friends, apart from training children's motor skills.
The main property used in the tarek situek dance is the areca nut stem. However, other properties such as grass can also be used to describe a beautiful, cool and healthy village atmosphere. Tarek situek can also only be depicted symbolically and with movement, not visually two dancers pulling another dancer. In essence, this dance reminds of traditional games which must be preserved amidst advances in digital technology.[]
Kecerdasan Sosial dalam Tarian Tarek Situek
ACEH memiliki ratusan permainan tradisional, baik yang mengandalkan kekuatan fisik maupun kekuatan pikiran maupun gabungan keduanya. Ada permainan tradisonal yang melibatkan orang tua, ada yang dilakukan anak-anak, atau ada juga gabungan keduanya.
Kemajuan teknologi digital dan serbuan sosial media membuat generasi muda melupakan permainan tradisional. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget dan ketagihan dengan game online. Padahal, permainan tradisional Aceh memiliki nilai kearifan, membangun kecerdasan sosial, selain mendidik anak-anak berpikir cepat, cerdas, dan strategis dalam sebuah tim.
Permainan tradisional memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan gadget yang membuat anak-anak menjadi antisosial. Salah satu permainan tradisional yang kini dilupakan anak-anak Aceh adalah tarek situek. Permainan ini minimal dimainkan dua orang, tetapi biasanya makin banyak anak-anak makin seru.
Permainan tarek situek adalah permainan yang lazim dilakukan anak-anak lain di beberapa daerah di Indonesia, mungkin dengan nama berbeda. Misalnya dalam film Laskar Pelangi juga ada adegan anak-anak melakukan permainan serupa.
Tarian tarek situek yang dibawakan tiga penari, terilhami dari permainan tradisional dengan menggunakan pelepah pohon pinang. Tarian ini menampilkan kegembiraan anak-anak saat bertemu dan mereka sepakat bermain tarek situek.
Pada awalnya, gerakan tarian menampilkan gerakan yang mengekspresikan kegembiraan layaknya anak-anak yang sedang bermain. Gerakan tersebut disarikan dari gerakan dasar tarian Aceh yang ekpresif, atraktif, sekaligus santun dalam setiap gerakannya.
Kemudian para penari melakukan undian dengan saling suwit dengan jemari untuk menentukan pemenang. Siapa yang menang, maka dia yang mendapatkan jatah duduk di atas situek dan ditarik oleh kawannya. Dalam gerakan berikutnya, secara bergantian menarik pelepah pinang. Permainan itu dilakukan berulang secara bergantian dan anak-anak sangat menikmatinya.
Namun, gerakan tarian tarek situek bukanlah sebuah gerakan yang monoton. Tarian ini juga membawa pesan edukasi di mana anak-anak yang terlibat di dalamnya memiliki kecerdasan sosial dan kemampuan beriteraksi dengan teman-temannya, selain melatih kekuatan motorik anak-anak.
Properti utama yang digunakan dalam tarian tarek situek adalah pelepah pinang. Namun, properti lain seperti rerumputan bisa juga digunakan untuk menggambarkan suasana perkampungan yang asri, sejuk, dan menyehatkan. Tarek situek bisa juga hanya dilukiskan secara simbolik dan gerakan, tidak secara visual dua penari menarik satu penari lainnya. Intinya, tarian ini mengingatkan kembali permainan tradisional yang harus tetap dilestarikan di tengah kemajuan teknologi digital.[]