Pada dinding underpas ujung barat jembatan Krueng Cut, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh berbagai mural digambar oleh pelukis jalanan. Mereka menyampaikan ide dan kritikan dan pesan-pesan sosial.
Pada dinding undepas itu saya melihat dari beberapa gambar yang dilukis, salah satunya yang menyolok adalah mural kepada ikan marlin (istiopak indica). Lukisan mural moncong ikan marlin memang cocok berada di situ, karena itu merupakan jalan menuju ke muara Alue Naga, tempat para nelayan setiap hari membawa pulang hasil tangkapan.
Tapi saya kurang paham apa pesan yang ingin disampaikan melalui mural itu, dan mengapa ikan marlin yang menjadi objek, bukan ikan-ikan jenis lain yang dilindungi, sebagai bentuk kampanye dan perlindungannya.
Sayangnya belakangan mural yang dibuat dengan sangat bersahaja itu sudah dikotori dengan coretan-coretan vandalisme di sekiratnya, seolah ada tangan-tangan jahil yang menambahkan gambar dan kata-kata tidak pantas di sekitar mural tersebut.