That afternoon our trip was delayed by heavy rain that hit the village of Suka Damai SP 1, Geureudong Pase, North Aceh Regency. Initially, my friend and I wanted to continue our journey to the Krueng Pase area, which is located under the Suka Damai village. However, heavy rain stopped us at a traditional snack home made that is quite familiar in Indonesia, Kerupuk/Crackers Jangek
Siang itu perjalanan kami tertunda oleh hujan deras yang melanda kawasan Desa Suka Damai SP 1, Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara. Awalnya saya dan teman ingin melanjutkanr perjalanan ke kawasan Krueng Pase yang terletak di bawah desa suka damai tersebut. Namun hujan lebat menghentikan kami di sebuah gubuk produksi snack tradisional yang cukup familiar di Indonesia, Kerupuk Jangek
This community-owned micro business in Suka Damai village was an unexpected object we got that day when we intended to go hunting in the Krueng Pase area. His name is Pak Lukiman. He is a Javanese-Sumatran father who has 4 daughters and one youngest son. The rain never stopped, we had a long chat while watching the production of Jangek crackers at his production house.
Usaha mikro milik masyarakat di desa Suka Damai ini menjadi objek yang tak terduga kami dapatkan hari itu yang berniat untuk hunting di kawasan Krueng Pase. Nama beliau Pak Lukiman, Ia bapak berdarah Jawa-Sumatra yang memiliki 4 orang putri dan satu bungsu anak laki-laki. Hujan tak kunjung reda, kami berbincang panjang sembari menyaksikan aktivitas produksi kerupuk Jangek di Rumah produksi miliknya.
The business belongs to Pak Lukiman, who is the business of his parents in his village in Pematang Siantar, North Sumatra. However, since settling in Aceh, he has tried to develop this business in an area. He lives in a rural sub-district in North Aceh district, Aceh province.
Usaha ini adalah milik pak Lukiman yang merupakan usaha orang tuanya di kampung beliau di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Namun semenjak menetap di Aceh, beliau mencoba mengembangkan usaha ini di kawasan Ia tinggal di salah satu kecamatan terpencil di kabupaten Aceh Utara, provinsi Aceh itu.
It is interesting to see this Jangek cracker business done in a traditional way, all processes are done manually. Starting from making crackers, then frying them, then frying them really grabbed the attention of me and my friends.
Menarik sekali melihat usaha kerupuk jangek ini dikerjakan dengan cara tradisional, semua prosesnya dilakukan secara manual. Mulai dari pembuatan kerupuk, kemudian digongseng, selanjutnya di goreng sangat menyita perhatian saya dan teman-teman.
There is no large-scale industrial equipment there, everything is cooked using firewood and a stove which is made of fairly dense soil. The process of frying the Jangek crackers is unique before the crackers are poured into a pot filled with hot oil, the crackers are first put into a small pot on the side and then poured first with the boiling oil.
Tidak ada perlatan industri berskala bbesar disana, segalanya dimasak mnggunakan kayu bakar dan tungku yang terbuat dari tanah yang sudah cukup padat. Proses penggorengan kerupuk Jangek ini tergolong unik, sebelum kerupuk di tuang dalam belanga yang berisi minyak panas, terlebih dahulu kerupuk di masukkan ke belanga kecil yang ada disamping untuk selanjutnya disiram terlebih dahulu dengan minyak yang sudah mendidih tersebut.
When the crackers start to expand, they are then poured into a large pot, and it doesn't take a long time to brew Jangek crackers which are already fried and ready to be packaged. This interesting experience is one of the things that is very fun, especially when the object happened to be found there. The existence of Jangek crackers amidst various imported and modern food products is my entry for the Monomad Challenge this time, I hope you will enjoy it this time.
Ketika Kerupuk mulai mengembang, baru selanjutnya dituangkan dalam belanga besar, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyeduh Kerupuk Jangek yang telah usai digoreng serta siap di paketkan. Pengalaman menarik ini menjadi salah satu hal yang sangat menyenangkan, apalagi objeknya kebetulan ditemukan disana. Eksistensi Kerupuk Jangek ditengah berbagai produk makanan import dan modern menjadi entry saya untuk monomad challenge kali ini, semoga teman-teman meikmatinya kali ini.