Banyak sekali masalah yang didatangkan dari kata berhutang yang saya tahu selama hidup. Dari saya kecil sampai saya dewasa hutang hanya mengakibatkan banyak penambahan masalah dibandingkan memberikan solusi. Memang kehadiran kata berhutang itu pada awalnya memberikan angin segar bagi yang membutuhkan. Tapi sayangnya banyak dilakukan dan dibuat untuk memenuhi keinginan nafsu semata dibanding kata butuh sebenarnya, dan diadakan karena menarik akan keuntungan yang besar dari kata keberadaan bunga atau laba yang dihasilkan dari penyediaan dana hutang.
Gali lobang tutup lobang, ini sebuah kalimat yang sudah tercipta lama karena keberadaan akibat berhutang. Pada awalnya berhutang hanya untuk kebutuhan yang mendesak, namun lambat laun menjadi kebiasaan dan keasyikan yang pada akhirnya menjebak pada kesulitan yang lebih besar.
Faktor apa yang hadir akan kondisi berhutang sebenarnya? Kalau bisa dijawab secara global adalah kemudahan menyelesaikan masalah finansial yang sedang dihadapi. Dan akhirnya menciptakan ruang lingkup berhutang lebih banyak lagi dari masalah kebutuhan yang sebenarnya. Kalau dari segi yang besar, masalah berhutang mungkin kata berhutang sangat identik dengan kondisi suatu perusahaan dengan harapan akan mudah menjalani kebutuhan awal akan pemenuhan pelaksanaan jalannya perusahaan berjalan dengan baik. Lalu untuk masalah individu adalah karena kecenderungan pemenuhan skala waktu, dimana penghasilan tetap tidak mencukupi sehingga untuk mencukupi dilakukan dari cara berhutang terlebih dahulu dengan harapan akan terbayarkan nantinya.
Dari kebanyakan yang ada, kenyataannya lebih banyak kata berhutang bukan berdasarkan kebutuhan melainkan pemenuhan akan pengjaran kata kepuasaan dan ketenangan semata. Masalah ini semakin besar dan semakin menjadikan masalah yang pelik akibat kondisi pengharapan yang terlalu berambisi. Apakah berhutang dibenarkan jika dipikirkan secara matang dan secara kebutuhan sebenarnya? Jawabannya tentu iya, karena ini salah satu bentukan cara yang dinilai dan dihasilkan untuk keberadaan manusia antar manusia saling membantu. Namun sayangnya, kondisi ini dimanfaatkan bagi sebagian pihak untuk mencari keuntungan semata baik yang berhutang maupun yang memberikan hutang.
Pada akhirnya, masalah dari inidividu lalu beranjakpada perusahaan, lalu beranjak pada yang lebih besar lagi dan berkelanjutan kepada kondisi kebiasaan akan cara ini. Ekonomipun pincang dari masalah berhutang, ketakutan dan keserakahan timbul. Masalah dari kata kebutuhan yang dinilai baik namun menjadi buruk karena sifat manusia yang ingin cepat dan dipandang. Cepat selesai, cepat kaya, dipandang terbaik, dipandang ada, dipandang maju.
-===-