SETELAH BERTAHUN-TAHUN aku berselibat dalam dunia maya, jejaringan dunia online, pada tahun 2015 pikiranku terasa lebih cerlang hingga bisa bersepaham: Sungguh meruginya aku sekira tak memanfaatkan dunia seterbuka ini untuk sesuatu yang bisa menghasilkan. Sesuatu yang bisa diuangkan. Hitung-hitung—kenapa tidak?—jadi semacam tempat pelarian terbaik dalam mengais rezeki. Terlebih jika mengingat ruang-ruang kerja berpenghasilan di dunia nyata hampir semuanya telah diokupasi oleh mereka yang pragmatis, oportunis, korup, nepotis, dan sebangsa sifat-sifat celaka lainnya.
Adalah anjuran seorang teman yang membuat pikiranku lega waktu itu. Terutama lega dari prasangka-prasangka buruk akan nasibku sendiri ketika berpikir betapa menganggurnya aku. Betapa useless dan kerenya aku di tahun-tahun penuh piutang itu. Oleh sebab si teman ini telah bertungkus lumus di dunia desain grafis sedari tamat SMA, yang dianjurkannya padaku adalah mengikuti jejaknya. "Kau cukup punya tekad belajar saja. Urusan lain serahkan padaku," cecarnya tatkala ia sudah benar-benar muak melihat penderitaan yang kualami oleh sebab mengidap penyakit kere berkepanjangan.
Mendengar cercaan si teman, aku merasa punya pengharapan baru. Apalagi ketika mendengar iming-iming hasil dari kerja-kerja desain grafis yang telah digeluti si teman lebih dari sewindu itu membuat hidupnya serba berkecukupan. Tak pernah kekurangan uang. Dan—ini paling penting: punya gaji bulanan meski dalam dua tahunan ini kerjanya cuma tidur, bangun, makan, dan berak belaka. "Tapi apakah kau akan mengajakku kerja di studio sablon? Ngedesain spanduk, stiker atau mug?" Aku bertanya padanya dengan keculunan seorang pesakitan oleh sebab dera kemiskinan yang tak berkesudahan. Ia tertawa. Terbahak-bahak. Terhibur sekaligus kasihan.
"Yang penting mau belajar nggak?"
"Mau!"
"Oke. Besok kita cari laptop yang bisa install Adobe InDesign, Photoshop dan Illustrator sekalian."
"Cari di mana?," tanyaku bingung. Sampai di sini, lama hidup tanpa penghasilan jelas membuat nalarku tumpul setumpul-tumpulnya. Aku sama sekali tidak bisa memaknai maksud tersirat dari kata 'cari' dari kalimat pernyataan si teman tadi. Dan sekali lagi aku ditertawainya sambil ia jawab, "Ya cari di tempat jualan komputerlah. Masa cari di ET?" ET yang dimaksudnya adalah nama toko pakaian dalam perempuan kesohor di Banda Aceh.
"Uangnya?"
"Kan sudah kubilang. Asal kau mau belajar. Lainnya urusanku," jawabnya bersungguh-sungguh sambil menatap mataku lekat-lekat.
Aku terpana. Keterpanaan ini berlanjut esok harinya, tepat ketika aku dan si teman tengah berhadapan dengan kasir toko komputer di bilangan Jambo Tape, Banda Aceh. Di meja kasir, teronggok satu unit laptop baru merk Lenovo yang detil spesifikasinya aku lupa. "Bisa gesek debit, ya?" tanya si teman pada kasir. "Bisa," jawab kasir antusias. Keterpanaanku berubah: haru. Keharuan yang kental. Bibirku menyungging senyum, sementara benakku seketika saja menanggung rasa syukur yang mendalam, yang dalam waktu bersamaan tanggungan itu tertimpuk dengan pertanyaan, "Bagaimana aku membalas budi tulus begini macam?"
"Tenang. Aku tidak beliin kau laptop ini gratis, kok. Aku belum sesufi itu. Tak usah terbeban begitu juga. Kau pakai saja dulu laptop ini. Belajar desain. Bikin produk. Buka akun di platform toko online. Upload. Nanti kalau sudah punya pemasukan, kau boleh cicil balik uang beli laptop hari ini." Terang si teman padaku beberapa saat keluar dari toko komputer.
Aku ingat, peristiwa yang mengharu biru itu terjadi pada Agustus 2015. Sejak memiliki laptop hasil talangan penuh si teman, aku benar-benar belajar desain grafis. Tentu saja belajar padanya. Belajar mengoperasikan Adobe InDesign, Photoshop, minus Illustrator. Darinya aku jadi tahu desain grafis itu tak hanya berkutat pada urusan bikin-bikin desain spanduk belaka, tapi membuat tata letak (nge-layout) sebuah buku, majalah, koran, brosur, dan sejenisnya adalah bagian dari dunia desain grafis juga. Dan menurutnya, di antara banyak bagian dunia desain grafis, nge-layout adalah bagian yang agak sedikit gampangan ketimbang membuat logo, bikin font, dan lain sebagainya.
Setelah belasan kali cobal gagal-coba gagal, akhirnya aku membuat akun di satu platform jual beli produk desain grafis di jagad maya. https://graphicriver.net/user/bookrak/portfolio. Ini yang pertama. Beberapa bulan kemudian, tepatnya setelah menyadari beberapa produk print template bikinanku ternyata ada peminatnya juga, aku memberanikan diri untuk buka akun juga di sini: https://creativemarket.com/bookrak. Syukurnya, uang beli laptop dari si teman—kalau tidak salah ingat—terbayar lunas di tahun ke tiga.
Berikut adalah contoh alakadar beberapa hasil desain layoutan yang telah kubuat. Selebihnya boleh cek sendiri dalam link sematan di atas. Omong punya omong, ihwal nama akun di platform Hive ini adalah merujuk pada nama akun produk desain grafisku di beberapa situs jualan online yang ada. Nyan ban!
Sumber gambar:
1 https://creativemarket.com/bookrak/4253023-Minimalive-Magazine
4-5 https://creativemarket.com/bookrak/4754066-A5-Recipe-Book
6 https://creativemarket.com/bookrak/4781261-Photography-Trifold