Beberapa siswa perempuan mendekat ke lapak kaki limaku. Mata anak-anak remaja yang kutaksir berusia belasan tahun itu asyik menyasar buku-buku yang berjejer di hadapan mereka. Ketertarikan mereka lebih pada buku-buku genre sastra ketimbang buku-buku non-fiksi.
"Wah, ada buku Tolstoy. Pasti menarik", seru salah seorang siswa itu kepada teman-temannya. "Berapa ini, Pak?", ia menunjuk buku Masa Remaja, karangan sastrawan masyhur Rusia Leo Tolstoy. "Lima puluh ribu, Dek", kataku. Terbersit rasa kagum, karena biasanya, anak-anak seusia itu paling-paling cuma kenal Andrea Hirata, atau kalau tidak, Tere Liye.
Secara tidak sabar, dia merobek plastik segel buku itu, sembari mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari saku. Buku itu jadi dibelinya.
Selang tidak berapa lama, seorang siswa laki-laki yang mendekat ke lapak. Berbeda dengan anak-anak perempuan sebelumnya yang lebih tertarik dengan buku-buku fiksi, anak ini lebih tertarik memelototi buku-buku sejarah. Sebuah buku berjudul Korupsi Dalam Silang Sejarah Indonesia: Dari Daendels (1808-1811) Sampai Era Reformasi, karya Peter Carey, dkk, diamatinya lama-lama. "Ini berapa harganya, Bang"? Tanyanya sungguh-sungguh. "Seratus lima puluh ribu" jawab teman sebelahku. Setelah puas membolak balik buku itu, dia berlalu tanpa mengucap sepatah katapun.
Tidak sampai sepuluh menit, anak itu kembali lagi. Buku karya Peter Carey, dkk, itu dipegangnya lagi. "Bang, yang betul buku ini berapa harganya?" Sepertinya buku yang membahas tentang sejarah korupsi di Indonesia itu telah memikat minatnya. "Seratus empat puluh lima ribu, Dek. Itu buku bagus, Dek", aku meyakinkannya. "Mahal ya, Bang." Katanya lagi. Dia berlalu lagi, kali ini seperti membawa rasa kecewa. Aku paham, harga sebegitu mungkin terlalu mahal buat seorang anak SMA. Kalau saja harganya tiga puluh ribuan, aku ingin memberinya secara gratis.
Kira-kira satu jam kemudian, dia muncul lagi. Kali ini menggandeng tangan seorang bapak-bapak. Aku mengenal pria itu, dia adalah seorang 'Maha Guru' di sebuah kampus perguruan tinggi negeri di kota ini. Rupanya, 'Maha Guru' itu bapaknya anak yang tadi. Mereka terlihat berswafoto membelakangi spanduk kegiatan bedah buku, acara di mana aku dan kawanku menggelar lapak buku.
Setelah puas berswafoto, dua laki-laki anak dan bapak itu datang menyamperi lapak. Kawanku segera menyapa 'Sang Maha Guru', kami berdua menyalaminya. Setelah berbasa-basi, kawanku dengan sengaja memberitahu 'Sang Maha Guru' bahwa anaknya tadi ingin membeli sebuah buku, sembari menunjukkan bukunya. Tapi 'Sang Maha Guru' terlihat seperti tidak mengacuhkannya, sampai dua kali seperti pura-pura tidak mendengar, "bagaimana? gimana?". Anaknya lansung menyela pembicaraan, "tidak, tadi cuma tanya-tanya saja". 'Sang Maha Guru' pun lansung pamit bersama anaknya, anaknya yang sekali lagi tampak membawa rasa kecewa.
"Kau lihat, Nas" Aku menoleh pada teman sebelahku, "padahal baru saja tadi dia memberi ceramah kepada hadirin tentang manfaat literasi, literasi, dan literasi. Anaknya sendiri ingin beli buku, bukan sembarang buku, tentang korupsi pula. Bukan main aku kagum sama anak itu, tapi bapaknya, seorang 'Maha Guru malah tidak mengacuhkannya. Jadi, kata-kata literasi yang keluar dari mulutnya yang berbusa-busa itu sekarang terngiang-ngiang seperti terasi ditelingaku", sontak saja ocehanku itu bikin temanku terbahak.
Inilah sepenggel cerita remeh-temeh kemarin ketika aku dan kawanku menggelar lapak buku dalam sebuah acara Peluncuran dan Bedah Buku di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe.