O my generation,
It has become common knowledge, we are experiencing a leadership crisis. The reason is there is no regeneration by our parents and the strength of them is killing character and green generation access to the economy is closed.
We lose a generation that is not "connected," so that the top does not bud and the bottom does not take root. The current generation is a generation that builds its own creation that is not a cadre of the previous generation. All this time we have been tricked by "Old Man" in language, "If I become an official, you are thin." They play with the word "I take care" to "thin."
Forget them! Let's write our own screenplay that tells the story of the current generation building the next generation. Our generation is not a patronizing generation, but support for the next generation who not only cadre, but also give birth to good politicians, good scientists, good bureaucrats, good businessmen, good police officers, good soldiers, good judges, good prosecutors good, good writer, good artist, good sportsman, even a good thug.
For me, in overcoming the crisis of figures and leaders, we must not be too sectarian. If there are Arabs, Chinese, Europeans, even if I really want to improve this country, I will accept it gracefully. We must make peace with a situation that if we let it be like a frog in a crumpled shell.
Based on this circumstance, we can claim that the current generation is a self-growing generation. The generation that was cut off from the previous generation from the point of cadre became an ordinary person. We can accuse them of "killing" the seeds of creativity of the current generation because they do not want and are jealous to see that their generation is smarter, more networked, more rank, richer, more praised, more creative, and more loved by the community.
Watch out for the rise of "old man" to sacrifice the green generation back is very important. Their character can't possibly change by always chanting "old song". We need to be entertained by the beauty of hearing "new songs" that do not deceive and do not make us a bridge to success, but after reaching the other side, we break up.
Giving them a chance means legalizing the "killing" of the next generation. It's enough experience of one generation period that averse to mediocrity has been lost. Do not let our two generations become a crisis of leadership.
If you have time to repeat, then we have to undergo a curse that "donkey did not fall into the same hole." Of course, as a human with reason must be ashamed to fall into the snare that was built "old man."
To "Old Man" never mind. Get some rest Lots of wind outside. Keep your health and keep your distance from not leading back. In fact, we are bored with the story of division and your true blasphemy that must be covered up. This is the age of the "Google Map" that guides the green generation to a direct address. Use the application "Old Man" so that you don't get too far astray.
The track record will not be lost. Each of us is wide open to learn it. Eliminate figure fanaticism as if without "Old Man" we do not exist and can not afford. This country should be led by an energetic generation today. Never again should the leadership of this country be given to people who claim to be "genuine descendants" but sell their territory with a piece of gold.
Mendale,Aceh Sumatra, Indonesia
BAHASA INDONESIA
SAYA OGAH JADI ORANG YANG BIASA-BIASA SAJA
Wahai generasiku,
Sudah menjadi pengetahuan bersama, kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Penyebabnya adalah tidak ada regenerasi oleh orang-orang tua kita dan kuatnya di antara mereka melakukan pembunuhan karakter serta akses generasi hijau kepada ekonomi ditutup.
Kita kehilangan satu generasi yang tidak “nyambung,” sehingga ke atas tidak berpucuk dan ke bawah tidak berakar. Generasi sekarang adalah generasi yang membangun kreatifitasnya sendiri yang bukan kader dari generasi sebelumnya. Selama ini kita diperdaya “Pak Tua” dengan bahasa, “Kalau saya jadi pejabat, kamu kurus.” Mereka bermain dengan kata “ku urus” menjadi “kurus.”
Lupakanlah mereka! Mari kita menulis skenario film kita sendiri yang bercerita tentang generasi sekarang membangun generasi berikutnya. Generasi kita bukan generasi yang menggurui, tapi support kepada generasi berikutnya yang tidak saja mengkader, tetapi juga melahirkan politisi yang baik, ilmuwan yang baik, birokrat yang baik, pengusaha yang baik, polisi yang baik, tentara yang baik, hakim yang baik, jaksa yang baik, penulis yang baik, seniman yang baik, olah ragawan yang baik, bahkan preman yang baik.
Bagi saya, dalam mengatasi krisis tokoh dan pemimpin ini, kita jangan terlalu sektarian. Kalau ada orang Arab, China, Eropa sekalipun kalau benar-benar akan memperbaiki negeri ini akan saya terima dengan lapang dada. Kita harus berdamai dengan situasi yang kalau kita biarkan akan seperti katak dalam tempurung yang terpuruk.
Berdasarkan keadaan ini, kita bisa klaim generasi sekarang adalah generasi yang tumbuh sendiri. Generasi yang terputus dari generasi sebelumnya dari sudut pengkaderan menjadi orang yang tidak biasa-biasa saja. Kita bisa menuduh mereka “membunuh” bibit kreatifitas generasi kini karena tidak ingin dan iri melihat kalau generasinya lebih pinter, lebih berjaringan, lebih berpangkat, lebih kaya, lebih dipuji, lebih berkarya, dan lebih dicintai masyarakat.
Mewaspadai kebangkitan “Pak tua” untuk mengorbankan generasi hijau kembali sangat penting. Karakter mereka tidak mungkin berubah dengan selalu berdendang “lagu lama”. Kita perlu hiburan indahnya mendengar “lagu baru” yang tidak menipu dan tidak menjadikan kita sebagai jembatan untuk kesuksesannya, namun setelah sampai ke seberang lalu memutusnya.
Memberikan kesempatan kepada mereka berarti melegalkan kembali “pembunuhan” terhadap generasi berikutnya. Sudah cukup pengalaman satu periode generasi yang ogah biasa-biasa saja telah hilang. Jangan sampai dua generasi kita menjadi krisis kepemimpinan. Kalau sempat berulang, maka kita telah menjalani kutukan yang “keledai pun tidak jatuh ke lubang yang sama.” Tentu saja sebagai manusia yang berakal budi harus malu jatuh ke jerat yang dibangun “Pak tua.”
Kepada “Pak Tua” pun sudahlah. Istirahatlah! Di luar banyak angin. Jaga kesehatan dan jaga jarak untuk tidak memimpin kembali. Sesungguhnya kami bosan dengan cerita pemekaran dan klenikmu yang sebenarnya aib yang harus ditutupi. Ini zaman “google map” yang menuntun generasi hijau ke alamat langsung. Pakailah aplikasi itu “Pak Tua” agar jangan terlalu jauh tersesat.
Rekam jejak tidak akan hilang. Setiap kita terbuka lebar mempelajarinya. Hilangkan fanatisme ketokohan yang seolah tanpa “Pak Tua” kita tidak ada dan tidak mampu. Negeri ini sudah patut dipimpin oleh generasi yang energik pada zaman ini. Jangan pernah lagi kepemimpinan negeri ini diberikan kepada orang yang mengaku “turunan asli” tetapi menjualnya daerahnya dengan sekeping emas.
Mendale, Aceh Sumatra, Indonesia