Saya tidak pernah nyantri [istilah melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren terpadu], namun beberapa dari keluarga merupakan alumni sejumlah Dayah terpadu yang berada di provinsi Aceh, Indonesia. Dari sejumlah pengalaman dan cerita mereka, ternyata kehidupan di dalam penjara suci yang istilah kerennya dikenal nyantri itu ternyata beragam cerita yang menyenangkan juga memilukan.
Hari pertama diantar oleh keluarga ke Dayah tentu menjadi cerita pembuka, ya ada beragam kisah disana, ada yang senang, juga ada yang menangis karena tidak ingin ditinggalkan oleh orang tua mereka yang mengantarkan anak-anaknya ke pondok pesantren. Salah seorang keponakan saya misalnya, ibunya terpaksa menginap di rumah salah seorang guru di pesantren tersebut dikarenakan tidak diperbolehkan pulang oleh anaknya itu.
Masa orientasi siswa di dayah juga sering menjadi perhatian, banyak dari kakak kelas yang mengadopsi ospek gaya militer, suara keras dan bentakan sering membuat anak-anak baru yang ditinggalkan oleh orang tua mereka diperkenalkan dengan mental yang mandiri. Pasal satu kakak kelas tidak pernah bersalah, Pasal dua, jika kakak kelas bersalah maka kembali ke pasal satu. Mungkin prasa itu yang paling popular dikalangan anak-anak santri yang baru saja diperkenalkan dengan lingkungan pesantren.
Kehidupan sebagai santri tentu berbeda dengan mereka yang bersekolah di sekolah reguler lainnya, di pondok pesantren setiap hari jadwal mereka telah diatur oleh management dayah sedang rapi dan harus dilaksanakan jika tidak ingin mendapat sanksi. Mulai dari bangun shalat shubuh, makan pagi, masuk kelas dan belajar, hingga waktu mandi dan juga bermain. Dalam 24 jam sehari mereka akan disuguhkan sejumlah aturan dan jadwal yang padat, bahakan jika ada keluarga ynag ingin berkunjung biasanya hanya diperkenankan sebulan sekali, atau bahkan ada yang 3 bulan hanya bisa dapat dikunjungi keluarga mereka sebanyak 1 kali, tentu saja itu tergantung aturan yang berlaku di masing-masing pondok pesantren.
Ada satu poin yang saya tangkap setelah mendengarkan sejumlah cerita mereka, pandai-pandailah membangun hubungan dengan kakak kelas. Ini adalah salah satu rumus yang mujarab agar kamu jika mondok itu tidak selalu mendapatkan sanksi dan bahkan bisa mendapatkan perlakuan khusus. Caranya gampang, jika datang kiriman dari kampung halaman, cari kakak kelas yang memiliki pengaruh di lingkungan pondok pesantren, berbaur dengan mereka dan manfaatkan sejumlah kiriman tadi dari kampung untuk sedikit bernepotisme dengan mereka. Jika hal itu terus menerus dilakukan maka si kakak kelas merasa kamu sebagai bahagian dari saudaranya dan pasti Ia akan selalau membela kamu jika kamu mendapat masalah dari kakak kelas yang lainnya.
Masa liburan dan pulang kampung adalah satu hal yang dinanti-nantikan, disana kamu pasti sudah ditunggu oleh sejumlah family. Apalagi moment liburan panjang semisal, liburan Ramadhan dan Idul fitri, sudah pasti akan banyak hadiah untuk kamu yang bersekolah sebagai santri, mulai dari uang saku, sarung baru, mukena baru, bahakan hingga makanan yang disiapkan untuk kamu ketika hendak kembali ke pondok pesantren nanti. Nah, itulah sejumlah pengalaman yang dapat saya bagikan bersama teman-teman Hivers berdasarkan cerita dari keponakan saya tadi.
MANY THANKS FOR LOVING IT