Empati dan simpati bisa dikatakan sangat begitu tipis artian serta jenis implementasinya. Kita tanpa sadar terkadang sering mencampur adukkan kedua hal tersebut menjadi satu kesatuan dalam arti dan juga penggunaannya. Apalagi jika sering dihadapkan kepada situasi yang sedang dihadapkan untuk menempatkan empati dan simpati ini. Terkadang kita yang memiliki perasaan yang begitu peka harus diingatkann oleh teman atau keluarga ketika ada permasalahan yang sedang dihadapkan akan kebutuhan kedua hal tersebut. Ketika melihat pengemis, orang yang berhutang, atau seseorang yang terkena suatu masalah, emosi kita terkadang akan ikut larut dengan suasana tersebut.
Kali ini saya ingin engulas akan kedua masalah tersebut. Bagaimanakah berempati dan bersimpati yang benar.
Saya mencoba mengangkat isu yang terjadi disekitar kita terkait dengan situasi pandemi sekarang adalah tingkat stressor setiap orang terutama yang terkena dampak akan kondisi keberadaan ekonomi yang sedang dalam masalah ekonomi secara global.
Sekilas mendengar curhatan pada orang-orang disekitar. Apalagi secara kebetulan kita saat ini memang sedang dalam kondisi menhadapi keadaan resesi ekonomi ketakutannya. Ungkapan ketidak sanggupan menjalani hidup. Setiap orang pasti keinginannya menjalani kehidupan secara baik, normal dan tanpa masalah.
Mirisnya terkadang dari ketidaksanggupan tersebut sebenarnya berasal dari ketidak siapan ataupun pola kebiasaan, apalagi karena ketidak sadaran akan kata berusaha. Situasi pandemi dan ekonomi bak buah simalakama. Tak ayal imbasnya ada pada semua orang. Bukannya menciptakan bonding dengan sikaya dan simiskin, namun memang yang lebih terasa akan imbasnya tentu akanterlihat adalah yang dikatakan simiskin itu.
Tak seharusnya menyalahkan orang lain, atau keberadaan sikaya. Percayalah...para sikayapun tidak menyukai situasi demikian, merekapun ingin agar masalah resesi dan pandemi juga bisa cepat berlalu. Mengapa? karena kenyataannya mereka juga manusia. Kondisi mereka mungkin tidak sesulit seperti apa yang dijalani akan kondisi simiskin. Namun permasalahan mereka tentunya lebih banyak dihadapi dalam kondisi seperti ini dibanding simiskin. Seperti memikirkan pengeluaran bulanan, besaran kerugian, kebiasaan dan serta ketenangan akan kondisi bisa beriatirahat.
Ujung tonggaknya benar ada pada kesadaran diri sendiri. Bagaimana menyikapi proses yang terjadi selama pandemi dan masa inflasi ini. Bagaimana kita belajar mengelola emosi, dan juga mengelola diri secara baik dan benar. Untuk kondisi yang diharapkan memiliki inovasi yang mumpuni dalam proses menjalani dalam situasi yang sedang dihadapi. Apakah dengan menggunakan metode-metode yang ada dan banyak dibagikan untuk dapat menghadapi masa ini, atau dengan sesuatu hal yang bisa dikerjakan untukmerubah pola akan kebiasan yang biasa dilakukan dalam keseharian.
Hal yang sama tentu juga diharapkan dari setiap Pemerintah. Dengan mengubah sistem yang ada untuk bisa dilalui dengan baik dan benar tentunya. Pemerintah pasti dengan sigap memiliki terobosan untuk menyiapkan kondisi yang sedang terjadi. Dengan harapan rakyat tidak merasa terbebani dalam menjalani kondisi yang sedang dihadapi.
-===-