(This is a bilingual post, find the Bahasa Indonesia version at the bottom section)
Last Friday was a long weekend in Indonesia. It was a good opportunity for my wife and me to eat out. We decided to try Sop Ikan Ternate, located on Jalan Salihara in the Pasar Minggu area of South Jakarta.
We had been eyeing this Sop Ikan Ternate shop for a few weeks. A few weeks prior, we were jogging in the Universitas Indonesia area in Depok. After jogging, we intended to find a place for brunch. But it turned out Depok didn't offer many interesting options. So, we looked for alternatives, searching via Google along the route of Tebet - Pasar Minggu - Kalibata up to Cikini. The choice fell on Pasar Minggu because we rarely go there. And Sop Ikan Ternate sounded very interesting, as fish cuisine from Eastern Indonesia is always delicious.
So off we went to Salihara using the TransJakarta bus. To get to this area, you can use Bus route 6U or 9D, depending on where you depart from. The fare is Rp. 3,500. Or by train, though the walk from the station is a bit far. You can also use JakLingko, the friendly small angkot (minivans) with a fare of Rp. 0. Yes, I am a public transport fan, and in Jakarta, public transportation is the best in Indonesia. I hope other cities will soon have similar facilities.
Salihara is a pleasant area. Jalan Salihara isn't a large street, but generally, people remember that on this street lies a significant art and culture community in Indonesia: Komunitas Salihara (Salihara Community), with its performance hall that is a must-visit at least once in a lifetime.
Along Jalan Salihara, besides the Salihara theater building, rows of cafes and eateries stand tall. I remember this street used to be very congested and crowded. But I was lucky; last Friday afternoon, the street was relatively quiet.
We walked along Jalan Salihara, enjoying the atmosphere and nostalgia because we used to have some jobs in this area. Not too much has changed. Not long after, we arrived at our destination: the Sop Ikan Ternate shop.
The shop isn't too big, but quite spacious. When I arrived, it was right at lunchtime, yet still quiet. There was only one other customer who had almost finished eating.
My wife and I ordered the Tuna Fish Soup and Cakalang Penyet (smashed skipjack tuna), complete with fried tofu and lalapan (fresh raw vegetables).
When the order arrived—whoah, the sambal (chili paste) was intense! I am a failed ASEAN citizen; I cannot eat spicy food (I also don't eat durian). Although the sambal at Sop Ikan Ternate made me suffer from the heat, strangely, I still liked it. Perhaps because I was hungry. Hahaha.
Initially, I wanted to order Es Pisang Ijo (Green Banana Ice) as well. But it turns out they don't serve this menu item anymore. Oh well.
The Tuna Fish Soup was delicious; the broth was full of the aroma of tomatoes, lemon basil (kemangi), coriander leaves, and chili—everything was purely fresh. The Cakalang was savory and dry, with a fierce, biting sambal, but if swept with the soup broth, it immediately dissolved and felt delicious on the tongue.
In less than half an hour, everything on the table was finished without a trace. I, who am often tormented when eating spicy food, was still busy chasing the lingering heat from my mouth and tongue.
I thought milk or coffee would help overcome this. So after that, we decided to go to the nearest coffee shop. This is Salihara, so finding a coffee shop is extremely easy.
We walked less than 70 meters and finally found a small shop named Salihara Patro.
This cafe is small and very quiet. But the place is nice for cooling off. We ordered cappuccinos. Pretty good. Especially if the goal was to drive away the spiciness, then that goal was achieved.
I like the atmosphere of Salihara. In the future, I will definitely come here again. There are many cafes worth trying, and watching performances at the Salihara Theater is also always enjoyable.
Not long after, we went home, walking to the Pasar Minggu station. Passing the legendary traditional market, the aroma of the wet market reminded us that we are indeed in Southeast Asia. There are no skyscrapers here. And that is pleasant. The only less pleasant thing is just the issue of cleanliness. But that’s another matter; let’s discuss that another time.
For now, that is all, and thank you for reading. My stomach is full, and the world feels so calm and peaceful.
Bahasa Indonesia
Jumat kemarin adalah long weekend di indonesia. Ini adalah kesempatan yang baik buat saya dan istri saya untuk makan di luar. Kami memutuskan untuk menjajal Sop Ikan Ternate yang terletak di Jalan Salihara, di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Kami sudah mengincar Kedai Sop Ikan Ternate ini sejak beberapa minggu sebelumnya. Ceritanya, beberapa minggu sebelumnya, kami jogging di kawasan Universitas Indonesia, Depok. Sehabis jogging, kami berniat mencari tempat untuk brunch. Tapi ternyata Depok tidak menawarkan banyak hal yang menarik. Jadilah kami mencari alternatif lain, mencari-cari lewat Google menuju arah Tebet - Pasar Minggu - Kalibata sampai Cikini. Pilihan jatuh ke Pasar Minggu karena kami jarang sekali kesana. Dan Sop Ikan Ternate terdengar sangat menarik, karena masakan ikan olahan dari kawasan timur Indonesia sungguhlah lezat.
Maka berangkatlah kami ke Salihara menggunakan bus transjakarta. Untuk menuju area ini bisa menggunakan Bus jalur 6U atau 9D, tergantung berangkatnya dari mana. Tarif perjalannya Rp. 3500. Atau dengan kereta api, tapi nanti dari stasiun agak jauh berjalan kaki. Bisa juga dengan jaklingko, angkot kecil bersahabat dengan tarif Rp. 0. Ya, saya penggemar transport umum, dan di Jakarta, transportasi umumnya adalah yang terbaik se-Indonesia. Saya harap kota-kota lain akan segera punya fasilitas serupa.
Salihara adalah kawasan yang menyenangkan. Jalan Salihara bukan jalan yang besar, tapi umumnya orang akan ingat kalau di Jalan ini terdapat sebuah komunitas seni budaya yang cukup signifikan di Indonesia: Komunitas Salihara, dengan gedung pertunjukannya yang wajib dikunjungi sekali seumur hidup.
Di sepanjang jalan Salihara, selain gedung teater Salihara yang berwibawa, berderet kafe dan tempat makan berdiri. Saya ingat jalan ini sering macet dan ramai sekali. Tapi saya beruntung Jumat siang kemarin, jalan ini relatif sepi.
Kami menyusuri Jalan Salihara dengan berjalan kaki. Menikmati suasana dan nostalgia karena dulu ada saja urusan untuk pergi ke area ini. Tidak terlalu banyak yang berubah. Tidak berselang lama kemudian, sampailah kami ke tujuan: kedai Sop Ikan Ternate.
Kedai ini tempatnya tidak terlalu besar, tapi cukup lega. Sewaktu Saya tiba, sudah pas jam makan siang, tapi masih sepi. Hanya ada satu pelanggan lain yang sudah hampir selesai makan.
Saya dan istri memesan Sop ikan tuna, dan ikan cakalang penyet, lengkap dengan tahu goreng, dan lalapan.
Sewaktu pesanan datang, whoah, sambalnya mantab nian! Saya adalah warga ASEAN yang gagal, saya tidak bisa makan pedas (saya juga tidak makan durian). Sambal di Sop Ikan Ternate ini meskipun membuat saya menderita kepedesan, tapi anehnya, saya tetap doyan. Barangkali karena lapar. Hahaha.
Tadinya saya ingin juga pesan es pisang ijo. Tapi apa boleh buat, ternyata mereka tidak menyediakan menu ini lagi. Baiklah.
Kami makan dengan lahap. Olahan Sup Ikan Tuna nya enak, kuahnya penuh dengan aroma tomat, kemangi, daun ketumbar, dan cabai, semuanya segar belaka. Ikan cakalangnya gurih dan kering, dengan sambal yang ganas menggigit, tapi jika disapu dengan kuah sop, langsung larut dan nikmat di lidah.
Tidak sampai setengah jam, semua menu di meja sudah habis tak bersisa. Saya yang sering tersiksa jika makan pedas, masih sibuk mengusir sisa pedas dari mulut dan lidah.
Saya pikir kopi susu akan membantu mengatasi ini. Jadi sehabis itu kami memutuskan untuk pergi ke kedai kopi terdekat. Ini Salihara, jadi menemukan kedai kopi sungguh teramat mudah.
Kami hanya berjalan kurang dari 70 meter, dan akhirnya menemukan sebuah kedai kecil bernama Salihara Patro.
Cafe ini kecil dan sepi sekali. Tapi tempatnya enak untuk ngadem. Kami memesan cappuccino. Lumayan enak. Apalagi jika tujuannya adalah untuk mengusir pedas, maka tujuan tersebut tercapai.
Saya suka suasana Salihara. Besok-besok pasti saya akan ke sini lagi. Banyak cafe yang layak dicoba, dan menonton pertunjukan di Teater Salihara juga selalu menyenangkan.
Tidak berapa lama kemudian kami pulang, berjalan kaki menuju stasiun Pasar Minggu. Melewati Pasar tradisionalnya yang legendaris, aroma Pasar basah yang mengingatkan kita bahwa kita memanglah sedang di Asia Tenggara. Tidak ada pencakar langit di sini. Dan itu menyenangkan. Yang kurang menyenangkan hanya soal kebersihan saja. Tapi itu lain soal, mari kita bahas di lain waktu.
Untuk saat ini, sekian dan terimakasih telah membaca. Perut saya kenyang dan dunia terasa begitu tenang dan damai.